Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 38


__ADS_3

Namun bukannya tertidur, Hendry malah menimpah tubuh Afia membuat Afia gelagapan seperti tau maksud dari Hendry saat ini. Kemudian Hendry menutup pintu, ia menanggalkan satu persatu pakaiannya hingga kini tubuh Hendry terlihat polos tampa di baluti sehelai benang pun. "Hend, kamu mau melakukan apa?".


"Kenapa?" senyumnya menarik tangan Afia menyentuh kejantanannya yang sudah menegang sedari tadi. Tetapi Afia yang belum pernah menyentuhnya, dengan cepat ia langsung menarik tangannya.


"Tidak Hend. Aku tidak mau melakukannya, rasanya sangat sakit. Kalau gitu aku pulang saja".


"Kamu akan pergi?".


Afia menghentikan langkahnya, ia membalikkan badan melihat Hendry yang sedang melihatnya dengan tatapan kecewa. "Hend, aku sangat takut kalau sampai aku hamil. Apa kamu tidak memikirkan itu?".


"Kamu tidak akan hamil hanya sekali melakukannya. Percaya kepada ku".


"Kalau aku hamil apa yang akan kamu lakukan? aku belum siap Hend. Dan aku tidak akan tau betapa kecewanya nantinya ibu ku".


"Ya sudah kalau kamu tidak mau kamu boleh pergi".


"Kamu marah?".


"Tidak, untuk apa aku marah? pergilah. Aku ingin tidur".


"Dengan tubuh seperti itu?".


"Kenapa kalau dengan tubuh seperti ini? tidak akan ada yang melihatnya. Kenapa kamu belum pergi?".


"Aiiss" kesal Afia melihat Hendry membaringkan tubuhnya menatap keatas langit-langit kamarnya tampa perduli dengan tubuhnya. "Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi kamu harus berjanji akan melakukannya dengan lembut".


Hendry pun langsung tersenyum bahagia melihat Afia berjalan kearahnya. "Kenapa kamu tidak jadi pergi Afia ku sayang?" tanyanya membawa Afia keatas pangkuannya.


"Kalau aku pergi kamu akan merah kepada ku".


"Aku sudah mengatakan kepada mu kalau aku tidak akan marah".


"Di mulut saja. Kamu pikir aku akan mempercayainya?".


"Baiklah. Sekarang bisa kita mulai?".


"Mmmmmm".


.


Hari semakin sore, Hendry dan Afia yang kelelahan masih tertidur pulas tampa mereka sadari malam telah tiba.


DDDRRRTTTT... DDDRRRTTTT...


Hendry membuka mata, ia langsung menyambar ponselnya. "Ada apa Bian?".


"Kamu dimana? tadi sore Dafa kecelakaan motor".


"Apa?" kaget Hendry sampai membuat Afia yang berada di sampingnya terbangun. "Ok, aku akan kesana sekarang juga".

__ADS_1


"Mmmm".


Kemudian Hendry memasuki kamar mandi. Dengan kening mengerut Afia memungut pakaian sekolahnya dari atas lantai. Tidak menunggu beberapa lama Hendry keluar, ia melihat Afia sedang menatapnya dengan wajah kebingungan, tetapi ia tidak mengajukan pertanyaan.


"Fia aku harus kerumah sakit".


"Ada apa?".


"Dafa kecelakaan dan sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit. Tidak apa-apakan aku tinggal kamu?".


"Apa kamu akan kerumah sakit dengan pakaian itu?".


"Iya, nanti aku sekali membawa semua barang ku kemari".


"Oh ya sudah. Pergilah, kamu hati-hati dijalan atau kamu punya uang? inih, pakailah untuk ongkos kamu".


"Terima kasih sayang uummcchh".


Begitu Hendry pergi, Afia menyempatkan diri untuk membersihkan rumahnya. Setelah itu ia pergi, "Sudah malam saja, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu".


Sesampainya ia dirumah, ia melihat sang ibu sedang menyiapkan makan malam diatas meja. "Afia pulang bu".


"Loh kamu sudah pulang saja Fia? kamu enggak kerja?".


"Iya bu hari ini Fia enggak kerja. Tadi Afia menemani teman Afia yang kemarin Fia bawa kerumah cari rumah kontrakan sekitaran sini".


"Terus? apa kalian sudah menemukan rumah yang bagus untuknya?".


"Oh, berapa Fia?".


"Mahal bu, sangat mahal. Oh iya bu, kemarin Fia sudah gajian, tapi Fia tadi meminjamkan kepada dia, jadi uangnya besok ajah ya bu".


"Iya tidak apa-apa. Sepertinya kamu sangat menyukai dia".


"Ah ibu bisa ajah. Kalau gitu Fia mandi dulu yah bu".


"Iya nak".


Afia langsung masuk kedalam kamar, dengan tubuh yang terasa sangat lengket ia mengambil handuk dan juga pakaiannya tampa memperdulikan Naura yang sedang menelpon dengan pacarnya. "Kenapa kamu pulang? kamu enggak kerja?".


"Enggak kk".


"Kenapa? tumben tidak seperti biasanya".


"Tadi aku menemani teman aku carikan rumah kontrakan disekitar sini".


"Siapa? dia laki-laki atau perempuan?".


"Teman aku yang kemarin aku bawa kemarin kk".

__ADS_1


"Laki-laki itu?".


"Iya".


"Wah.. Aku curiga nih. Dia teman kamu atau pacar kamu?".


"Teman kk".


"Kamu tidak usah membohongi aku Fia, kamu pikir aku enggak tau dari cara kamu menjawab pertanyaan ku. Tapi lumayan sih, dia tampan. Cuman dia orang miskin, kamu mau hidup miskin terus? harusnya kamu itu cari laki-laki yang sedikit berada kek. Ini kamu malah mencari laki-laki yang tidak ada bedanya dari kita".


"Tidak apa-apa kk, yang penting dia baik. Udah ah, aku mandi dulu" balas Afia meninggalkannya menuju kamar mandi.


Didalam kamar mandi Afia membuka semua pakaiannya, kemudian menyiram kewanitaannya yang masih terasa sakit. "Kenapa rasanya masih perih sekali? Hendry memang tidak bisa melakukannya dengan lembut. Bahkan kewanitaan ku sampai bermerah seperti ini".


Tidak lama kemudian Afia segera keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian tidur, lalu ia melihat Darius bersama dengan seorang pria yang tidak ia kenal. "Afia kamu kemari" panggilnya.


"Iya ayah" angguk Afia mendekati mereka.


"Duduk".


"Iya ayah" dengan senyum mengembang di wajah Darius, ia memperkenalkan pria tersebut kepadanya. "Dia siapa ayah?".


"Dia Andi calon suami kamu. Andi, ini putri ku yang jauh hari aku ceritakan".


"Ayah" kaget Afia melihatnya. "Maksud ayah apa? ayah menjodohkan Afia dengan pria ini? ayah yang benar saja, Afia masih sekolah".


"Kamu diam saja. Emang kenapa kalau kamu masih sekolah? tidak ada yang salah kan?".


Lalu ibunya Afia yang mendengar dari belakang, ia pun langsung bertanya. "Ada apa ini? siapa yang barusan ayah jodohkan? ayah jangan pernah berani-berani menjodohkan putri ku. Apalagi Afia saat ini masih SMA, sebagai ibu aku tidak akan pernah merestui. Ingat itu ayah, sekarang kamu masuk kamar Fia, kamu tidak usah mendengarkan apa yang barusan ayah mu bicarakan".


"Iya bu".


Lalu Darius tertawa bangkit berdiri menatap tajam istrinya. "Kamu berani melawan ku?".


"Itu semua karna..


PPLLAAKK..


"Jangan sekali-kali kamu melawan perintah ku kalau kamu masih tetap ingin menjadi istri ku".


"Hahh.. Kamu pikir aku takut setelah aku membiarkan kamu selana ini sesuka hati mu memperlakukan kedua putri ku. Jangan harap apa-apa lagi, aku sebagai istri kamu tidak butuh kamu lagi. Silahkan ceraikan aku, mulai dari sekarang aku tidak perduli kepada mu lagi. Sudah cukup penderitaan yang selama ini aku tanggung".


"Apa? kamu barusan bilang apa?".


"Cerai, aku mau kita berdua bercera..


PPLLAAKKK..


"Kamu bilang apa?".

__ADS_1


"Aku bilang cerai bajingan" jawabnya berteriak di wajah Darius. "Sekarang kamu pergi dari rumah ini, rumah ini adalah peninggalan kedua orang tua ku, jadi kamu tidak punya hak lagi di rumah ini. Pergi, pergi... Kamu juga pergi dari rumah ini" usirnya kepada Andi yang tidak tau apa-apa.


__ADS_2