Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 36


__ADS_3

Pagi harinya Hendry kembali ke sekolah seperti biasanya. Lalu ia menaruh tasnya diatas meja, setelah itu ia memasuki ruangan kepala sekolah. "Pagi pak" ucapnya.


"Mmmm, duduklah" jawabnya menyuruh Hendry.


"Terima kasih pak".


Kemudian si kepala sekolah melihatnya dengan tatapan kecewa, "Kamu tau alasan saya memanggil mu kemari?" Hendry terdiam seperti yang baru saja si kepala sekolah itu ucapkan, ia sudah tau alasannya memanggil dirinya kesana. "Saya yakin kamu pasti tau alasan saya memanggil mu kemari".


"Sebelumnya saya minta maaf pak. Benar saya melakukan kekerasan fisik terhadap Fany dan Nesa, tapi saya tidaklah orang bodoh yang akan menyerang mereka tampa alasan. Kenapa bapak tidak memanggil mereka juga kemari?".


"Hendry! saya tau kamu itu bukankah orang biasa yang selama ini mereka tau. Tapi harusnya kamu itu mengalah kepada mereka".


"Apa? mengalah?" Hendry tertawa mendengar apa yang baru saja si kepala sekolah itu ucapkan. "Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan pak. Maaf sudah menggangu waktu bapak memanggil saya kemari. Permisi".


"Tunggu sebentar" tahannya. "Tolong jangan mengulangi kesalahan ini lagi, saya tidak mau nama baik sekolah kita tercoreng oleh siswa yang tidak bertanggung jawab. Kamu mengerti?".


"Saya tidak akan pernah mengganggu siswa lainnya kalau mereka tidak menganggu saya" jawab Hendry langsung keluar. Ia melihat jam telah menunjukkan pukul 07:30 menit, dan siswa-siswi di ruangannya telah berada di atas kursi mereka masing-masing.


TOK... TOK...


"Masuk" jawab si guru tersebut. Lalu Ia melihat Hendry dari atas sampai bawah membuat ia tidak bisa mengenali wajah Hendry yang selama ini dia kenal. "Kamu siapa?".


"Saya Hendry bu, siswa dari kelas ini".


"Hendry?".


"Iya bu".


"Hendry yang berada di kelas ini? oh, jadi kamu siswa yang semalam bermasalah itu yah? kemarin saya sempat menonton video yang di kirim kelas sebelah ke grup mata pelajaran saya. Dan ternyata kamu orangnya, hebat kamu yah?".


"Hahahah" tawa mereka.


"Siapa yang menyuruh kalian tertawa?".


"Maaf bu".


"Jadi bagaimana masalahnya? apa kamu sudah minta maaf kepada Fany dan Nesa? memalukan sekali kamu ini. Polisi yang sejarahnya belum pernah datang sekolah ini karna kasus kekerasan, tapi karna kamu mereka menginjakkan kaki disekolah kita. Sebagai laki-laki kamu tidak malu Hendry?".


Hendry terdiam, ia melihat kearah Afia yang sedang melihatnya dengan tatapan kecewa. "Saya rasa ini tidak perlu kita bahas lagi bu. Kenapa kalian semua selalu menyalahkan satu belah pihak saja? kenapa kalian tidak bertanya alasan saya melakukan itu? bukankah begitu?" tanya kepada Nesa dan Fany yang sedari tadi diam saja.


"Kalau gitu kalian berdua kemari, saya ingin tau alasan dia melakukan kekerasan fisik kepada kalian berdua. Sekarang beritahu saya alasan kamu melakukan itu".

__ADS_1


"Saya tidak punya masalah kepada kedua wanita ini. Tapi mereka berdua tiba-tiba menghalangi jalan ku hingga pada akhirnya, dia melemparkan sepatu yang berharganya ini tepat di kepala ku. Seandainya posisi itu ada pada diri ibu sendiri, apakah ibu akan membiarkannya saja? saya rasa ibu juga akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan".


"Apa itu benar Nesa kalau kamu melempar sepatu mu di kepala dia?".


"I-iya bu, saya melakukan itu. Tapi enggak begitu juga bu caranya membalas kami. Dia hampir saja membunuh kita berdua".


"Jadi, kalian berdua tidak terima?".


"Iya bu..


PPLLAAKK..


Dua geplakan pun langsung mendarat di kening Nesa dan Fany. "Itu pantas kalian dapatkan, makanya jadi orang jangan terlalu sombong melihat kaum lemah. Ini nih kebiasaan kalian berdua, saya sudah sering memperhatikan kalian dari kejauhan. Dan kalian malah menuntutnya? saya kira dia yang salah duluan, tapi nyatanya kalian berdua yang sudah membangunkan singa yang lagi tidur. Sudah, sekarang kalian bertiga kembali duduk, dan jangan kalian lakukan kesalahan itu lagi".


"Iya bu" jawab Nesa dan Fany.


.


Jam istirahat, para siswa di kelas itu berhamburan mengisi perut mereka masing-masing. Sedangkan Afia dan Hendry tertinggal di dalam, "Kenapa dari tadi kamu mendiamkan aku Fia?".


"Tidak, aku tidak mendiamkan kamu" jawab Afia melihat Hendry. "Kamu baik-baik saja?".


"Apanya?".


"Tidak, aku nyaman tinggal disini karna ada kamu sayang" senyum Hendry mencium bibir Afia sekilas. "Aku tidak akan pergi kemana-mana, jangan khawatir. Kamu takut aku akan meninggalkan mu?".


"Mmmm, aku sangat takut kalau kamu pergi meninggalkan aku tampa kabar Hendry" angguk Afia menyandarkan kepalanya di dada bidang Hendry. "Jangan pergi".


"Aku tidak akan pergi sayang" belas Hendry memeluknya dengan sayang. "Kamu sudah sarapan dari rumah?".


"Kenapa? kamu belum makan?" tanya balik Afia melepaskan pelukan Hendry.


"Mmmm, tadi aku tidak sempat sarapan dari rumah".


"Harusnya kamu memberitahu ku, aku akan membawa bekal dari rumah untuk mu. Ayo, aku akan menemani mu ke kantin".


"Ayo" senang Hendry menarik tangannya.


Namun saat mereka berada di kantin, semua mata di kantin tersebut langsung tertuju kepada mereka berdua, sebagian menatap mereka dengan tatapan kagum, iri dan tidak suka. "Tidak usah menghiraukan mereka" ujar Hendry.


"Mmmmm".

__ADS_1


Lalu Hendry memesan dua porsi somay untuk mereka berdua dan dua gelas jus mangga. Tidak lama kemudian pesanan mereka tiba, meskipun Afia merasa tidak nyaman, demi Hendry ia pun pura-pura tidak mendengarnya. Tetapi Hendry yang belum pernah memakan makanan kantin, ia merasa siomay tersebut tidak sesuai dengan seleranya. "Kenapa Hend?".


"Tidak" senyumnya geleng kepala.


"Aku tau rasanya mungkin kurang sesuai dengan selera kamu. Aku juga, kamu mau aku membuatnya untuk mu? tapi jangan sekarang, kapan ada libur saja".


"Baiklah".


.


Sepulang sekolah Hendry dan Afia segera berangkat ketempat mereka bekerja. "Fia, tidak bisakah kita..


"Tidak" potong Afia menghentikannya.


"Kenapa? hari ini aku sangat tidak ingin bekerja Fia".


"Kalau kamu tidak bekerja, maka uang untuk kebutuhan kamu menggunakan apa Hend?".


"Untuk satu hari saja tidak apa-apa Fia, ayolah Fia. Aku sangat ingin berada diatas ranjang bersama dengan mu menghabiskan waktu sampai malam hari. Ayolah sayang".


"Hentikan Hendry, kamu ingin membuat ku..


"Oh iya aku baru ingat Fia".


"Apa?".


"Astaga, aku baru ingat kalau besok adalah hari terakhir aku tinggal dirumah".


"Maksud kamu?".


"Mmmm, aku harus mencari rumah baru sebelum pemilik rumah yang aku tempati mengusir ku. Apa yang harus aku lakukan Fia?".


"Benarkah Hend? kamu tidak sedang membohongi ku kan?".


"Ayolah sayang, kenapa juga aku harus membohongi kamu".


"Yah kalau gitu, aku akan menemani kamu mencari rumah sewa".


"Benarkah sayang?" senang Hendry mengacak rambut panjangnya.


"Iya, tunggu sebentar, aku izin dulu sama bu Eva".

__ADS_1


"Mmmmm".


__ADS_2