
Tidak lama kemudian, akhirnya Afia tiba di depan gerbang rumah Sinta dimana sang ibu telah menunggu dirinya di sana dengan senyum mengembang di wajah Kirana.
"Astaga ibu. Maafkan Afia yah datang terlambat. Ibu pasti sudah menunggu lama" ucapnya memberikan sebuah bingkisan kecil ditangan sang ibu. "Tadi aku membeli kue pas datang kemari bu".
"Akh, terima kasih nak".
"Iya Bu. Ayo kita pulang".
"Loh..
"Tidak apa-apa bu. Tadi aku sudah izin kepada Hendry kalau malam ini aku ingin menginap dirumah dan Hendry pun langsung memberikan izin kepada ku".
"Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong kan Fia? Ibu enggak mau nak Hendry nanti jadi khawatir sama kamu".
"Afia serius ibu. Ini buktinya kalau ibu enggak percaya" Afia pun langsung menunjukkan balasan pesan Hendry dihadapan Kirana. "Bagaimana? Ibu sudah percaya kalau aku sedang tidak berbohong?".
Kirana tersenyum, "Iya ibu percaya Fia. Kalau gitu ayo kita pulang. Kakak kamu pasti sudah menunggu dirumah".
"Ayo Bu".
Keduanya pun segera meninggalkan depan rumah Sinta menuju halte bus tempat dimana Kirana selalu menunggu angkutan umum. Tidak menunggu lama, bus yang biasanya Kirana tumpangi kini sudah berhenti di hadapan mereka. Afia dan Kirana pun langsung masuk kedalam.
Hingga kini mereka sudah tiba dirumah. Benar seperti yang tadi Kirana ucapkan, Naura sedang duduk seorang diri di teras depan rumahnya sambil bermain ponselnya.
"Hallo kak Naura!".
Naura melihatnya dengan tatapan tidak suka. "Sedang apa kamu disini?".
Afia tersenyum ramah, "Tentu saja menemui kak Naura dan ibu. Kakak Naura enggak rindu gitu sama aku?".
"Enggak".
"Oh!".
Lalu Naura melihat bingkisan yang berada di tangan Kirana, "Itu apa Bu?".
"Ibu tidak tau Naura. Adik kamu yang membelinya untuk kita. Ayo masuk, ibu akan membuatkan teh untuk kalian berdua" Kirana mengajak kedua putrinya itu masuk ke dalam rumah. Ia lalu menaruh bingkisan itu diatas meja makan, sedangkan Afia langsung menyalakan kompor untuk memasak air panas. "Biar ibu saja Afia".
"Tidak apa-apa Bu. Ibu duduk saja, biar Afia yang akan membuatnya".
__ADS_1
"Biar ibu saja Fia. Kamu lagi hamil jadi enggak boleh...
"Udah, biarkan ajah dia Bu. Kan Afia sendiri yang bilang kalau dia ingin membuat sendiri. Sekarang ibu duduk saja disini" Naura memberikan kue tersebut di tangan Kirana. "Ayo dimakan Bu, kue ya sangat enak sekali".
"Benarkah kak?" sambung Afia.
"Mmmmm".
"Syukurlah kalau kak Naura menyukai kue itu".
"Lain kali kalau kamu datang kemari, kamu harus membawa kue seenak ini lagi".
"Siap kk. Aku akan membawanya untuk ibu dan kak Naura".
"Mmmm, bagus deh".
Sambil berbincang menikmati teh dan juga kue tersebut. Sekali-kali ketiga orang itu tertawa bersama hingga akhirnya Afia berkata demikian.
"Ibu, disaat kita seperti ini. Aku tiba-tiba merindukan ayah".
Kirana langsung terdiam begitu juga dengan Naura.
"Mau sejahat apapun kelakuan ayah terhadap kita. Yang namanya seorang anak pasti merindukan ayahnya".
Flashback.
"Naura! Lihat ke toko itu. Belanja kesana yok" ajak salah satu dari temannya itu. "Aku yakin yang kita cari berada disana" namun Naura yang sedang melihat Darius bersama dengan seorang wanita dan juga seorang anak laki-laki kecil membuat ia tidak mendengarkan sang sahabat hingga akhirnya ia menyentuh lengan Naura.
"Astaga!".
"Ada apa dengan mu? Kamu baik-baik saja? Kamu sedang melihat apa?".
"Akh, tidak apa-apa. Aku tidak sedang melihat apa-apa. Tadi kamu barusan bilang apa?".
"Ck, ternyata kamu tidak mendengar ku".
"Maafkan aku. Ayo, kita mau kemana".
"Ke toko itu" Naura pun langsung masuk ke dalam toko tersebut bersama dengan teman-temannya.
__ADS_1
********************
"Terus ayah waktu itu tidak melihat kak Naura?" tanya Afia.
"Mmmm, dia tidak melihat ku. Karna itu aku tidak menyukainya lagi. Dan juga untuk ibu, kalau suatu saat nanti ibu bertemu dengan dia, jangan pernah ibu mau diajak bicara. Apapun yang terjadi itu tidak boleh ibu lakukan, kalau sampai ibu lakukan, aku akan membenci ibu seumur hidup ku" jawab Naura sambil memperingati Kirana karna ia tau kalau Kirana orangnya mudah memaafkan.
"Seperti yang aku lihat. Aku sangat yakin kalau selama ini ayah sudah berselingkuh di belakang ibu. Dan kini dia sudah hidup bersama dengan wanita itu".
Kirana kemudian menarik nafas panjang, sebenarnya ia juga sudah merasakan jauh hari yang lalu sebelum mereka berpisah kalau Darius memiliki seorang wanita di belakangnya hingga akhirnya mereka benar-benar berpisah.
"Ibu!" Afia menggenggam kedua tangannya. "Semua akan baik-baik saja. Meskipun ayah sudah memiliki rumah tangga yang baru tanpa sepengetahuan kita, ibu jangan pernah berkecil hati yah. Aku dan kak Naura akan selalu ada untuk ibu".
Kirana yang mendengarnya perkataan sang putrinya itu tak mampu membendung air matanya lagi. Kirana pun langsung menumpahkan di hadapan kedua sang putri.
"Maafkan ibu".
"Ibu minta maaf karna apa?" tanya Naura.
"Ibu minta maaf sudah gagal mempertahankan rumah tangga ibu. Dan sekarang, kalian berdua yang terkena imbasnya".
"Aku tidak perduli dengan apa kata orang di luar sana. Sudah, ibu tidak usah menangis seperti itu. Aku jadi tidak selera memakan kue ini".
"Iya Bu, benar kata kak Naura. Ibu tidak usah menangis seperti ini. Kami berdua tidak merasa malu kok kalau ibu dan ayah sudah pisah. Malahan jauh lebih baik kalau kelakuan ayah seperti sebelumnya hanya membuat ibu susah. Dan sekarang ibu harus bahagia, apapun yang orang lain katakan ibu tidak usah mendengarkan mereka".
"Mmmm, aku setuju dengan Afia Bu. Berhenti memikirkan pria brengsek it...
"Kirana! Kirana!".
"Ayah!" kaget Afia langsung melihat Darius muncul di hadapan mereka. Sedangkan Naura kesal, ia yang baru saja mengatai pria itu dengan umpatan bisa-bisanya berada disana.
Kemudian Kirana melihatnya, "Sedang apa kamu disini? Kamu tidak tau malu lagi?".
Darius tertawa, "Kenapa? Kamu tidak suka melihat ku ada disini?".
"Iya, aku dan kedua putri ku tidak menyukai kehadiran mu di hadapan kami. Sekarang kenapa kamu datang kemari?".
"Wah, sombong sekali kamu Kirana".
"Sekarang kamu pergi dari rumah ku! Ayo pergi".
__ADS_1
Dan lagi-lagi Darius tertawa mendudukkan diri diatas salah kursi yang berada di sebelah Naura yang sama sekali tidak menoleh kearah Darius.
"Naura, kenapa kamu tidak melihat ayah? Kamu tidak merindukan ayah mu ini?" tanya Darius membuat Naura menyeringai kepadanya dengan wajah sinis. "Oh, sekarang kamu juga sudah berani melawan ayah mu ini hhmmm? Apa ibu mu ini sudah berhasil menghasut mu supaya kamu membenci ayah?".