
Kini mereka telah tiba di sekolah Fiandra, anak kecil itu melihat Hendry dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Ini sekolah aku ayah. Bagaimana? Sekolah aku bagus tidak?".
Hendry mengangguk, ia mengusap rambut Fiandra dengan sayang.
"Sekolah kamu sangat bagus, masuklah. Jangan lupa belajar yang rajin".
"Iya ayah, kalau begitu aku masuk dulu".
"Mmmmmm".
Tidak lama setelah itu, Fiandra masuk ke dalam sekolah. Kemudian Hendry menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya Tuhan, ayah macam apa aku ini setelah apa yang aku lakukan kepada Afia?".
"Nak Hendry?".
Deng!
Mendengar suara itu, Hendry langsung memutar tubuhnya menghadap kearah sumber suara melihat Kirana berdiri di hadapannya.
"Nak Hendry kan? Kamu nak Hendry kan?".
Hendry terdiam.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Ba-bagaimana bisa kamu berada di sekolah...
"Maafkan aku ibu" ucap Hendry memotong perkataannya. Ia menatap Kirana penuh dengan penyesalan, "Aku tau aku tidak pantas mendapatkan maaf dari ibu. Aku hanya ingin meminta maaf".
Kedua mata Kirana berkaca-kaca, ia sangat membenci pria yang berada dihadapannya itu, tapi ia juga tidak bisa menyalakan Hendry yang sudah pergi meninggalkan Afia disaat ia tengah berbadan dua.
"Kenapa?" Kirana akhirnya meneteskan air mata. "Kenapa nak Hendry? Kenapa kamu begitu tega meninggalkan Afia disaat dia sedang mengandung bayi mu hiks.. hiks.. Apa kamu benar-benar selama ini tidak mempercayai Afia? Apa selama ini kamu tidak mencintai Afia?".
Tanpa perduli dengan perjalan kaki yang melihat mereka, Kirana menangis histeris di hadapan Hendry.
"Ibu tidak habis pikir Hendry, ibu tidak habis pikir dengan keputusan mu dengan semudah itu kamu meninggalkan putri ku yang polos aaarrrkkkhh... Apa salah Afia kepada mu Hendry? Kenapa kamu begitu mudah mempercayai foto itu? Aku sebagai ibunya Afia sama sekali tidak mempercayai foto itu hiks.. hiks.. Tapi kamu, orang yang sudah menghancurkan hidup Afia, menghancurkan masa depan Afia. Bagaimana bisa kamu semudah itu percaya dengan apa yang tidak kamu lihat sendiri Hendry? Aaarrrkkkhh".
Hendry menatap keatas langit, mendengar itu semua membuat hatinya sakit tidak pantas sekarang berada di hadapan ibu wanita yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Dan sekarang kamu kembali Hendry. Tapi kenapa kita harus bertemu disini? Kenapa Hendry? Ibu sangat kecewa sama kamu Hendry, ibu benar-benar sangat kecewa".
Hendry ikutan meneteskan air matanya melihat Kirana menangis histeris di hadapannya.
"Maafkan aku ibu, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk meminta maaf kepada ibu. Yang bisa aku lakukan hanya meminta maaf seperti ini".
Kirana kemudian mengusap air matanya, ia melihat Hendry meneteskan air mata tanpa rasa malu.
"Hendry, melihat kamu sekarang berdiri dihadapan ibu. Ada dua hal yang ibu rasakan. Di satu sisi ibu senang kamu kembali, akhirnya Fiandra bisa melihat ayahnya. Tapi disisi lain, ibu sangat kecewa kepada mu, ibu dan Afia tidak ingin melihat mu lagi. Tetapi sekarang, ibu tidak tau harus bagaimana Hendry hiks.. Ibu sangat ingin Fiandra memiliki ayah seperti anak yang lainnya hiks.. hiks...".
Hendry menjatuhkan tubuhnya, ia meminta maaf kepada Kirana dengan kepala menunduk membuat mereka perjalan kaki yang melihat ia dibuat semakin keheranan.
"Ada apa dengan mereka?" ujar yang lainnya.
"Maafkan aku ibu, aku mohon tolong maafkan aku ibu. Meskipun aku tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk meminta maaf kepada ibu".
Kirana menggeleng, "Kamu tidak seharusnya meminta maaf kepada ibu Hendry. Minta maaflah kepada Afia".
"Iya Bu" jawab Hendry.
.
"Ayah, kenapa ayah datang kerumah ku? Apa ayah sebenarnya mengenal ibu ku?".
Hendry tersenyum tipis, setelah itu ia mengangguk mengiyakan perkataan sang putri kecilnya.
"Tapi bagaimana bisa ayah mengenal ibu ku? Selama ini aku juga tidak pernah melihat ayah bersama dengan ibu ataupun ibu pernah menceritakan tentang ayah".
Kirana lalu tersenyum mendatangi mereka, "Fiandra!" panggilnya.
"Iya nenek?" tatapan mata Fiandra begitu sangat polos. "Kenapa nenek melihat ku seperti itu?" ia melihat keduanya secara bergantian.
"Kita tunggu sampai ibu kamu pulang ya".
Dan itu membuat Fiandra semakin kebingungan. Tidak lama mereka asik mengobrol, Afia pun kembali pulang diantar oleh Andre sampai ke dalam rumah mereka. Melihat itu, Kirana bertanya siapa pria yang datang bersama dengan putrinya itu.
Sedangkan Afia, melihat Hendry berada disana. Kedua jantungnya berdetak tak karuan membuat Andre melihat mereka keheranan.
"Ada apa Fia? Kamu baik-baik saja?" Andre perduli menyentuh bahu Afia dilihat oleh Hendry dengan tatapan mata tak suka.
__ADS_1
Tetapi berbeda halnya dengan Fiandra yang tidak tau apa-apa. Ia tersenyum senang bisa melihat mereka disana berkumpul bersama.
"Ibu, ini paman Andre kan yang kemarin menemani ibu dirumah sakit?".
Afia tidak menjawab, ia masih membisu tidak tau mau mengatakan apa kepada putri mungilnya itu.
"Ibu, kenapa ibu diam?" lalu Fiandra melihat kepada Kirana yang juga ikut mendiam. "Ada apa ini? Kenapa semuanya pada diam?".
Kirana kemudian menarik Fiandra kebelakang, setelah itu Afia melihat Andre menyuruhnya pulang sekarang juga karna ada hal penting yang ingin mereka bicarakan.
Mengerti maksud Afia, Andre pun akhirnya mengangguk meninggalkan mereka.
Lalu Afia melihat Hendry. Ia melihat pria yang tengah berdiri di hadapannya itu melihat ia penuh penyesalan.
"Ada apa? Apa yang kamu lakukan disini?" Afia mencoba tegas.
"Ibu, ada apa?" sahut Fiandra yang sedari tadi penasaran melihat tatapan mata Afia kepada Hendry. "Ibu mengenal ayah ini?".
Mendengar putrinya itu menyebut Hendry sebutan ayah, Afia langsung tersenyum sinis kepadanya.
"Apa? Ayah?".
"Iya ibu, aku memanggilnya dengan sebutan ayah. Dia sangat baik, dan dia juga yang memberikan ponsel itu kepada ku ibu".
"Apa?" Afia semakin tidak percaya dengan pria yang berada di hadapannya itu. "Yah, apa yang baru saja kamu lakukan kepada putri ku haahhh? Apa yang baru saja kamu lakukan?".
Afia meninggikan suaranya.
Hendry meneteskan air mata, ia bersujud dibawah kaki Afia dengan tatapan sendu.
"Afia, aku tau aku salah telah membuat mu seperti ini. Dan aku tau, aku tidak pantas mendapatkan maaf dari mu. Tapi aku akan tetap meminta maaf kepada mu Fia, tolong maafkan aku".
Afia tertawa sumbang, ia juga ikutan meneteskan air mata. Namun segera ia hapus karna pria itu tidak pantas ia tangisi setelah apa yang Hendry lakukan bersama dengan keluarganya.
"Ayah! Ayah kenapa menangis? Ibu juga! Ibu kenapa menangis? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku melihat ibu dan ayah saling mengenal satu sama lain? Nenek, siapa ayah sebenarnya?".
Deng!
Ketiga orang itu terdiam.
__ADS_1