Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 43


__ADS_3

Setibanya mereka dirumah, ibunya melihat Hendry berkata terima kasih banyak sudah membawa mereka pulang menggunakan taksi. Dan dengan senang hati Hendry langsung membalasnya.


"Apa kamu tidak mau masuk dulu? Bibi akan membuatkan teh untuk mu".


"Tidak usah bibi, terimakasih banyak sudah menawarkan aku. Oh iya Bi, aku mau memberitahu bibi kalau aku juga sudah tinggal di daerah sini dan sekarang aku tinggal di sebelah sana, kalau terjadi apa-apa dengan afia bibi langsung saja beritahu aku".


"Iya nak Hendry. Bibi akan memberitahu mu".


"Kalau gitu aku pergi dulu bibi".


Setelah Hendry meninggalkan teras rumahnya, ia langsung masuk kedalam rumah melihat Afia dan Naura sedang menonton televisi di ruang tamu.


"Apa dia sudah pergi Bu?" tanya Afia.


"Iya dia sudah pergi. Dan tadi juga dia memberitahu ibu kalau dia tinggal di rumah kontrakan sebelah".


"Iya Bu. Kemarin juga Afia yang membantunya mencari rumah itu".


"Mmmmmm.. Terus kamu, apa tidak sebaiknya istirahat di kamar saja?".


"Iya Bu. Afia akan istirahat di kamar saja" jawabnya segera meninggalkan Naura yang sedang asik menonton televisi sambil chetingan dengan sang kekasihnya.


"Aku tidak menyukai pria itu Bu" ujar Naura. Kemudian melihat ibunya, "Apa ibu tidak merasa curiga gitu sama dia? Aku yakin pria itu bukan pria baik-baik seperti yang ibu lihat".

__ADS_1


"Hentikan Naura!" balas ibunya tidak suka kalau Naura berkata seperti itu. "Kamu tau dari mana kalau dia bukan pria baik-baik? Apa kamu sudah mengenalnya lama? Atau...


"Akh, intinya aku tidak menyukainya dia Bu. Aku sangat yakin kalau dia itu hanya memanfaatkan Afia saja. Pasti di depan kita saja dia bersikap manis seperti ini, diluar itu kita mana tau kan Bu? Yah kalau bisa, sebaiknya Afia menyudahi hubungannya dengan pria itu".


Kirana lalu menatapnya dengan wajah serius, ia tidak habis pikir dengan Naura tega berkata sedemikian kepada kekasih adiknya sendiri. Dan seperti yang ia lihat, Hendry adalah pria yang sangat tulus mencintai putrinya itu tidak seperti kekasih Naura yang sangat tidak ia sukai karena sifatnya yang terlihat angkuh dan sombong.


"Ibu sedang memikirkan apa?" tanyanya melihat Kirana malah menatapnya dengan tatapan kosong. "Apa ibu sudah menyadarinya".


"Harusnya kamu yang hati-hati dengan kekasih mu itu Naura. Seperti yang ibu lihat, dia hanya mencintai kamu bukan mencintai keluarga mu".


"Apa? Lagian kenapa ibu jadi membawa-bawa dia sih? Kita kan enggak lagi membahas dia. Yang kita bahas sekarang kan pria itu. Akh sudahlah, pokoknya aku tidak menyukai pria itu".


"Sekarang ibu mau tanya Naura. Apa alasan kamu tidak menyukainya? Apa dia pernah menyakiti mu?".


"Tidak sih. Tapi kalau bisa Afia jangan mencari pria miskin lagi Bu. Udah kita hidup miskin, setidaknya dia jangan cari pria miskin lagi".


"Akh, aku tidak ingin mendengar ibu lagi. Terserah Afia saja kalau nantinya dia mau hidup miskin bersama dengan pria itu. Dan suatu saat nanti aku tidak akan pernah perduli kepadanya, karna itu pilihannya sendiri. Sudah Bu, aku mau istirahat dulu".


Kirana lalu menggeleng kepala, ia tidak habis pikir kalau Naura semakin hari semakin berubah menjadi wanita yang sombong.


"Ya Tuhan, ada apa dengan anak-anak ku? Kenapa Naura jadi seperti ini Tuhan? Apa aku sudah salah mendidik anak-anak ku?".


.

__ADS_1


Lalu Naura membuka pintu kamar, "Yah.." panggilnya melihat Afia yang terbaring di atas tempat tidur sambil bermain ponsel. "Bukanya kamu istirahat? Kenapa kamu jadi bermain ponsel?".


Afia pun menatapnya heran mengernyitkan dahi, "Ada apa dengan kak Naura?".


"Apa kamu sedang chetingan dengan pria itu?".


"Siapa? Hendry maksud kakak?".


"Aku enggak tau siapa dia. Kamu yakin mau sama dia? Afia, harusnya kamu itu sadar diri, kamu itu sudah miskin dari lahir setidaknya kamu jangan hidup miskin lagi di suatu hari nanti. Jangan gila deh".


"Aku tidak peduli kak" jawab Afia dengan santainya melihat ponselnya berdering mendapat sebuah panggilan dari orang yang baru saja mereka bicarakan. "Sudah kak, aku mau nelpon dulu. Kakak urus saja diri kakak sendiri tanpa mencampuri urusan pribadi ku".


"Apa? Wah, kamu sudah berani sekali yah Fia sekarang melawan ku karna laki-laki itu".


Dengan kesal Afia lalu menatapnya, "Kakak terlalu berlebihan sekali. Selama ini aku telah membiarkan kakak berkata sesuka hati kakak tentang dia. Tapi sekarang aku tidak akan pernah membiarkan kakak, tolong jangan pernah urusi hubungan kami berdua, begitu juga dengan kakak. Belum tentu kekasih kakak itu juga pria baik seperti Hendry, jadi kita lihat saja nanti kak siapa diantara mereka yang benar-benar..


"Yah...!" teriak Naura ingin memukulnya. Namun Kirana yang tiba-tiba masuk kedalam kamar mereka membuat Naura tidak jadi memukulnya, ia malah terkena amukan sang ibu dengan memukul di lengannya sedikit kuat sampai membuat Naura meringis kesakitan.


"Tidak seharusnya ibu melakukan ini kepada mu Naura. Tapi kamu semakin hari semakin berubah. Apa kamu sudah lupa kalau ibu selalu mengingatkan kalian berdua, jangan pernah mencari suami yang kaya kalau akhlak tidak bagus seperti ayah kalian berdua".


"Salah ibu sendiri juga kenapa mau menikahi pria seperti ayah" jawab Naura meninggikan suaranya dengan mata berkaca-kaca. "Aku berkata seperti ini kepada Afia supaya kehidupan kami berdua tidak seperti ibu hidup miskin. Sudah cukup masa kami kecil hidup miskin, aku enggak mau anak-anak ku juga merasakan apa yang kami rasakan hiks.. hiks..".


Afia pun akhirnya ikutan menangis melihat sang kakak menangis di hadapan mereka berdua yang tidak pernah mereka lihat Naura menangis seperti ini.

__ADS_1


"Maafkan aku kak. Aku tau sebenarnya kakak berkata seperti ini demi kebaikan ku juga. Tapi aku tidak bisa mencintai pria yang lebih tinggi derajatnya dari keluarga kita kak. Aku tidak mau jika nantinya ibu dan ayah jadi bahan gibahan mereka. Karna itu aku memilih pria biasa seperti Hendry kak. Sekali lagi maafkan aku".


"Benar kata adik kamu Naura. Ibu sangat berharap sekali kalian berdua bisa menjadi orang sukses suatu saat nanti. Tapi kalau bisa, pilihlah calon suami yang bisa menghargai keluarga kita. Hanya itu saja Naura".


__ADS_2