Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 9


__ADS_3

Kini Hendry dan Freya telah berada di ruang bioskop. Namun mengingat kejadian yang tadi membuat Freya tidak bersemangat, "Kak Hend" panggilnya.


"Mmmmmm?".


"Soal tadi, Eya minta maaf ya kak".


"Mmmmmm".


"Kak Hendry masih marah?".


"Tidak".


"Benarkah? Eya serius kak, Eya minta maaf".


"Mmmm.. Kalau kamu sudah bosan, sebaiknya kita pulang. Aku merasa sesak berada disini lebih lama".


"Ayo" bangkit Freya berdiri duluan. "Eya juga merasa sesak lama-lama disini".


Hendry pun langsung mengikutinya dari belakang dengan wajah ditutupi masker dan juga topi hitam, "Kak, Eya ke kamar mandi sebentar".


"Iya, aku akan menunggu diluar".


"Iya kak".


Sambil menunggu Eya keluar, Hendry merasa ingin merokok. Kemudian ia melihat sekitarnya, namun saat itu juga ia melihat sosok seorang gadis yang kemarin ia lihat dirumah Sinta sedang membawa beberapa barang belanjaan.


"Kak" panggil Eya baru keluar.


"Kamu sudah selesai?".


"Iya, tadi kak Hendry lagi lihatin siapa?".


"Tidak, kalau sudah selesai sebaiknya kita pulang, aku masih mau belajar".


Freya tersenyum, "Wah.. Kak Hendry sekarang benar-benar sudah berubah yah".


"Maksud kamu?".


"Hhhmmsss.. Jadi kak Hendry buru-buru mau pulang, memang mau belajar atau..


"Atau apa?".


"Atau kak Hendry mau menemui pacar?".


"Tidak, aku mau belajar".


"Oohh.. Baiklah kalau kak Hendry mau belajar. Eya juga merasa lelah hari ini" mereka berdua segera meninggalkan mall tersebut.


.


Sedangkan gadis yang tadi sempat Hendry lihat, ia sedang membawa barang belanjaan majikan tempat ia bekerja pulang sekolah. "Afia" panggilnya.


"Iya bu" jawab Afia mendekati majikannya itu.


"Kami mau makan disitu dulu, kamu tunggu disini".


"Iya bu" angguk Afia menunggu di luar.


"Ayo pa, tapi kenapa Sinta belum datang-datang juga ya pa? padahal anak itu bilang tadi akan datang kemari menyusul kita".

__ADS_1


"Ya sudah ma, paling Sinta pergi bareng teman-temannya. Bara mau makan apa?" tanya suaminya itu kepada putra bungsu mereka.


"Seperti biasa saja pa" jawab Bara. Lalu ia melihat Afia yang menunggu di luar dengan berang belanjaan mereka. "Pa, kenapa papa sama mama tidak mengajak kak Afia makan bersama kita. Bara yakin kak Fia juga pasti sedang lapar".


Mamanya Sinta tertawa, "Kamu ada-ada saja Bara, dia kan di bayar, bukan gratis. Lagian Bara mau satu meja makan sama pembantu?".


"Kenapa emang ya ma?".


"Tentu saja enggak boleh sayang. Status kita sama dia itu jauh beda".


"Bedanya ma?".


"Bedanya itu Bara tuan muda sedangkan dia hanyalah pembantu di rumah kita".


"Oohh" angguk Bara mengerti.


"Nanti kalau Bara sudah tumbuh dewasa, Bara enggak boleh berteman sama orang seperti dia yah. Bara enggak mau kan buat mama sama papa kecewa?".


"Iya ma. Bara tidak mau buat mama sama papa marah".


"Benar, kamu memang anak pintar kebanggan papa sama mama".


"Mmmm.. Dan Bara juga pelindung keluarga kita ma" mereka bertiga langsung tertawa. Sedangkan Afia yang sedari tadi menahan rasa lapar, ia melihat kearah majikannya itu.


"Mereka makan cukup lahap, aku sangat lapar. Ini sudah hampir jam 4 sore" gumam Afia mengelus perut ratanya.


Satu jam lamanya Afia menunggu di luar, kini mereka telah selesai. Afia pun segera menenteng barang belanjaan majikannya itu. "Buk" senyum Afia sedikit berharap kalau majikannya itu akan membungkus makanan untuknya. Namun yang ia harapkan tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


"Ada apa?" tanyanya melihat Afia.


"I-itu nyonya".


"Tidak jadi bu, tadi saya hanya ingin bertanya kalau kita sudah bisa pulang atau belum".


"Iya, sekarang bawa semuanya kedalam mobil".


"Baik bu" Afia mengikuti langkah kaki mereka dari belakang. Setelah itu Afia menaruhnya di job belakang, lalu ia memberitahu majikannya itu kalau semua barang belanjaan sudah berada di dalam mobil. "Bu, bisa Afia minta gajinya sekarang?" tanya Afia sedikit takut-takut.


"Mmmm.. Ini gaji kamu".


Dengan senyum mengembang di wajah Afia, ia menerima gajinya dari tangan sang majikannya itu. "Terima kasih bu, terima kasih banyak".


"Mmmmmm" Mereka segera pergi meninggalkan Afia yang masih berdiri di parkiran khusus tamu VIP.


"Wah, hari ini aku mendapatkan gaji 100 ribu. Ibu pasti sangat senang, karna hari ini kami tidak perlu makan tahu sama tempe" senang Afia membawa uang seratus ribunya itu pulang kerumah.


Sesampainya Afia di rumah, ia melihat ibunya sedang menyapu. "Ibu, Afia pulang" teriak Afia seperti biasa ia pulang.


"Afia" senyum Larasati ibunya Afia.


"Bu, Afia bawa kabar baik".


"Kabar baik?".


"Mmmm.. Hari ini Afia di gaji 100 bu hahahaha" tawa Afia kegirangan.


"Wah.. Putri ibu benar-benar hebat bisa bawa uang 100 ribu".


"Iya buk. Kak Naura mana buk?".

__ADS_1


"Kakak kamu tadi keluar sama teman-temannya".


"Oohh.. Ini buk, hari ini kita tidak perlu makan tahu sama tempe kan buk? soalnya Fia ingin sekali makan daging bu hehehehe" ucap Afia sedikit pelan.


Larasati tersenyum, "Iya sayang, hari ini ibu akan memasak daging yang sangat enak yang belum pernah ada di dunia ini".


"Wah.. Luar biasa, Fia jadi lapar sekali bu. Ayo buk, Fia akan menemani ibu ke pasar".


"Ayo".


.


Hari ini Estiana dan Baim memutuskan pulang mengingat besok Baim yang akan bekerja dan juga kedua putri mereka besok harus berangkat ke sekolah.


"Kalian hati-hati dijalan" senyum Abbas dan Dina.


"Iya kak. Titip salam sama Hendry".


"Mmmmm" angguk Dina melihat mereka masuk kedalam mobil, setelah itu Baim menjalankan mobilnya meninggalkan istana keluarga Mapolo.


"Pa, besok Hendry sudah ujian. Apa tidak sebaiknya papa memberikan Hendry mobil? setidaknya selama 1 minggu ini saja pa".


"Tidak ma, itu hukuman buat Hendry".


"Tapi pa, kasihan anak kita. Masa iya Hendry naik bus berangkat ke sekolah. Papa tau sendiri sepanjang hidupnya, dia belum pernah naik bus".


"Biarkan saja ma. Itu sudah keputusan bulat papa".


Dina menghela nafas, ia tidak yakin kalau putra kesayangannya itu akan naik bus berangkat sekolah dan juga Hendry yang tidak memiliki uang membuat Dina semakin khawatir. "Ayolah pa, kasihani anak mu kali ini saja".


"Tidak ma" Abbas pergi meninggalkan Dina yang masih berusaha membujuknya.


Sedangkan di dalam kamar Hendry sedang asik bermain game bersama dengan ketiga sahabatnya itu, tampa memperdulikan besok mereka yang akan ujian.


Tok.. Tok..


"Hendry, ini mama sayang. Mama masuk ya?".


"Mama" kaget Hendry.


Ceklek!


"Hendr.." gantung Dina melihat putranya itu sedang belajar.


Dengan mata sayu, Hendry pun langsung melihat kearah Dina. "Mama".


"Iya sayang. Maafkan mama sudah menggangu belajar kamu, kalau gitu mama keluar dulu. Aahh, atau kamu perlu sesuatu? mama akan membawanya".


"Tidak usah ma, nanti Hendry malah ngantuk. Selamat malam ma".


"Iya sayang. Belajarnya jangan sampai larut malam sekali yah".


"Iya ma" Sekeluarnya Dina dari dalam kamarnya, Ia pun langsung menghela nafas legah. "Hampir saja aku ketahuan" gumam Hendry menyambar ponselnya kembali.


"Aman Hend?" tanya Dafa.


"Aman, mama sudah keluar".


"Ok, kita lanjut lagi" permainan mereka pun berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2