
"Apa yang sedang kamu lakukan?".
Deng!
Kedua mata Afia membulat, ia mendengar suara itu membuat tubuhnya bergetar sangat takut, sedangkan panggilan tersebut telah di angkat oleh Hendry dang beberapa kali berkata. "Ini siapa?".
Afia lalu memutar tubuhnya, benar sekali kalau orang itu adalah Dina yang sedang menatapnya tajam dengan kedua tangan mengepal.
PPPLLLAAKKK...
Tamparan yang begitu sangat Afia benci mendarat kembali di pipi mulusnya. Kemudian Freya yang berada di samping Dina merampas ponsel itu mengembalikan kepada pemiliknya sambil mengusirnya dari sana.
"A-aa...
PPPLLLAAKKK..
Lagi-lagi tamparan itu mendarat di pipi Afia. Namun bukan sampai disana saja, Dina kembali menampar wajahnya sampai ia merasa puas dan benar-benar merasa puas.
"Haahhh.. Hahahaha" Afia tertawa. Ia menatap kedua orang itu dengan air mata berderai dari pelupuk kedua bola matanya, tetapi tidak dengan mimik wajah Afia yang merasa marah dan kecewa kepada mereka.
"Apa sekarang Tante Dina sudah merasa puas? Hhmmm?".
Dina terdiam begitu juga dengan Freya.
"Kenapa? Kenapa Tante tidak menjawab ku? Kenapa Tante tidak menjawab ku?" Suara Afia terdengar semakin meninggi, dan Dina yang tidak menyukai di perlakukan seperti ini kembali hendak ingin menampar wajahnya, namun Afia yang tidak tinggal diam, ia langsung menahan pergelangan tangan Dina.
"Jangan karna selama ini aku mendiamkan semua yang telah Tante lakukan kepada ku aku akan tinggal diam. Maaf Tante, sekarang sudah saatnya aku melawan".
Dina pun tertawa.
"Yah! kamu pikir kamu siapa sudah berani mengancam ku hahhh? Kamu pikir kamu siapa?".
"Benar, aku bukan siapa-siapa berani berkata demikian kepada nyonya dari keluarga Mapolo. Tapi, aku tidak suka kepada orang yang sudah menginjak harga diriku seperti ini, dan aku tidak peduli mau itu ibu dari ayah bayi ku" jawab Afia membuat Dina menyeringai semakin sinis melihatnya.
__ADS_1
Kemudian Freya ikutan tertawa bertepuk tangan tidak habis pikir dengan Afia yang sudah berani melawan orang besar dari perusahaan terkemuka di negara tersebut bahkan Dina adalah pemilik rumah sakit nomor 1.
"Mulai hari ini juga, kamu angkat kaki dari rumah ku" ucap Dina menekan setiap kalimat perkataannya. "Aku tidak sudih melihat orang seperti mu tinggal dirumah ku dan membuat rumah ku kotor".
Afia pun langsung terdiam, ia tiba-tiba merasa menyesal telah melawan perkataan Dina dan ia juga tidak berpikir sampai kesana kalau Dina akan mengusirnya dari istana keluarga Mapolo.
"Ta-tante...
"Hahahaha" Freya tertawa gembira lagi melihat kecemasan di wajah Afia. "Rasain, harusnya kamu itu sadar diri. Ini kamu malah dengan beraninya melawan Tante Dina. Dan sekarang kamu di usir dari istana yang pastinya sudah lama kamu idam-idamkan. Iya kan?".
"Ti-dak. Aku tidak pernah...
"Diam!" potong Freya melihat air mata Afia menetes. "Astaga Afia, tidak usah mengeluarkan air mata seperti itu. Air mata mu itu adalah air mata buaya" setelah itu Dina pergi meninggalkan mereka berdua. Dan lagi-lagi Freya tertawa gembira melihat Afia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menangis menyesali apa yang baru saja dia lakukan.
"Ckckck.. Kamu sungguh menyedihkan sekali Afia yang malang. Sekarang harapan mu untuk menjadi salah satu bagian dari keluarga Mapolo seketika usai.. Dan kamu akan kembali kepada kehidupan mu yang semula hahahaha".
Mendengar itu Afia pun semakin menumpahkan air matanya, ia mencoba mendekati Freya, namun sayangnya Freya malah pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
"Hiks.. hiks.. hiks.. Bodoh, aku sungguh bodoh sekali telah berani melawan Tante Dina. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Tuhan, apa yang harus aku lakukan hiks.. hiks.. Tolong aku Tuhan, aku benar-benar tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan hiks.. hiks...".
Di kediaman istana keluarga Mapolo, Afia telah berada di dalam kamar, meskipun dia sudah di usir dari sana, tetapi ia tidak berniat untuk angkat kaki meninggalkan rumah tersebut.
Dan sekarang ia bingung, bagaimana jika nantinya Dina memberitahu Abbas kalau ia sudah berani melawan istrinya. Pastinya Abbas akan membela istrinya tanpa harus mendengar penjelasannya.
Tok... Tok... Tok...
"Afia! Afia!" panggil Siska dari balik pintu kamarnya. Dan itu membuat Afia semakin ketakutan. "Yah, Afia! Apa kamu tidak mendengar ku?" panggil Siska lagi sampai berulang kalinya. "Yah, kalau kamu tidak membuka pintu ini dalam hitungan 3. Jangan salah aku kalau kami mendobrak pintu dan menyeret mu dari dalam sana. Apa kamu masih tidak mendengar ku?".
Ceklek!
Siska tersenyum sinis, "Akhirnya kamu takut juga dengan ancaman ku. Sekarang ayo bawa dia" ucap Siska kepada rekan kerjanya.
Dengan secara paksa mereka pun langsung membawa Afia pergi dari sana menuju ruang keluarga dimana Abbas, Dina dan Freya menunggu kedatangan dirinya.
__ADS_1
Abbas lalu bangkit berdiri, ia melangkah mendekati Afia dengan tatapan kecewa setelah mendengar penjelasan Dina yang sudah berani melawan istrinya itu.
Sedangkan Afia yang merasakan setiap langkah kaki Abbas membuat ia segera bersujud di bawah kakinya, tetapi Amarah Abbas yang sudah berada di ubun-ubun, ia pun menampar pipi kanan Afia hingga seketika penglihatan Afia menghitam akibat tamparan tersebut begitu sangat kuat melebihi tamparan yang pernah ia rasakan.
"Sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini, kami tidak sudih memiliki calon menantu seperti mu. Pergi!".
Namun Afia yang belum bergerak juga dari posisi, Abbas menyuruh mereka membawa Afia pergi meninggalkan istananya. Dan tanpa melawan mereka, Afia yang masih merasa pusing hanya bisa pasrah apapun mereka lakukan kepadanya.
"Siska tolong lepaskan, aku merasa pusing" ucap Afia saat mereka berada diluar.
Tidak peduli dengannya, Siska tetap menyeret dirinya sampai keluar pagar bersama dengan teman-temannya hingga mereka mendorong tubuhnya begitu sampai di pagar. Lalu si petugas keamanan dirumah itu bertanya kepada Siska apa yang sedang mereka lakukan kepada Afia.
"Dia baru saja di usir dari rumah ini" jawab Siska.
"Apa?" si petugas itu terkejut. "Tapi kenapa? Bukankah dia...
"Ya mana kami tau. Kenapa kamu tidak tanya saja kepada tuan Abbas dan nyonya Dina? Ayo".
Si petugas itu lalu melihat Afia terlihat sangat menyedihkan sekali tergeletak, "Tolong aku, aku mohon tolong aku" ucap Afia dengan suara nafas tersengal-sengal.
Pria itu mendekatinya, "Tolong aku, aku mohon tolong aku dan bayi ku" ucap Afia kembali.
Si pria itu pun akhirnya membawa tubuh Afia pergi dari sana, namun setelah itu Afia tidak tau apa yang terjadi kepadanya.
"Hahahaha, akhirnya wanita sialan itu pergi juga dari rumah ini" ujar Siska tertawa senang. "Entah kenapa, pertama kali aku melihat dirinya aku benar-benar tidak menyukainya. Ditambah tuan Hendry memperlakukan dia bagaikan putri raja".
"Hey, apa kamu baru saja cemburu?".
"Haahh? Yang benar saja aku kamu bilang cemburu. Asal kamu tau yah, aku itu....
"Ada apa?".
"Akh Nyonya" kaget mereka. "Tidak ada apa-apa nyonya, kami hanya mengobrol saja seperti biasa nyonya".
__ADS_1
"Hahahaha.. Iya nyonya" sambung mereka.