
"Hentikan itu, kamu pikir aku apa mengajak mu berpacaran. Lagian kamu juga mana mau berpacaran dengan ku".
Hendry tersenyum, "Yah, aku hanya bertanya kamu menyukai ku atau tidak, bukan aku tanya kamu mencintai ku".
"Ck, kali ini aku akan menutup kedua telinga ku, aku tidak akan mendengar mu, terserah kamu mau bilang apa".
Namun Hendry bukanlah orang yang bisa Afia bohongi, ia melihat kedua pipi Afia yang merona membuat ia langsung mengulum senyuman. "Afia, kamu mau berpacaran dengan ku?".
"Apa?".
"Kamu mau berpacaran dengan ku? tadi kamu mengatakan kepada ku kalau kita berdua adalah orang yang sama. Jadi maukah kamu berpacaran dengan ku".
Afia tersenyum, "Tidak Hend, aku tidak mau berpacaran dengan mu. Lebih baik aku menolak mu dari pada nantinya kamu menyesal".
"Kenapa? apa aku kurang tampan?".
"Tidak, kamu sangat tampan Hend. Tapi aku memiliki keluarga yang kurang harmonis, aku malu jika saatnya nanti kamu mengetahuinya".
"Emang kenapa dengan keluarga mu?".
"Aku memiliki ayah tiri, dia sangat kasar kepada ibuku dan dia.. Ah, sudahlah, aku sangat malu menceritakan itu kepada mu Hend. Ayo, sepertinya jam istirahat kita sudah selesai".
"Mmmm" Angguk Hendry memakai kaca matanya kembali dan juga tompelnya mengikuti Afia dari belakang. Begitu mereka sampai di dalam kelas, semua teman-teman kelasnya itu sudah berada diatas kursi mereka masing-masing.
"Cie.. Ada yang PDKT nih" ejek Fani melihat sinis kepada Afia dan Hendry.
"Hahahhaha" tawa mereka.
"Anak miskin sama anak miskin cocok sih" sambung Nesa. Setelah itu ia mengeleng kepala melihat Hendry yang sangat cupu membuat ia ingin muntah. "Sana pergi, menggangu penglihatan orang saja".
"Ayo Hend" tarik Afia ditangan Hendry. Ia melihat Hendry terlihat sangat kesal dan marah kepada mereka. "Jangan terbawa emosi kepada mereka, anggap saja kamu tidak mendengarnya mmmm".
Hendry berjalan duluan, ia langsung mendudukkan diri diatas kursinya dengan tangan mengepal. Lalu Hendry tidak melihat tasnya berada di dalam laci meja. "Kenapa Hend?".
"Tas ku" jawab Hendry.
"Astaga, mereka pasti membuang tas mu. Kamu tunggu disini" Afia berlari keluar dari raungan itu mencari tas Hendry di setiap tong sampah. Sedangkan Hendry melihat mereka tertawa puas begitu Afia berlari keluar dari dalam kelas.
Lalu Hendry berjala ke depan, ia melihat mereka masih tertawa. "Perhatian semua, siapa diantara kalian membuang tas ku?".
Tidak ada jawaban.
"Aku tanya sekali lagi, siapa diantara kalian yang sudah membuang tas ku?".
__ADS_1
"Yah anak baru, kamu siapa bertanya sama kami haahh?" Tanya Fani jijik.
"Ini peringatan, siapa yang sudah membuang tas ku?".
BBRRAAKK..
"Yah...!!" Bentaknya melihat Hendry. Lalu Fani mendekatinya, "Kamu pikir aku yang membuang tas murahan mu itu hhhmm?".
"Bisa jadi kamu, atau mere..
"Hendry aku menemukan tas mu" Potong Afia tersenyum senang mengangkat tasnya. "Untung saja aku cepat, kalau tidak kamu akan kehilangan tas ini. Inih" beri Afia ditangannya.
Hendry tersenyum, "Kamu mendapatkan tas itu dari mana?".
"Dari tong sampah. Tapi tas kamu enggak kotor kok, kamu lihat ini, enggak ada yang kotor kan?".
"Afia" Panggilnya.
"Kenapa Hend?".
"Sumur aku hidup baru kali ini aku merasa sangat terhina di perlakukan layaknya seperti binatang oleh mereka yang benar-benar ingin cari mati dengan Afia".
"Astaga bau sekali, Mmppmmm, kalian enggak merasa bau enggak gays?" Fani menyeringai, "Kalau kamu merasa, aku rasa itu jauh lebih bagus".
"Gays gays gays, kalian semua dengar itu enggak?" kaget Fani mendengar Afia mengajak Hendry berpacaran melihat mereka berdua. "Wah, ternyata kamu gatal juga yah. Tapi enggak salah juga sih kalau kalian berdua berpacaran, karna kalian sangat cocok satu sama lain, wanitanya miskin dan bodoh, sedangkan laki-laki polos atau gimana aku tidak tau. Bagaimana menurut kalian?".
"Kami setuju kalau kalian berdua pacaran, kalian sangat serasi" ucap mereka tertawa.
Kemudian Afia melihat Hendry mengusap tengkuknya yang memanas, ia benar-benar ingin sekali membunuh wanita yang berada dihadapannya itu karna sudah membangunkan singa jahat dalam hatinya. "Hendry jangan marah, aku mohon jangan marah" Sentuh Afia di tangannya.
Tidak lama kemudian guru yang mengajar di dalam kelas mereka telah masuk kedalam membawa materi pembelajaran mereka, "Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya melihat mereka.
"Tidak buk. Maaf" jawab Afia langsung membawa Hendry duduk.
.
Sepulang sekolah, Afia segera berangkat ketempat kerja bersama dengan Hendry menggunakan angkutan umum. Meskipun kurang nyaman, Hendry tetap memaksakan diri supaya nantinya ia akan terbiasa menggunakan bus.
"Hend, itu tempat duduk kosong" tunjuk Afia, namun saat ia hendak duduk dan Hendry. seseorang langsung menerobos masuk mendudukkan diri disana, "Yah, kita enggak jadi duduk Hend" Dengus Afia melihat wajah linglung Hendry. "Kamu seperti orang tidak pernah naik bus saja Hend".
"Kenapa?".
"Wajah mu terlihat linglung seperti itu".
__ADS_1
"Mmmm, aku tidak pernah naik bus".
"Kamu berbohong, bagaimana bisa kamu tidak pernah naik bus. Ada-ada saja".
"Aku mengatakan yang sebenarnya Afia".
"Iyalah, aku akan mempercayai mu. Kalau gitu, apa kamu tidak apa-apa berpegangan seperti ini?".
"Tidak apa-apa, kemarin aku pernah mencobanya sekali".
"Berarti kamu sudah pernah naik bus".
"Cuman sekali".
"Yang penting kamu pernah" tawanya.
Sesampainya mereka di halte dekat perusahaan, Hendry dan Afia turun dari dalam bus tersebut. Lalu mereka masuk melalui parkiran bawah tanah dimana ruangan mereka berada.
"Hend, ayo buruan. Sepertinya kita terlambat".
"Biarkan saja" tahan Hendry ditangan Afia. "Nanti kamu terjatuh, aku tidak mau kamu terluka".
Afia geleng kepala, "Kamu mau gaji kita berdua di potong hanya karna kita terlambat?".
"Tidak perduli, asalkan pacar ku ini tidak terluka" jawabnya menggenggam tangan Afia seperti sedang berkencan di tepi pantai.
"Astaga Hendry, apa kata orang nanti. Ayo lepaskan tangan ku".
"Tidak mau, aku tidak akan melepaskan tangan ini" Senyum Hendry menyukai tangan mungil itu.
"Yah, kamu menyukai ku?".
"Tidak, siapa bilang aku menyukai mu. Tapi kamu sendiri tadi yang mengajak ku berpacaran, dengan senang hati aku akan menjadi pacar mu sayang ku Afia" senang Hendry menarik hidungnya.
"Hendry hentikan, tadi itu aku hany..
"Aku tidak perduli Afia. Ayo" tariknya menggenggam tangan mungil itu semakin erat. "Aku sangat menyukai tangan ini, pasti akan sangat nikmat" Batin Hendry membayangkan 21++.
Begitu mereka tiba sana, Hendry dan Afia benar-benar sudah terlambat melihat rekan kerja mereka telah brifing seperti biasanya di pimpin oleh atasan mereka.
"Bagaimana ini Hendry, ayo lepaskan tangan ku" Hendry langsung melepaskan tangan Afia. Kemudian buk Eva memanggil mereka supaya mendekat. "Buk, maaf kami terlambat".
"Diamlah, kalian dengarkan saja apa yang bapak itu katakan".
__ADS_1
"Iya buk" angguk Afia fokus ke atasan mereka itu menyampaikan moral-moral penting saat berada di area.