Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 61


__ADS_3

Namun seketika Siska menghentikan langkah kakinya, ia baru sadar kalau jam segini Dina belum bangun dan tak mungkin dia berani membangunkan nyonya dari pemilik rumah tersebut, ia lalu melihat Afia berdiri di belakangnya.


"Kenapa berhenti? Apa karna Tante Dina belum bangun? Atau memang kamu telah berbohong mengatasnamakan Tante Dina dengan seenak mu saja mau mengatur ku?".


"Hahhh? Hahahaha.. Jadi maksud mu aku melakukan ini semua bukan atas perintah nyonya Dina? Wah, kamu benar-benar sudah berani sekali yah. Baiklah kalau kamu tidak percaya, kita lihat saja nanti begitu aku mengatakan semuanya kepada nyonya, kamu pasti akan mendapatkan hukuman darinya. Tidak percaya? Lihat saja nanti".


Afia kemudian pergi meninggalkan Siska memasuki kamarnya kembali. Sebelum dia beraktivitas, ia tidak lupa mencuci wajahnya terlebih dahulu, setelah itu ia keluar bertanya kepada yang lainnya ada yang bisa ia bantu.


Lalu salah satu dari mereka berkata kepada Afia untuk membersihkan taman saja. Afia pun segera menuruti apa yang dikatakannya, ia berjalan menuju taman. Disana ia melihat Siska sedang membersihkan taman bersama dengan kedua temannya.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Siska ketus.


"Aku kemari disuruh membantu kalian bertiga. Ayo katakan apa yang perlu aku bantu?".


"Oh ya?".


"Iya".


"Kalau gitu, kamu panjat pohon itu sekarang juga. Kamu potong semuanya ranting-rantingnya sampai tidak ada yang tertinggal. Bagaimana? Ayo lakukan".


"Apa kamu sudah gila?" Afia lalu pergi meninggalkan mereka.


"Yah, kamu mau kemana? Apa kamu tidak mendengar ku?".


"Lebih baik aku mendapatkan marah dari Tante Dina dari pada harus memanjat pohon itu. Kamu pikir aku gila? Kalau kamu mau, kamu panjat sendiri saja. Kamu kan juga bisa sedangkan aku sedang hamil, tidak mungkin aku memanjatnya atau kamu mau tanggung jawab kalau aku sampai kenapa-napa?".


"Wah, kamu berani ya mengancam ku?".


"Anggap saja seperti itu karna kamu sudah berani menyuruh ku memanjat pohon it...


"Kamu bilang apa?".

__ADS_1


"Akh, Nyonya" kedua mata Siska pun langsung berbinar-binar begitu Dina datang menghampiri mereka. "Maafkan kami nyonya. Saya sudah gagal menyampaikan pesan nyonya kepada dia".


Dina melihat Afia dengan wajah marah, "Apa benar yang Siska katakan sama kamu? Jawab! Kenapa kamu jadi diam? Apa benar yang baru saja Siska katakan?".


Afia meremas kedua tangannya, ia terlihat sangat takut dengan tatapan mata tajam Dina yang seakan-akan ingin memakannya.


"Ta-tante, sebenarnya aku tidak bermaksud melawan perintah Tante. Tapi...


"Tapi apa?".


"Siska tadi menyuruh ku memanjat pohon itu dan aku langsung menolaknya karna aku sedang keadaan hamil. Aku takut kalau sesuatu terjadi kepada ku dan juga bayi kami Tante".


"Oh begitu yah? Kamu takut sesuatu terjadi kepada anak mu itu nanti kamu jadi tidak bisa memanfaatkan harta keluarga Mapolo. Iya seperti itu?".


"Ma-maksud Tante?" kaget Afia tidak pernah berpikir macam-macam tentang keluarga tersebut.


Dina tertawa mengejek, "Kamu enggak usah pura-pura bodoh seperti itu. Kamu pikir selama ini saya tidak tau kalau kamu hanya mengincar harta kekayaan Hendry? Dan asal kamu tau yah, satu peser pun kamu tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Camkan itu".


"Saya tidak mau tau. Sekarang juga kamu panjat pohon itu, jangan banyak alasan. Saya tidak perduli" setelah itu Dina pergi meninggalkan mereka. Lalu Siska bersama dengan kedua temannya tertawa senang.


"Rasain Luh.. Buruan sana panjat enggak usah pake acara-acara menangis seperti itu karna tidak akan ada yang perduli dengan mu".


Kemudian Afia menatapnya dengan air mata yang masih mengalir dari kedua bola matanya, "Sebenarnya apa salah ku kepada kalian Siska? Kenapa kalian begitu sangat tidak menyukai ku? Aku sama sekali tidak pernah mengusik kalian ataupun membuat kesalahan kepada kalian tapi kalian tega melakukan hal ini kepada ku hiks.. hiks.. Kalian benar-benar jahat dan tidak punya perasaan".


"Aaiisss.. Ni orang bebal juga yah? Dia tidak mendengar perkataan nyonya Dina tadi apa enggak sih? Atau dia sudah tuli?".


"Aku tidak tuli Siska!".


"Oh.. Kalau gitu kamu pura-pura tuli dong? Astaga, kamu jahat banget si Afia tidak mendengar perkataan dari nyonya di rumah ini. Terus kalau gitu, menurut kalian berdua siapa yang paling jahat?".


"Hahahaha" tawa mereka bertiga. "Ya jelas dia lah yang jahat suda...

__ADS_1


"Yah...!!" teriak Afia sangat marah kepada mereka. Namun bukannya diam, ketiganya malah semakin menertawai dirinya. "Dasar manusia enggak punya perasaan, semoga kelak kalian juga akan merasakan apa yang aku rasakan. Lihat saja nanti".


Siska lalu terdiam, ia berjalan mendekati Afia dengan mata tajam. "Kamu barusan bilang apa wanita *******?".


"Ka-kamu mau ngapain?".


"Jawab!!" teriak Siska mengepal tangan kanannya. "Kamu barusan bilang apa *******".


Afia melangkah mundur, ia takut kalau sampai Siska memukul dirinya. "Kenapa kamu jadi marah seperti ini kepada ku? Bukankah kalian bertiga yang duluan memulai semuanya? Tapi kamu malah...


PPPLLLAAKKK...


Tampa merasa takut kalau Afia akan mengadu kepada Hendry, dengan enteng ya tangan kanan Siska langsung menampar pipi Afia dengan sangat kuat sampai membuat Afia merasa kesakitan menyentuh pipi kanannya.


"Apa yang barusan kamu lakukan Siska?".


Siska tersenyum senang, "Menurut mu apa yang barusan aku lakukan hhmm?".


"Kamu berani menampar ku Siska?".


"Kalau iya kenapa? Hahahaha.. Itu hukuman buat orang yang sudah berani menyumpahi wanita cantik seperti ku biar kamu tau. Atau kamu masih mau ditampar?" Air mata itu pun kembali mengalir di kedua pipi Afia, "Kenapa hhmmm? Kamu mau mengadu? Kamu mau mengadu sama siapa haahh? Hahahaha.. Tidak akan ada orang yang peduli dengan mu dirumah ini".


Afia mengusap air matanya, ia tidak terima kalau dirinya di perlukan seperti ini dan ia tidak mau kalau Siska berbuat sesuka hatinya kepada dirinya karna status Siska pun dirumah itu hanyalah seorang pelayan.


"Wah, lihat Siska. Dia terlihat sedang marah kepada mu".


"Kita lihat saja apa yang akan dia lakukan. Ayo, kenapa kamu jadi diam seperti orang bodoh?" Siska menoyor kepala Afia dan itu langsung membuat Afia semakin marah mengepal tangan kanannya hendak ingin memukul wajah Siska. Namun saat itu juga salah satu dari pelayan yang lainnya memanggil namanya.


"Afia, kamu di panggil tuan Abbas".


Siska tertawa sinis, "Sana pergi tuan putri Afia, kamu dia panggil tuan Abbas tuh" Setelah itu Afia pun pergi meninggalkan mereka menemui Abbas.

__ADS_1


__ADS_2