Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 34


__ADS_3

Saat Hendry sedang asik berbincang dengan ketiga sahabatnya, seorang guru memasuki kantin tersebut sambil berteriak menyebut seorang siswa yang bernama Hendry membuat mereka semua yang berada di dalam kantin itu menoleh kearah si guru.


"Kalian tidak mendengarkan saya hahhh?" bentak si guru itu lagi memukul kayu besar yang berada ditangannya diatas meja.


Hendry mengangkat tangannya, "Saya".


"Oh, jadi kamu orangnya?".


"Iya, ada apa bapak mencari saya?".


Si guru itu tertawa mendekati Hendry, ia melihat tubuhnya dari atas sampai bawah seperti tidak mempercayai dengan apa yang barusan ia dengar dari Fany dan Nesa tentang kekerasan yang dilakukan Hendry kepada mereka. "Apa benar kamu hampir saja membunuh Fany dan Nesa dengan cara mencekik mereka?".


Hendry terdiam.


"Kenapa kamu diam? apa benar yang mereka katakan?".


Hendry masih terdiam.


"Jawab!" teriaknya diwajah Hendry.


"Mmmmm, benar aku melakukan itu. Tapi, apa mereka berdua tidak memberitahu anda kenapa saya melakukan itu?".


Si guru itu pun langsung menyuruh Fany dan Nesa masuk kedalam kantin, "Sekarang jawab, kenapa dia melakukan itu kepada kalian berdua?".


Fany dan Nesa terdiam beberapa menit begitu mereka berdua berdiri dihadapan Hendry, "Kami salah pak telah melemparkan sepatu di kepala dia, tapi dia hampir saja membunuh saya pak kalau bukan karna mereka" jawab Fany menunjuk ketiga sahabat Hendry.


"Iya pak, dia juga hampir melakukan itu kepada saya pak. Pokoknya kami berdua akan membawa ini kejalur hukum, dan sekarang kedua orang tua kami sedang perjalanan kemari membawa polisi" sambung Nesa dengan sombongnya.


Hendry tersenyum, ia memijit keningnya sambil melepas penyamaran dia selama ini dihadapan mereka semua. "Kalau aku masih menggunakan ini, aku takut polisi tidak mengenali identitas ku" ucap Hendry melihat mereka yang berada disana membulatkan mata kecuali Afia yang berada di ambang pintu kantin.


Kemudian Hendry tersenyum kepadanya, "Maaf sudah memberitahu mereka, kamu tidak apa-apakan kalau kekasih mu ini dikagumi mereka?".


Mereka semua melihat kearah pandangan Hendry begitu juga dengan Abian, Dafa dan Chan. "Itu bukannya Afia teman kelas mereka berdua?" ujar mereka.


"Iya, itukan Afia. Lalu dia.. OMG, mereka berpacaran? dan ternyata pacarnya tampan sekali".

__ADS_1


"Benar, beruntung sekali dia. Tapi kenapa Nesa dan Fany menjahati dia? apa karna dia jelek?".


"Mungkin, kita saja pertama kali melihatnya mengatakan hal yang sama dengan Nesa dan Faby, namun sekarang pria itu adalah pria tampan idaman semua wanita. OMG" ujar mereka berbisik sana kemari sampai si ibu kantin di buat terheran-heran mengingat perkataanya tadi.


"Yah.. Si-siapa kamu sebenarnya?" tanya Nesa gelagapan begitu juga dengan Fany yang sedari tadi tidak berkedip menikmati ketampanan di wajah Hendry.


"Kamu tidak perlu tau aku siapa. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang, kamu dan kamu atau aku" seringai Hendry melap tangannya dengan tissue. "Sekarang katakan kantor polisi mana, aku akan pergi lebih duluan. Aku tidak suka menggunakan mobil polisi".


Kemudian Hendry menyuruh mereka minggir yang berada di hadapannya, namun saat Hendry melangkah, polisi yang dibawa kedua orang tuan Nesa dan Fany terlah tiba disekolah membuat Hendry menghentikan langkahnya. "Mereka sudah datang pak" beritahu salah salah satu siswa.


"Siapa?" tanya si guru.


"Polisi pak".


Abian mendekati Hendry, "Hend, jangan sampai kejadian ini.." gantung Abian melihat polisi itu masuk kedalam kantin.


"Kalian semua bisa minggir?" ujar si polisi dari ambang pintu.


"Bisa pak" jawab mereka memberi jalan kepada si polisi. Lalu mereka bertanya siapa yang sudah melakukan kekerasan tersebut.


Orang tuan Fany pun langsung berlari kearah Hendry sembari memberikan pukulan diwajahnya, tetapi Hendry yang tidak sudih wajahnya disentuh oleh mereka membuat ia menghindari pukulan tersebut. "Wah" kagum mereka melihatnya. "Dia benar-benar menghindari pukulan itu, sepertinya ayah Fany sangat marah".


"Papa" kaget Fany.


"Kurang ajar" umpatnya kepada Hendry hendak memukulnya kembali, namun sama halnya seperti tadi, Hendry menghindari pukulan itu lagi membuat mereka yang melihatnya menahan tawa.


"Kalian semua diam!" bentak si polisi marah. "Saudara Hendry, mari ikut kami ke kantor polisi".


"Tunggu" tahan Hendry menghentikan si kedua polisi itu. "Saya tidak suka dipegang dan saya tidak suka naik mobil polisi. Saya akan naik mobil sendiri, beritahu saya dimana alamatnya" ucap Hendry membuat si kedua polisi tersebut memukul wajahnya. Hendry tertawa, ia menyentuh wajahnya yang baru terkena tamparan, "Berani sekali anda menampar saya" tawa Hendry kembali.


"Hendry hentikan" ucap Abian menahan tangannya. "Aku mohon kamu tenang dulu, coba selesaikan masalah ini dengan kepala dingin" kemudian Dafa bertanya kemana mereka harus pergi kepada si polisi tersebut. Mereka sangat tau kalau Hendry tidak suka menggunakan mobil polisi, karna bagi dia lebih baik ia menggunakan bus umum.


"Kalian siapa? sepertinya kalian tidak berasal dari sekolah ini?" tanya si polisi.


"Iya pak, kami bertiga tidak berasal dari sekolah ini, kami kemarin karna ada pertandingan basket".

__ADS_1


"Kalian mengenal anak ini?".


"Dia teman kami pak. Tolong percaya, kepada kami kalau kami akan membawanya kesana, kalau bapak tidak percaya, salah satu diantara bapa bisa ikut kami" jawab Chan.


"Baiklah, mari ikut kami pak" angguk si polisi menyuruh si guru yang bertanggung jawab serta orang tuan Nesa dan Fany dan juga mereka berdua.


Melihat kejadian tersebut membuat Afia sedih, kedua matanya berkaca-kaca begitu Hendry melewati dirinya dengan senyum tipis sembari mengatakan, "Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. jadi tolong jangan khawatir".


.


Sesampainya mereka di kantor polisi, Hendry langsung merasa pusing hanya mencium aromanya saja. "Entah apa penyebabnya, aku sangat benci berurusan dengan polisi".


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan Hend, kalau kamu menyuruh pengacara om Abbas datang kemari, kamu akan habis".


"Karna itu aku harus berurusan dengan polisi, rasanya aku ingin melemparkan kedua wanita itu kehutan sana. Mereka sendiri yang cari masalah dengan ku tapi mereka sendiri yang malah melaporkan aku. Sialan".


"Semua akan baik-baik saja Hend, ayo masuk" Mereka berempat masuk kedalam, Nesa, Fany serta orang tua mereka berdua telah berada disana.


"Duduk" kata polisi.


"Mmmm" angguk Hendry. Lalu si polisi bertanya siapa nama lengkapnya. Tetapi Hendry tidak berani menjawabnya, ia takut kalau kejadian ini sampai ke telinga orang tuannya.


"Kamu tidak mendengarkan saya?".


"Nama saya Hendry" jawabnya.


"Marga?".


"Tidak punya".


"Beritahu nomor ponsel orang tua mu, mereka perlu tau apa yang telah anaknya lakukan disekolah".


"Jangan, saya tidak mau berurusan dengan mereka".


"Kenapa?".

__ADS_1


"Saya melarikan diri dari rumah" jawab Hendry membuat Fany dan Nesa tertawa. "Kenapa kalian tertawa? ada yang lucu?".


__ADS_2