Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 23


__ADS_3

Melihat Afia memasuki kamarnya membuat Hendry menghentikan langkahnya, ia tidak mungkin memasuki kamar tersebut. "Kenapa? ayo masuk" ajak Afia.


"Tidak, aku tunggu di luar saja" jawab Hendry menolak.


"Ya sudah, ini kamar ayah ku. Kalau kamar ku yang sana, aku tidur bersama dengan saudara perempuan ku. Tunggu yah, aku mengambil pakaian mu dulu".


"Mmmm" angguk Hendry.


Tidak lama kemudian begitu Afia mengambil sepasang pakaian ayahnya, ia langsung memberikan ditangan Hendry. "Kamar mandi ada disana Hend, kamu mandilah duluan" dorongnya di punggung Hendry.


"Kenapa tidak kamu saja yang duluan Fia?".


"Tidak apa-apa. Ayo buruan" semakin dorong Afia di punggung Hendry.


"Kalau gitu aku mandi duluan" masuknya kedalam kamar mandi. Kemudian Afia menghampiri ibunya, ia melihat sang ibu sedang memanaskan makan malam untuknya yang sudah dingin. "Ibu, ayah belum pulang?".


"Iya, seperti biasa ayah kamu pasti di warung judi".


Afia menghela nafas, "Terus kak Naura dimana bu?".


"Kakak kamu ada di kamar".


"Oohh, ini teh Afia ya buk?"


"Iya, minumlah. Teman kamu dimana Fia?".


"Baru masuk kamar mandi bu. Mmmm, bu boleh Afia bertanya?".


"Nanya apa Fia?".


"Ibu menyukainya? soalnya Afia menyukainya dia bu ehehehe, dia anak yang baik yang pernah Afia temui".


Ibunya langsung tersenyum melihat Afia yang benar-benar sangat menyukai pria yang baru saja ia sebut itu, "Segitunya kah putri ibu menyukai pria itu?".


"Mmmm, tapi ibu jangan bilang-bilang sama dia yah. Fia malu".


"Iya, ibu tidak akan memberitah...


"Ada apa ini?" potong Naura keluar dari dalam kamar melihat Afia dan ibunya sedang membicarakan sesuatu yang tidak ia ketahui. "Ibu sama Afia sedang membicarakan apa?".


Ibunya tersenyum, "Tidak, ibu sama adik kamu tidak sedang membicarakan apa-apa. Ayo Fia mandi sana, dia sudah keluar".


"Ooo, wah.. Pakaian itu sangat cocok untuk mu Hend" jempol Afia melihatnya.

__ADS_1


"Benarkah? tapi sedikit kebesaran".


"Tidak apa-apa, yang penting kamu nyaman memakainya".


"Mmmmm" senyum Hendry dengan manis sampai membuat kedua pipi Afia merona hanya melihat senyuman Hendry saja, begitu juga dengan Naura yang tiba-tiba menyukai senyuman tersebut.


"Dia siapa?" tanya Naura.


"Dia teman satu kelas dan juga teman satu kerjaan Afia kak" jawabnya.


Naura tertawa, "Sial, ternyata masih brondong" gelengnya meminta kepada ibunya untuk di buatkan segelas susu hangat. Kemudian Afia memasuki kamar mandi, lalu ibunya menyuruh Hendry mendekat sambil memberinya segelas teh hangat. "Tunggu sebentar, aku sepetinya pernah melihat mu. Tapi dimana?" gumam Naura mengingat-ingat wajah Hendry yang sedikit familiar.


Hendry tersenyum tipis, "Di halte, aku pernah bertemu dengan mu di halte. Saat itu kamu menawarkan ku kamar kontrakan".


"Wah, ingatan mu luar biasa juga. Terus kamu tinggal dimana sekarang? jangan bilang Afia mengajak mu tinggal disini. Anak itu" kesal Naura menerima susu hangatnya.


"Tidak, aku hanya mengantarnya pulang kemari, aku tidak tega membiarkan Afia pulang sendiri di tengah hujan seperti ini".


Naura tertawa, "Yah, Afia sudah terbiasa pulang sendiri ditengah hujan seperti ini. Kalau kamu tidak percaya kamu tanya sendiri kepadanya. Lagian kamu baik sekali kepadanya, apa kamu menyukainya?".


"Mmmm, aku menyukainya" jawab Hendry tampa berpikir dua kali.


"Siapa?" bentak seorang dari belakang mereka.


Darius ayah dari Naura dan Afia berjalan mendekati mereka, ia menatap Hendry dengan tajam. "Kamu siapa?".


Hendry tersenyum, "Hallo om, kenalkan nama saya Hendry. Saya teman satu kelas Afia dan juga satu kerjanya" jawab Hendry menunduk sopan melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


Darius mengangkat kepala Hendry, ia menatapnya semakin tajam hendak ingin menelannya. Kemudian Hendry teringat akan kejadian yang pernah menimpa Afia saat Darius mengejarnya dengan ikat pinggangnya tepat di tengah jalan. Kemudian Larasati menghentikan Darius, "Ayah, jangan menakuti dia seperti itu" ucapnya.


"Diam" bentaknya. Lalu melihat Hendry kembali yang sama sekali tidak takut kepadanya, "Siapa nama mu?".


"Hendry om" jawabnya.


Sedangkan Afia yang baru keluar dari dalam kamar mandi membuatnya langsung ketakutan dan lebih memilih bersembunyi di balik tembok dari pada menghampiri mereka. Namun Hendry telah duluan melihatnya, ia terlihat sangat marah kepada Darius yang sedang menatapnya dengan tajam.


Kemudian Hendry tersenyum kembali, "Maaf om. Apa saya melakukan kesalahan sampai om melihat saya seperti ini?".


"Tadi saya mendengar percakapan kalian, apa kamu tidak tau diri?".


"Maksud om?".


Darius menyeringai melihatnya, "Kamu pikir karna kamu memiliki wajah seperti ini saya akan membiarkan mu mendekati putri ku? sebaiknya kamu tau diri dulu mendekati putri ku, dia bukalah wanita yang bisa kamu dekati dengan semudah itu. Sekarang kamu pergi dari rumah ini!".

__ADS_1


"Ayah ini sudah malam" ucap Larisa mencoba menghentikan Darius.


"Aku tidak perduli, cepat keluar dari rum..


"Ayah, jangan usir Hendry" Afia keluar dari persembunyiannya. Ia melihat Darius dengan wajah memohon supaya ia tidak mengusir Hendry pergi dari sana. "Afia mohon ayah, jangan usir Hendry dari rumah ini".


"Afia tidak apa-apa, kalau ayah mu mengusir ku dari sini, aku akan pergi".


"Jangan pergi Hend, ini sudah sangat malam dan hujan diluar juga belum berhenti".


"Lepaskan dia Afia" Bentak Darius.


"Tidak ayah, jangan usir dia ayah".


"Ayah tidak perduli. Cepat pergi dari rumah ku, dan jangan pernah dekati putri ku lagi. Dan kamu juga Fia, kalau sampai kamu ketahuan berteman dengannya lagi, ayah akan menghukum mu. Kamu mengerti?".


"Fia mohon ayah, Afia mohon jangan usir Hendry hiks" tangisnya memohon.


Hendry menghela nafas, ia melihat ibu Afia dan Naura yang hanya diam saja tidak bisa berkata apa untuk membantunya untuk tetap tinggal di rumah itu. "Kalau gitu Hendry pulang dulu tante, maaf sudah membuat kekacauan seperti ini".


"Hendry kamu tidak boleh pergi. Kamu mau naik apa pulang kerumah mu? ini sudah jam 12 malam".


"Jangan khawatirkan aku Afia, aku bisa menelpon teman ku datang kemari".


"Kamu berbohong, kamu pikir aku percaya?".


Kemudian Darius menarik Afia, "Sana pergi" usirnya.


"Mmmm, kalau gitu saya pergi dulu" pamitnya kepada mereka semua menyandang tasnya. Ia pun langsung keluar dari dalam rumah itu, kemudian Hendry mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang sedari tadi ia sembunyikan menghubungi nomor ketiga sahabatnya yang masih tersambung. "Hallo Chan, kamu dimana?".


"Dirumah, ada apa Hend?".


"Aku lagi di luar terjebak hujan Chan, bisakah kamu keluar sebentar? tadi aku menghubungi nomor Abian dan Dafa, sepertinya mereka sudah tidur".


"Mmmm, aku akan datang menjemput mu. Kamu dimana sekarang?".


"Di jalan xxx".


"Ok, aku akan segera kesana".


"Thank you Chan".


"Mmmmm".

__ADS_1


Hendry berlari keluar dari teras rumah Afia menuju tempat mereka tadi berhenti seturun dari dalam taksi.


__ADS_2