
Tidak lama kemudian, mobil Chan pun langsung tiba disana, dengan cepat Hendry memasuki mobilnya. Ia melihat pakaian Hendry yang basah dan juga pakaian itu bukanlah pakaian yang selama ini Hendry pakai. "Kenapa?" tanyanya melihat Chan.
Chan tersenyum, "Pakaian siapa itu? dari mana kamu mendapatkannya?".
"Dari seseorang, ayo cepat jalankan mobil mu".
"Baiklah" Chan segera menjalankan mobilnya menuju hotel tempat Hendry tinggal. Tidak lama kemudian, mereka telah tiba disana, namun Chan memilih pulang kerumah dari pada menginap di apertemen Hendry.
"Kalau gitu terima kasih banyak Chan, hati-hati dijalan".
"Mmmm, aku pulang" begitu Chan menjalankan mobilnya, Hendry segera memasuki loby menuju lantai apartemennya yang berada di lantai 30.
Ceklek!
Hendry masuk kedalam, ia menyalakan semua lampu lalu berjalan kearah dapur mengambil sebotol air putih dan meneguknya sampai habis. Kemudian memasuki kamar tidurnya, menghempaskan tubuh itu, dengan nafas lelah Hendry menutup matanya dengan tangan kiri diatas kepala. Namun bukannya terlelap, ia malah kepikiran dengan Afia. Ia takut terjadi apa-apa dengannya.
.
Pagi harinya seperti biasa, Hendry kembali bersekolah di sekolah barunya menggunakan angkutan umum. Tetapi saat Hendry berada di dalam bus tersebut, ia lupa kalau ia tidak memiliki uang kes mengingat semalam ia membayar uang taksi.
Dengan kesal, Hendry menggerutu melihat mereka satu persatu. Ia tidak tau harus membayar ongkosnya dengan apa. Kemudian ia melihat siswa yang berada di sebelahnya, "Permisi" panggilnya.
"Iya" jawabnya melihat Hendry.
"Mmmm, boleh aku meminjam uang mu? aku rasa kita satu sekolah. Nanti aku akan membayar mu kembali".
"Tidak apa-apa, aku akan memberikan mu uang. Inih" ia memberikan uang 10 ribu ditangan Hendry. "Aku tidak memiliki cukup banyak uang, aku hanya bisa memberikan mu uang sebanyak itu dan kamu tidak usah mengembalikannya. Aku ikhlas memberinya".
Hendry tersenyum melihat uang tersebut, ia baru saja merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki uang dan meminjam uang kepada orang yang tidak ia kenal sama sekali. "Terima kasih, nanti aku akan membalas mu. Siapa nama mu?".
"Andrey".
"Andrey, thank you".
"Iya" angguk Andrey.
Sesampainya mereka disekolah, Hendry langsung membayar uang busnya dengan uang kes. Lalu keluar dari dalam bus tersebut, ia berjalan dengan santai memasuki gerbang sekolah meskipun siswa-siswi yang lainnya telah berlarian untuk tidak mendapatkan hukuman. "Ooo, Hendry" teriak Afia memanggilnya.
Hendry menghentikan langkah, ia membalikkan tubuhnya menghadap Afia yang baru saja memanggil namanya. "Hend, kamu baik-baik saja?".
Tersenyum, "Aku baik-baik saja. Bagaimana deng.." gantung Hendry begitu Afia menarik tangannya berlari kearah gerbang yang baru saja tertutup.
"Yah, kita terlambat Hend, gimana dong?" gumam Afia mencari cara.
"Kenapa?".
Afia mengerutkan kening, "Kok kamu malah balik nanya sih Hend? kamu enggak lihat itu gerbang ya sudah tertutup?".
"Kalau gitu tidak ada cara lain lagi" Hendry membawa Afia pergi dari sana menuju tembok belakang. "Kamu bisa menaikinya?".
"Wah, kamu sudah gila Hend. Bagaimana bisa kamu menyuruh ku menaiki tembok ini? kalau kamu iyalah. Kemarin saja aku melihat mu melompat tembok ini".
"Berarti aku ketahuan kemarin?".
"Mmmm, pokoknya aku tidak mau melompat tembok itu. Aku takut ketinggian dan lihatlah aku menggunakan rok ini".
__ADS_1
"Tidak masalah, kamu bisa menaiki ku. Ayo naik" Hendry berjongkok dihadapan Afia.
"Tidak mau, bagaimana kalau aku jatuh?".
"Kamu tidak akan jatuh Afia, aku akan memegang kedua tangan mu ini supaya kamu tidak terjatuh. Ayo buruan, kita tidak punya banyak waktu lagi".
"Kalau gitu kamu janji yah. Awas saja kalau kamu menjatuhkan ku".
"Tidak akan, bagaimana bisa aku menjatuhkan gadis cantik seperti mu? apalagi gadis itu wanita ku".
Afia tersenyum, "Kamu terlalu banyak bicara. Aku akan menaiki mu" Afia menarik sedikit rok yang ia kenakan menaiki bahu Hendry hingga kedua paha mulus Afia terlihat sangat jelas di kedua mata Hendry. "Mana tangan mu" Hendry mencoba membuang pikiran kotornya.
"Mmmmm" Hendry segera menyambar kedua tangan Afia dan secara perlahan berdiri, hingga kini kedua tangan Afia telah berada di ujung bibir tembok.
"Tidak ada siapa-siapa Hend, aman".
"Sekarang, bisakah kamu melompat sendiri?".
"Lompat sendiri?".
"Iya".
"Tapi ini tinggi sekali Hend, aku takut".
"Lalu kamu akan seperti ini terus?".
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar sangat takut dengan ketinggian Hend. Lebih baik aku bolos sekolah, dari pada harus menyebrangi tembok ini. Bagaimana kalau nantinya kaki atau tangan ku patah? lalu bagaimana dengan pekerjaan ku? aku tidak akan membiarkan ibu ku bekerja sendiri untuk menghidupi kami".
"Terus?".
"Aku mau turun saja Hend, ayo turunkan aku".
"Maaf".
"Untuk apa?".
"Kalau saja tadi aku tidak memanggil mu, aku yakin kamu pasti tidak akan terlambat. Sekali lagi aku minta maaf, kamu boleh melompat tembok ini. Aku pergi".
"Kamu mau pergi kemana?" tahan Hendry ditangannya.
"Aku mau langsung ke perusahaan saja".
"Lalu bagaimana dengan ku? Apa kamu akan pergi meninggalkan aku?".
"Ck, kamu kan bisa melompat tembok itu. Sedangkan aku..
"Kenapa?".
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengan mu".
"Yah.. Kamu mau kemana?" tahan Hendry lagi ditangan Afia.
"Aku sudah bilang kepada mu kalau aku akan pergi ketempat kerja. Dari tadi kamu tidak mendengar ku yah? ya ampun Hendry" kesal Afia berdecak pinggang geleng kepala.
"Kalau gitu aku akan pergi bersama mu. Ayo".
__ADS_1
"Kamu enggak masuk kelas?".
"Mmmm, bagaimana mungkin aku membiarkan mu pergi sendiri? bagaimana kalau ada yang mencuri mu?" Afia menghentikan langkahnya, dengan kuat Afia langsung memukul lengan Hendry sampai membuat ia meringis kesakitan. "Aahh, ada apa dengan mu?".
"Yah, sejak kapan ada penculikan di pagi hari seperti ini? kamu terlalu banyak menonton drama".
Hendry tersenyum, "Pria mana yang tidak suka melihat gadis secantik kamu Afia?" dengan lembut Hendry menyisikan anak rambut Afia. "Kamu mau kerumah ku?".
"Boleh?".
"Tentu saj..." gantung Hendry mengingat ia belum memberitahu siapa dirinya yang sebenarnya.
"Kenapa Hend?".
"Tidak, ayo".
"Kemana?".
"Ke mall".
"Apa kamu sudah gila?".
"Kenapa?".
"Kamu mau kena tangkap polisi karna berkeliaran menggunakan seragam sekolah? tadi kamu mengajak ku kerumah mu. Kenapa tidak jadi?".
"Aku baru ingat kalau rumah ku sangat berantakan sekali. Sebaiknya kita tidak usah kesana, bagaimana kalau kita langsung ke perusahaan saja?".
"Boleh".
"Ayo" tarik Hendry di pergelangan tangan itu kembali menaiki bus menuju perusahaan. Sambil menikmati perjalan, Hendry tak henti-hentinya mengalihkan padangan matanya dari Afia yang berada disebelahnya dengan senyum tipis. "Afia" panggilnya.
"Iya Hend".
Cup..
Dengan mata membulat Afia melihat sekitar mereka, namun untungnya tidak ada yang memperhatikan saat Hendry tiba-tiba mencium pipi kirinya. "Hendry, apa yang kamu lakukan? bagaimana bisa kamu mencium ku di depan umum?".
"Kenapa? apa aku salah? maaf".
"Tentu saja kamu salah" jawab Afia melihat wajah Hendry malah tersenyum lebar menunjukkan gigi ratanya. "Kamu benar-benar yah Hend".
"Maaf".
"Aahh, sudahlah" Afia kembali melihat kearah kaca.
"Kamu marah?" Afia terdiam tampa ingin membalasnya. "Afia kamu marah? kalau kamu mara..
"Aku tidak marah, aku hanya kesal saja kepada mu Hendry" potong Afia melihatnya.
"Kamu kesal?".
"Ya, aku kesal saat kamu mencium ku di muka umum. Itu membuat ku malu".
Mendengar itu membuat Hendry semakin melebarkan senyumannya, "Kalau gitu aku akan mencium mu di tempat yang tida..
__ADS_1
"Ooo, kita sudah tiba Hend. Ayo turun" potong Afia lagi menyuruh Hendry bangkit berdiri.
"Ck, baiklah" angguk Hendry.