
Naura menarik tangan Afia, "Ada apa itu ribut-ribut Fia? aku dengar itu suara ibu".
"Fia juga enggak tau kak".
"Ikh, bukanya kamu barusan dari sana? gimana sih. Coba kamu lihat sana, aku takut terjadi apa-apa dengan ibu dan ayah. Ayo buruan".
"Kenapa tidak kak Naura saja? hari ini Fia lelah, kalau kak Naura penasaran, kakak tinggal keluar saja apa yang terjadi antara ibu dan ayah".
"Anak ini?" kaget Naura melihat Afia sedikit melawannya. "Kamu benar-benar enggak mau?".
"Mmmmm, pergilah".
"Ikh aku juga enggak mau ikut campur urusan ibu dan ayah" Naura pun kembali melanjutkan komunikasinya dengan sang ke kasih. Kemudian Afia menyambar ponselnya, ia mendapatkan sebuah notifikasi dari Hendry.
"Sayang, aku sudah mengirim uangnya di rekening kamu. Terima kasih".
Afia tersenyum membalas pesan Hendry sang kekasih, "Iya, sama-sama. Lalu bagaimana keadaan teman kamu itu? apa dia baik-baik saja?".
"Dia baik-baik saja".
"Syukurlah" gumam Afia membuat Naura melirik kearahnya.
"Chetan sama siapa kamu?".
"Teman kak".
"Pria itu?".
"Mmmmm".
"Astaga, kamu benar-benar enggak bisa dibilangin yah Fia. Mau sampai kapan lagi kamu masih mempertahankan pria seperti dia itu?".
"Kakak apa sih? aku ajah tidak pernah mencampuri urusan hubungan kak Naura dengan pacar kakak, kenapa kakak memaksakan sekali kehendak kakak?".
"Wah.. Kamu sudah berani melawan yah Fia sejak kamu mengenal pri..
BBRRAAKK!
"Astaga" kaget Naura melihat ke ambang pintu. "A-ayah.. A-ada apa ayah?".
"Kamu ikut ayah" jawab Darius menarik tangannya.
__ADS_1
"Ayah mau membawa Naura kemana?".
"Tidak usah banyak tany.." gantung Darius melihat istrinya berdiri di hadapannya dengan benda tajam di tangan kanannya. "Apa yang sedang kamu lakukan?".
"Lepaskan tangan putri ku. Kamu tidak punya hak membawa dia pergi dari rumah ini. Cepat!".
"Apa? putri mu? hahahah.. Jangan salah, dia juga putri ku, putri kita berdua, jadi aku akan membawa Naura pergi dari rumah ini. Kamu bisa tinggal bersama dengan Afia".
"Aku sudah mengingatkan kamu, selangkah saja kamu membawa Naura dari hadapan ku, jangan salahkan aku akan membunuh mu. Lebih baik manusia seperti kamu mati saja dari pada harus berkeliaran di hidup kami. Sekarang lepaskan tangan Naura".
Naura pun langsung menangis, "Ibu hiks.. Tolong selamatkan Naura bu, Naura tidak mau ikut ayah hiks.. hiks...".
Kemudian Afia menarik tangan Naura dari belakang, "Ayah, tolong lepaskan tangan kak Naura, ayah bisa menyakiti dia".
"Minggir!" bentak Darius hendak mendorong tubuh Afia terpental dia atas lantai. Namun tidak sampai disana, Afia yang tidak terima dengan perlakukan kasar Darius, ia pun segera mendorong Darius sambil mengigit tangan kanannya hingga pergelangan tangan Naura terlepas. "Aarrkkhh".
BBRRAAKK...!
"Afia!" kaget sang ibu melihat putrinya itu terkena pukulan Darius yang cukup kuat. Hingga membuat Afia jatuh pingsan "Kamu!" teriaknya. "Sekarang kamu pergi dari rumah ini. Pergi sebelum aku benar-benar akan membunuh mu".
Dengan kesal, Darius pun langsung pergi dari rumah tersebut meninggalkan mereka. Kemudian ibunya membawa Afia masuk kedalam kamar di bantu oleh Naura, "Ibu, apa Afia tidak sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja? lihatlah kepala Afia yang terluka, dia berdarah ibu".
"Baik bu" angguk Naura segera menghubungi rumah sakit terdekat rumahnya.
Tidak menunggu beberapa lama, ambulans tersebut telah berada di depan rumah, beberapa petugas medis segera membantu mereka membawa Afia masuk kedalam mobil ambulans. Setelah itu mereka pergi menuju kerumah sakit. "Ibu, apa Afia akan baik-baik saja?" tanya Naura dengan khawatir.
"Kita berdoa saja Na semoga adik kamu baik-baik saja" angguk sang ibu menggenggam tangannya.
"Semoga bu, Naura takut kalau sesuatu terjadi kepadanya".
"Mmmmmm".
Hingga kini mereka telah tiba di rumah sakit, para suster dan dokter yang bertugas disana langsung memberi pertolongan pertama kepada Afia yang telah kehilangan cukup banyak darah. Kemudian sang ibu yang melihatnya dengan penuh kegelisahan, tidak berhenti untuk mendoakan sang putri agar ia baik-baik saja. "Ibu" panggil Naura.
"Ada apa Na?".
"Jangan khawatir bu, Afia pasti baik-baik saja. Tapi bu, kenapa aku seperti mengenal pria yang ada disana. Coba ibu lihat deh, itu bukannya pacar Afia yah?".
Sang ibu pun langsung melihat kearah orang tersebut, dan benar sekali, ia juga melihat sosok pria yang pernah Afia bawa kerumah. "Iya, itu bukannya pria yang kemarin Afia bawa kerumah? sedang apa dia disini?".
"Sepertinya temannya sakit bu".
__ADS_1
"Mmmmm, tapi kenapa kamu memilih rumah sakit ini Naura?".
"Emang kenapa bu?".
"Kamu tidak tau kalau rumah sakit in..
"Hentikan bu. Yang penting Afia baik-baik saja di rawat dirumah sakit semewah ini. Kan jarang-jarang juga aku bisa masuk kerumah sakit sebesar ini seperti hotel bintang 5 heheheh".
"Astaga Naura!".
"Ck, maaf bu" tunduknya merasa bersalah tampa mereka sadari kalau saja Hendry tengah melihat kearah mereka berdua.
"Kamu sedang melihat siapa Hend?" tanya Abian melihatnya.
"Aku tidak tau aku salah lihat atau apa, kamu melihat kedua orang itu? sepertinya itu ibunya Afia dan saudara perempuannya. Sedang apa mereka disini?".
"Kalau kamu penasaran samperin saja".
"Oo, tunggu sebentar" Hendry pun berjalan mendekati Naura bersama dengan ibunya. "Permisi" panggilnya. "Permisi!" panggilnya lagi hingga pada akhirnya Naura dan ibunya melihat kearahnya. "Ternyata aku benar. Hallo bu".
"Kamu siapa?" tanya Naura dengan ketus.
Lalu Hendry tersenyum, "Temannya Afia yang kemarin berkunjung kerumah ibu" jawabnya.
"Teman atau pacar?" namun Hendry tidak menjawabnya, ia hanya memberikan senyuman manis. "Terus kamu sedang apa dirumah sakit ini?".
"Teman saya tadi sore kecelakaan, jadi saya datang kemari. Lalu bagaimana dengan ibu?".
"Afia terkena musibah, dan sekarang dokter sedang mengoperasinya di ruangan it..
"Apa?" kaget Hendry dengan mata membulat.
"Iya nak, kepala Afia tadi terkena bentu.." gantung ibunya Naura begitu Hendry berlari memasuki ruangan tersebut membuat pasien yang berada di sekitar mereka sedikit terkejut. "Naura dia mau keman.. Astaga, kenapa dia masuk kedalam?".
"Ais, sepertinya dia sudah gila yah" kesal Naura berjalan mendekati ruangan tersebut, tetapi Hendry yang kini berada di dalam tak kunjung-kunjung keluar membuat Naura keheranan, bagaimana bisa ia tidak keluar dari dalam sana. Kemudian Naura menghentikan salah satu suster yang baru saja lewat dari hadapannya, "Suster tunggu".
"Iya, ada yang bisa saya bantu?".
"Iya sus. Tadi seorang anak remaja berpakaian baju SMA masuk kedalam, sedangkan adik saya sedang menjalankan operasi kecil di dalam sana sus. Tapi kenapa orang itu tidak keluar-keluar juga sampai sekarang? apa yang sedang di lakukan di dalam sana? saya takut kalau orang itu..
"Oh orang itu" jawab si suster tersenyum pergi meninggalkan Naura membuat ia mengernyitkan dahi kebingungan dengan apa yang baru saja suster itu ucapkan.
__ADS_1