Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 15


__ADS_3

Sesampainya Hendry di perusahaan, ia segera menaiki lift menuju ruangan Abbas yang berada di lantai 30. Disana asisten Abbas telah menunggunya di depan lift.


Ting..


"Tuan" tunduknya dengan sopan. "Silahkan" Hendry berjalan mengikuti langkahnya dari belakang. "Tuan Abbas sudah menunggu di dalam" ucapnya membuka pintu.


Abbas pun langsung menyuruhnya duduk diatas sofa, kemudian ia memperhatikan putranya itu. "Kamu baik-baik saja?".


"Mmmmm".


"Papa akan membiarkan kamu menggunakan kartu kredit mama, tapi bukan berarti kamu bisa menggunakan kartu mama sesuka hati mu".


"Hendry tau pa".


"Bagus, mulai sekarang belajarlah untuk mandiri dan bekerja keras supaya kamu nantinya bisa meneruskan perusahaan ini. Dan mulai besok, kamu bisa bekerja disini sebagai tukang kebersihan, kalau kamu berhasil melewatinya kamu akan papa maafkan dan kamu bisa kembali seperti semula. Kamu mengerti?".


"Iya pa".


"Tapi tunggu kamu lulus SMA, maka berusahalah membuat papa memaafkan mu".


"Iya pa".


Abbas menghela nafas, sebenarnya ia juga tidak tega memberikan hukuman seberat itu kepada Hendry, namun ia harus melatih Hendry menjadi orang yang bertanggung jawab untuk kelak di hari ia akan menyerahkan perusahaan peninggalan keluarganya ke tangannya. "Kamu sudah makan?".


"Mmmmmm".


"Syukurlah, kamu boleh pergi".


"Kalau gitu Hendry pergi dulu pa".


"Mmmmm.. Kamu harus menjaga kesehatan, jangan sampai kamu jatuh sakit. Kalau kamu sakit, sampai kapan pun papa tidak akan memaafkan mu".


"Iya pak, Hendry akan ingat itu".


"Bagus".


"Permisi" Hendry segera keluar dari dalam sana, lalu ia melihat asisten Abbas menunduk kembali kepadanya. "Kenapa papa menyuruhku bekerja disini?".


"Tuan Abbas ingin memantau perkembangan tuan selama mendapatkan hukuman. Tolong jangan melawan perintah tuan".


"Aku tau" balas Hendry meninggalkannya. Begitu ia keluar, ia berjalan menuju halte yang berada disana. "Baiklah, aku akan memulai hidup seperti mereka" gumam Hendry melihat para penumpang yang sedang menunggu di depan helte. "Permisi, boleh saya duduk disini?".

__ADS_1


"Mmmmm.. Silahkan" angguknya bergeser. Hendry pun mendudukan diri disana, lalu ia mengeluarkan sebatang rokok dari dalam jaketnya. "Maaf, bisakah kamu tidak merokok disini. Istri saya sedang hamil".


"Ya" angguk Hendry memasukkan rokoknya. Tidak lama kemudian bus berhenti disana, para penumpang tersebut pun langsung masuk kedalam hingga kini ia hanya tinggal sendiri.


"Kamu tidak masuk?" tanya si supir.


"Tidak" jawab Hendry mengeluarkan rokoknya kembali. "Kenapa rasa rokok ini sangat nikmat" gumamnya tersenyum menghisap rokok. Lalu ia melihat seorang gadis cantik dan seksi sedang berjalan kearahnya.


"Permisi, boleh saya duduk?" tanyanya tersenyum manis.


"Mmmmm" angguknya bergeser.


"Ooo.. Maaf, boleh aku minta sebatang rokok mu? aroma rokok mu sangat nikmat".


"Apa?".


Ia tersenyum semakin manis seperti sedang menggoda Hendry, "Kalau kamu tidak keberatan, izinkan aku menghisap yang ini saja" jari lentiknya menyentuh tangan kanan Hendry dengan lembut dan manja sambil membisikkan sesuatu di telinga Hendry.


"Sial" umpat Hendry dalam hati. Ia pun akhirnya memberikan rokoknya kepada si wanita cantik tersebut.


"Terima kasih, kalau kita bertemu kembali aku akan membayarnya".


"Tidak usah".


Hendry tersenyum menyentuh hidungnya, "Aku sudah bilang kamu tidak usah membayarnya".


"Kalau gitu, boleh aku membayarnya dengan ini?" tampa meminta persetujuan darinya, ia mencium bibir Hendry yang sangat menggoda di kedua matanya.


Hendry tersenyum kembali menyentuh bibirnya yang baru saja di cium oleh wanita yang tidak ia kenal, "Bibir mu boleh juga, sepertinya..


"Ooo.. Bus ku sudah datang. Aku pergi dulu, kalau kita ditakdirkan bertemu lagi, kamu harus mencium ku. Ok, dah" lambainya menaiki bus tersebut.


Hendry tertawa, ia masih terkejut dengan wanita itu telah menciumnya secara duluan. "Baiklah, tidak apa-apa. Kalau kita bertemu lagi, aku pasti akan mencium mu. Tapi jangan salahkan aku kalau kamu menyesalinya".


Hari semakin sore, tetapi Hendry masih berada disana. Ia tidak tau bus menuju tempat ia tinggal, tetapi ia enggan bertanya kepada penumpang yang berada disana. Hingga kini sudah malam, ia pun masih berada disana, "Kalau aku menggunakan taksi aku tidak memiliki cukup banyak uang. Ck, haruskan aku bertanya kepada mereka?".


Hendry membuang rasa gengsinya, lalu ia bertanya kepada salah satu penumpang disana. "Permisi, bus menuju alamat xx nomor berapa?".


"Oohh.. Itu dia sudah datang, kamu bisa menaikinya".


"Terima kasih".

__ADS_1


"Sama-sama".


Hendry menaiki bus, namun saat ia naik ia melihat penumpang disana sangat banyak sehingga tidak ada satu kursi pun yang kosong. "Anak muda, kamu pegangan yang kuat" ucap wanita paruh baya disamping Hendry mengingatkannya.


"Aaiiisss" kesal Hendry menyambar pegangan tersebut. Tidak lama kemudian bus pun berjalan dengan kecepatan normal.


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTTT...


"Hallo" jawabnya tampa melihat siapa yang sedang menelponnya.


"Hendry, kamu dimana? kenapa kamu belum mengirim alamat tempat tinggal mu sayang? dari semalam mama menunggu mu".


"Maaf ma, tapi sebaiknya mama tidak usah tau Hendry tinggal dimana".


"Kenapa sayang? jangan bilang kam..


"Jangan khawatir, aku tinggal di tempat yang mama minta. Mama bisa memeriksa uang yang sudah keluar".


"Kamu tidak lagi bohongin mama kan sayang? mama tidak mau terjadi apa-apa dengan mu".


"Iya ma, Hendry tidak berbohong. Biar mama percaya, nanti Hendry menghubungi mama lagi. Sekarang Hendry lagi di dalam taksi".


"Iya, jangan lupa".


"Iya ma" Hendry mematikan ponselnya. Ia melihat tangan kananya yang sudah merasa sangat pegal. "Pak supir, saya turun di halte dekat hotel xx" ucap Hendry merasa sangat tidak nyaman lagi berlama-lama di dalam sana.


"Iya, sebentar lagi kita akan tiba".


Kemudian wanita paruh baya yang berada disampingnya itu bertanya kepada Hendry ia baik-baik saja atau tidak. Tetapi Hendry yang tidak terbiasa dengan orang seperti mereka hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kaku.


Dengan rasa kasihan, ia pun menyuruh Hendry duduk diatas kursinya meskipun Hendry menolaknya. Tapi ia tetap memaksanya untuk duduk, dan pada akhirnya Hendry pun duduk diatas kursinya. "Tidak apa-apa, duduklah dengan nyaman" senyumnya dengan tulus.


"Terima kasih dan maaf sudah membuat anda mengantikan saya berdiri disitu".


"Mmmmm".


17 menit menuju halte tempat ia tinggal, bus tersebut pun langsung berhenti disana, ia segera turun. Namun saat ia turun si wanita paruh baya itu menahan pergelangan tangannya. "Kenapa?".


"Sepertinya tangan mu terluka. Ibu ada obat yang bisa menyembuhkan luka tangan mu dengan cepat, inih".


"Tidak usah, tangan ku baik-baik saja" tidak ingin menerima pemberiannya, Hendry dengan cepat turun dari dalam bus. Lalu ia berjalan menuju hotel yang tidak jauh dari sana, kemudian ia mendengus semakin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Begitu Hendry berada di dalam kamar, ia memandangi telapak tangan kananya yang memar akibat pegangan dari bus tersebut, yang sama sekali belum pernah ia lakukan, setelah itu ia memasuki kamar mandi.


__ADS_2