
Esok pagi harinya Naura kembali pulang sendiri kerumah meninggalkan Kirana dan Naura yang masih berada di rumah sakit karna ia harus berangkat ke kampus. Namun sebelum meninggalkan rumah sakit, Naura tidak lupa menanyakan uang yang kemarin ia bicarakan kepada Kirana, karna ia harus membayar uang meja hijaunya.
Sedangkan Afia yang mendengar perkataan Naura kepada ibunya, ia langsung melihat wajah sang ibu dengan wajah sedih seperti berkata kalau ia tidak memiliki uang yang Naura sebutkan.
"Kak, emang berapa uang yang kak Naura butuhkan?".
"3 juta saja. Kamu memiliki uang sebanyak itu?".
"3 juta" gumam Afia. "Maaf kak, aku juga tidak memiliki uang sebanyak itu".
Naura langsung mendengus kesal, "Lalu apa yang harus aku lakukan Bu? Itu saja aku sudah mendapatkan potongan dari kampus karena aku pintar. Sekarang ibu katakan kalau ibu tidak memiliki uang itu, tapi kemari ibu berkata kalau ibu akan mengusahakannya".
"Maafkan ibu Naura. Kemarin ibu sudah berusaha untuk meminjam kepada majikan ibu, tapi majikan ibu berkata kalau dia tidak bisa memberikan ibu pinjaman".
"Ya Tuhan.. Ibu tau enggak sih kapan aku sidang? Minggu depan loh Bu hari senin. Dan sekarang ibu tau hari apa? Sekarang sudah hari kamis. Dan sekarang apa yang harus aku lakukan Bu? Kemarin aku sudah berjanji kalau hari ini aku akan membayarnya".
Afia lalu meminta ponselnya kepada Kirana yang berada di sebelahnya, kemudian ia menghubungi nomor ponsel Hendry yang ketepatan Hendry baru pulang kuliah.
"Hendry, kamu sudah pulang?".
"Iya sayang ini aku baru pulang kuliah. Ada apa? Kapan kamu pulang? Mama sama papa mencari mu, tapi kamu tidak usah khawatir, aku sudah memberitahu mereka kalau kamu dirumah kedua orang tua mu".
"Syukurlah, terima kasih Hendry. Tapi, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu, bisakah aku minta tolong?".
Kirana langsung memgeryitkan dahi mendengar percakapan keduanya.
"Hendry, tolong pinjamkan aku uang sebanyak 3 juta..
"Tidak" potong Kirana menghentikan perkataan Afia. "Tidak nak Hendry. Ibu tidak mau menerima uang kamu" ucap Kirana.
Hendry lalu bertanya kepada Afia ada apa yang sebenarnya? Namun Kirana yang bersikeras tidak mau di bantu oleh Hendry. Naura langsung berkata kalau ia sangat membutuhkan uang sebanyak 3 juta rupiah untuk membayar biaya meja hijaunya yang akan berlangsung minggu depan.
"Naura!" bentak Kirana.
"Aku tidak salah kalau dia punya uang bu. Lagian, ibu akan membayarnya kembali kepadanya. Kamu tanya dia Fia, apa dia memiliki uang sebanyak itu? katakan kepadanya kalau aku sangat membutuhkan uang itu".
Afia pun kembali menempel ponsel itu di telinga kanannya, "Aku akan sudah mentransfer ya sayang di rekening mu. Dan itu juga untuk kebutuhan mu, apapun yang ingin kamu butuhkan, kamu tidak usah segan memintanya kepada ku".
__ADS_1
Kedua mata Afia berkaca-kaca, ia melihat Kirana dan Naura secara bergantian sambil mengucapkan terimakasih banyak kepada sang kekasih. Setelah itu Afia mematikan ponselnya, ia memberitahu kepada Naura kalau uang itu ada dan hari ini juga ia boleh mengambilnya.
"Wah, hebat juga anak itu Fia. Dari mana dia memiliki uang sebanyak itu?".
"Dia kerja kk" jawab Afia. "Beritahu aku berapa nomor rekening kak Naura" begitu Naura memberitahunya, uang tersebut segera masuk ke dalam ponselnya. "Udah ya kak, semoga kakak berhasil".
"Iya. Katakan kepada dia terima kasih banyak. Nanti aku akan menggantinya".
"Tidak usah, kak Naura tidak usah menggantinya".
"Kamu serius?".
"Iya, berangkat lah kak. Nanti terlambat".
"Baiklah kalau begitu, aku berangkat kuliah dulu by".
Seperginya Naura dari sana, ia kemudian melihat Kirana yang sedang menundukkan kepala dengan perasaan sangat malu tidak bisa melakukan apa-apa di saat terakhir Naura menyelesaikan pendidikannya.
"Tidak apa-apa Bu, tidak usah merasa bersalah seperti ini. Kan ibu dengar sendiri kalau Hendry tidak keberatan memberikan uang itu, jadi ibu tidak usah khawati atau merasa bersalah".
Kirana meneteskan air matanya, mau bagaimana pun ia sebagai ibu yang bertanggung jawab atas kedua putrinya tetap merasa malu telah gagal memberikan yang terbaik untuk Naura dan Afia.
"Siapa Bu?".
"Majikan ibu Fia hhhmmss".
"Afia mohon ibu jangan seperti ini Bu. Kalau ibu masih sedih Afia juga akan ikutan merasa sedih. Jadi aku mohon ibu jangan memikirkan itu lagi, Sebaiknya ibu berangkat kerja saja, biar aku pulang sendiri".
"Tidak Fia, ibu akan disini menunggu kamu sampai Hendry datang menjemput mu".
"Dia tidak akan datang kemari bu. Hendry sedang sibuk bekerja. Ibu pergi saja, nanti mereka memarahi ibu".
"Kamu yakin Fia?".
"Iya Bu jangan khawatir".
"Ya sudah kalau gitu. Ibu berangkat kerja dulu ya Fia".
__ADS_1
"Iya ibu hati-hati di jalan yah".
"Mmmmm".
.
Afia lalu melihat jam ponselnya telah menunjukkan pukul 10 pagi, ia pun lalu memanggil sang suster dan memberitahu kalau ia sudah merasa bosan berlama-lama disana. Menuruti perkataan Afia, sang suster langsung melepaskan alat infus di tangannya dan segera pergi meninggalkan rumah sakit menuju kediaman keluarga Mapolo.
Di rumah keluarga Mapolo.
"Kamu siapa?" tanya Freya melihat Afia dari atas sampai bawah. Lalu Afia tersenyum tipis kepadanya.
"Afia, nama ku Afia. Lalu kamu siapa?" jawabnya balas bertanya. "Sebelumnya aku tidak pernah melihat mu dirumah ini".
"Aku menantu pemilik rumah ini. Terus kamu?".
"Hhhmmm?" Afia bingung, yang ia tahu Abbas dan Dina hanya memiliki satu anak yaitu Hendry. Kemudian Afia tersenyum kembali kepada Freya, "Maaf kalau aku boleh tau, maksud dari perkataan mu apa?".
"Kamu sudah berapa lama tinggal di rumah ini? Setahu saya Tante Dina belum pernah menerima tamu dirumah ini apalagi wanita hamil atau kamu pembantu disini?".
Dan lagi-lagi Afia terdiam, ia tidak tau harus bagaimana menjawab pertanyaan Freya yang sedang melihatnya dengan tatapan tidak suka.
"Yah.. kenapa kamu diam? Kamu tidak mendengar ku?".
"Maaf, tapi kalau boleh tau tadi kamu bilang kalau kamu itu menantu dari pemilik rumah ini. Maksud kamu Hendry?".
"Kamu mengenalnya?".
"Iya, dia ayah dari bayi ku".
"Apa?" kedua mata Freya langsung membulat tidak percaya mendengar jawaban Afia yang tiba-tiba mengatakan kalau ayah dari bayi yang ia kandung adakah Hendry. "Yah, kamu berani mengatakan kalau Hendry ayah dari bayi mu?".
"Iya, makanya saya bertanya kenapa kamu berkata kalau kamu menantu dari pemilik rumah ini. Apa om Abbas dan Tante Dina memiliki anak selain Hendr..
PPPLLLAAKKK...
Tidak terima dengan kenyataan yang sebenarnya, Freya langsung menampar kedua pipi Afia sekuat tenaganya. "Dasar perempuan tidak tau diri. Berani-beraninya kamu mengatakan kalau bayi yang kamu kandung adakah anak Hendry. Kamu mau aku laporin kamu ke penjara haahhh?".
__ADS_1
Afia menyentuh kedua pipinya, ia melihat Freya sangat marah hendak ingin menamparnya kembali, tetapi Dina yang baru pulang dari rumah sakit langsung menghentikan keduanya.