Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 17


__ADS_3

Begitu Hendry dan Vino berada di ruangan marketing, ia melihat semua pegawai disana sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. "Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Vino.


"Mereka, menurut mu mereka sedang sibuk atau sedang bermain-main?" tanya balik Hendry melihat mereka dengan senyum menyeringai.


"Maksud kamu?".


"Lupakan saja, kita mulai dari mana?".


"Dari sana, kamu ambil semua sampah mulai dari ujung, biar aku yang menyapu lantai".


"Baiklah" Hendry berjalan, ia masih saja memperhatikan para karyawan tersebut diatas kursi mereka masing-masing.


"Hey" panggil salah satu si karyawan kepadanya.


Hendry menghentikan langkahnya, ia melihat kepada orang yang baru saja memanggilnya itu, "Iya, ada yang bisa saya bantu?".


"Mmmm.. Kamu bersihkan tumpahan kopi itu" jawabnya menunjuk kearah lantai. Namun melihat Hendry hanya memandangi saja membuat ia mengernyitkan dahi. "Hey, kamu tidak mendengar saya? apa kamu tuli?".


David menyeringai kepadanya, "Kenapa tidak anda saja yang membersihkannya? itu bekas tumpahan kopi anda sendiri".


"Apa" kagetnya mendengar Hendry. "Yah, kamu pikir kamu siapa menyuruh saya membersihkan itu? lalu pekerjaan mu apa?".


Kemudian Vino menghampiri Hendry, ia langsung meminta maaf kepada si wanita tersebut penuh penyesalan. "Yah, siapa menyuruh mu minta maaf kepadanya?" tanya Hendry menarik Vino.


"Ada apa dengan mu? jangan membuat masalah disini kalau kamu masih ingin bekerja" jawab Vino.


"Kamu dengar dia?" sinis si wanita itu kepada Hendry. "Cepat bersihkan".


"Baik buk, saya akan membersihkannya" angguk Vino.


"Bukan kamu, tapi dia".


"Biar saya saja buk, dia masih anak baru disini. Jadi dia belum tau apa-apa".


"Saya bilang dia, kamu mau saya laporkan kalian berdua kepada atasan kalian?" ancamnya.


"Tidak buk, tolong jangan laporan kami" Vino melihat Hendry yang sama sekali tidak perduli. "Maaf, kamu harus membersihkannya".


Kemudian si manager menghampiri mereka sambil bertanya ada apa mereka sedang ribut disana. "Itu pak, tadi saya tidak sengaja menumpahkan kopi. Lalu saya meminta tolong kepada dia untuk membersihkan tumpah kopi itu. Tapi dia malah menyuruh balik saya pak membersihkannya".


"Apa itu benar?" tanya si manager kepada Hendry.


"Mmmmm" gumam Hendry.


Ia menatap Hendry dari atas sampai bawah, lalu ia menggeleng melihat kedua tangan Hendry berada di dalam kantong celananya. "Kamu" panggilnya kepada Vino.

__ADS_1


"Iya pak".


"Sebelumnya saya tidak pernah melihatnya. Kenapa dia berada disini?".


"Maaf pak, dia anak baru disini. Jadi dia belum tau apa-apa tentang pekerjaan seperti ini pak".


"Anak baru?".


"Iya pak".


"Sekarang panggil Leader kamu kemari, anak seperti dia tidak pantas bekerja di perusahaan ini".


"Ba-baik pak" angguk Vino melihat Hendry. Setelah itu ia langsung pergi mencari sang Leader.


Kemudian si manager itu melihat Hendry, namun saat ia mengajak Hendry bicara, ponsel Hendry tiba-tiba berdering. "Hallo" jawabnya.


"Hendry, gambar yang baru saja kamu kirim ini maksudnya apa?" tanya Dafa yang sedang bersama dengan Abian dan Chan.


Hendry tersenyum, "Bagaimana menurut kalian? apa kalian menyukai pakaian itu?".


"Yah, kamu menjadi petugas kebersihan?".


"Wah.. Kamu pintar sekali menebaknya Dafa".


"Mmmm.. Dan disini sangat menyebalkan sekali. Baru hari pertama aku bekerja, wanita sialan ini sudah membuat ku ingin membunuhnya" jawab Hendry sedikit pelan.


"OMG.. Jadi kamu benar-benar. Terus, kamu bekerja dimana?".


"Di perusahaan ayah ku" mereka bertiga langsung tertawa, mereka tidak menyangka kalau Abbas yang sangat menyayangi anaknya membiarkan menjadi seorang client servis di perusahaannya sendiri. "Kalian mengejek ku?".


"Tidak, kami hanya merasa lucu saja Hend. Bagaimana bisa om Abbas menjadikan mu sebagai OB disana. Kamu enggak malu Hend?".


"Tidak".


"Kalau gitu kamu harus lebih semangat lagi supaya om Abbas segera memaafkan mu. Nanti malam kami akan kerumah mu. Kamu mau dibawa apa?".


"Seperti biasa, aku tidak memiliki uang untuk membeli rokok lagi".


"Ok, kalau gitu aku tutup dulu".


"Mmmmmm" begitu Hendry mematikan ponselnya, ia melihat si manager tersebut sangat marah kepadanya. Lalu ia tersenyum, "Ada apa? tidak usah melihat saya seperti itu. Tidak ada yang melarang kan?".


Si manager mengepal tangan, ia benar-benar sangat marah kepada Hendry yang sudah menguji kesabarannya. "Kamu siapa? kamu pikir kamu siapa disini hahh?" Bentaknya menarik kerah baju Hendry.


"Pak Rian" karyawan lainnya menghentikan si manager tersebut. "Tolong jangan emosi pak, kita sedang berada di kantor".

__ADS_1


"Anak itu, dia benar-benar sudah menguji kesabaran ku. Aku tidak tahan lagi kepadanya, biarkan aku memberi dia pelajaran cara menghargai orang lain yang lebih tua darinya".


Hendry melihat mereka, tidak lama kemudian Vino dan sang leader tiba disana. "Maaf pak, ada apa ini?" tanyanya.


"Buk Eva, ibu tau apa yang telah anak ini lakukan?".


"Apa yang dia lakukan pak? kalau dia melakukan kesalahan kami minta maaf pak, dia masih baru disini dan sepertinya dia belum pernah melakukan pekerjaan ini. Sekali lagi kami minta maaf pak".


Ia menyentuh leher belakangnya, ia merasa sangat pusing melihat Hendry yang sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan. "Saya tidak suka melihatnya, hari ini juga pecat dia dari sini. Jangan sampai masalah ini di dengar tuan Abbas".


"Tapi pak, sebelumnya boleh saya tau alasan dia harus di pecat? kesalahan apa yang telah dia lakukan?".


Kemudian Hendry menghentikan mereka melihat si wanita tadi, "Semua itu gara-gara dia".


"Apa?" Ia tidak terima.


"Diamlah sebelum saya berhenti bicara".


"Iisss.. Dia benar-benar sangat kurang ajar sekali" geramnya melihat Hendry.


"Biarkan saya bicara" Hendry melihat mereka. "Ini peringatan untuk yang lainnya juga, meskipun saya disini sebagai client servis atau rekan saya yang lainnya. Tolong kalian menghargai kami, kami bukan budak yang seenak hati kalian sendiri menyuruh kami kapan pun kalian mau".


"Dan wanita ini tadi menyuruh saya membersihkan tumpahan kopinya, kenapa tidak dia saja yang membersihkannya? dia pikir dia siapa menyuruh saya?" Hendry mulai terpancing emosi, ia mendekati si wanita itu dengan tatapan tajam.


"Ada apa dengan mu?" tanyanya ketakutan.


"Minta maaf kepada saya, saya mau kamu minta maaf".


Ia tertawa, "Apa kamu sudah gila? berani-beraninya kamu menyuruh saya minta maaf sama babu seperti kamu".


"Babu? kamu barusan bilang saya babu?".


"Iya, saya barusan bilang kamu babu. Terus kenapa kalau saya bilang kamu babu hhhmmm? kamu pikir saya takut? hahahah. Dasar" gelengnya.


Hendry mengepal tangan, ia melayangkan tangannya diatas udara membuat mereka sangat marah kepadanya hingga terjadilah kekerasan diruangan tersebut. "Hentikan" teriak buk Eva melihat Hendry babak belur akibat pukulan dari mereka.


Hendry menyentuh sudut bibirnya, ia melihat mereka satu persatu yang sudah berani menyentuhnya. Kemudian buk Eva dan Vino membantunya bangkit berdiri, "Pak, anggap saja sekarang sudah impas. Permisi".


"Dasar anak enggak tau diri" umpat mereka kepada Hendry keluar dari sana.


"Dia benar-benar sangat kurang ajar, dia tidak pantas berada di perusahaan ini. Sejak kapan perusahaan ini mempekerjakan anak preman seperti dia?".


"Betul sekali, kita harus melaporkan dia. Kita tidak tau hari esok, bisa saja dia akan melakukannya lagi".


"Betul" angguk mereka.

__ADS_1


__ADS_2