Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 57


__ADS_3

Hendry membuka mata, ia tidak melihat Afia berada di sebelahnya. Ia lalu menurunkan kedua kakinya berjalan memasuki kamar mandi membasuh wajahnya. Setelah itu Hendry keluar dari dalam kamar menuju lantai bawah langsung melihat Abbas bersama dengan Dina sedang menyeruput segelas kopi panas.


"Selamat pagi pa ma" ucap Hendry kepada kedua orang itu.


"Pagi juga Hendry" balas mereka. "Ayo duduk sayang, ada hal penting yang ingin mama sama papa bicarakan dengan mu".


Hendry melihat kiri kanannya, "Afia dimana ma? Apa mama melihatnya?".


Dina pura-pura tidak tau sembari mengangkat kedua bahunya, sedangkan Abbas ia tengah asik membaca korannya sehingga ia tidak mendengar pertanyaan Hendry.


"Ayo duduk dulu sayang, paling Afia sedang jalan-jalan melihat sekitar rumah kita" ucap Dina membawa Hendry duduk di sebelahnya. "Kamu dengarkan mama baik-baik yah Hendry".


"Apa itu ma?".


"Mama sama papa ingin kamu melanjutkan pendidikan kamu sayang di luar negeri".


"Apa? Hendry tidak mau ma. Aku tidak mungkin meninggalkan Afia yang sedang hamil disini".


Abbas kemudian menghentikan korannya melihat Hendry yang benar-benar tidak mau meninggalkan Afia tanpa mereka sadari kalau di ujungnya sana Afia tengah mendengarkan percakapan itu.


"Benar kata mama kamu Hendry, papa juga setuju kalau kamu melanjutkan pendidikan mu di luar negeri. Papa rasa kamu juga tau kalau Abian, Dafa dan Chan melanjutkan pendidikan mereka diluar negeri. Masa kamu mau disini juga?".


"Aku tidak perduli pa, aku akan tetap kuliah disini. Aku tidak mungkin meninggalkan Afia yang tengah mengandung".


"Papa tau Hendry. Kamu tidak usah khawatir, dia akan baik-baik saja selama masih berada di rumah ini".


"Iya sayang, percaya sama papa dan mama yah. Kami berdua janji akan merawat dia dengan baik asalkan kamu benar-benar fokus dengan kuliah kamu".


Hendry terdiam, yang ia pikirkan saat ini ia tidak mungkin meninggalkan Afia yang tengah mengandung anaknya. Dan bagaimana juga kalau tengah malam Afia merasa sakit atau hal lainnya? Itu yang membuat Hendry sangat bimbang jika ia pergi meninggalkan Afia di dalam rumah tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi diam Hendry? Ayolah sayang, kamu itu pewaris satu-satunya keluarga Mapolo dan suatu saat nanti kamu juga yang akan menjalankan perusahaan itu kalau papa kamu jatuh sakit".


"Aku tidak mau ma. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Afia. Bagaimana jika tengah malam nanti dia mencari ku? Dan bagaimana juga kalau dia tiba-tiba ingin memakan sesuatu dan juga merasa sakit di bagian perutnya? Apa aku mungkin bisa ma? Laki-laki macam apa aku ini meninggalkan dia disaat seperti ini? Aku tidak bisa ma. Maaf".


Dina menarik nafas panjang. Afia yang sedang memperhatikan mimik wajah Dina dari kejauhan, ia sangat yakin kalau Dina saat ini benar-benar sangat membencinya.


"Ya Tuhan, baru saja aku ingin bahagia bisa tinggal dirumah semewah ini bersama dengan Hendry. Tapi nyatanya, impian aku seketika lenyap dan harus mengikhlaskan kalau memang akhirnya Hendry kuliah di luar negeri".


Afia kemudian pergi dari sana, ia berjalan menuju taman itu kembali dengan wajah sedih. "Yah kamu?" panggil salah satu pelayan muda itu.


Afia pun langsung melihatnya, "Iya, ada yang bisa aku bantu?".


"Mmmmm, tapi terlebih dahulu kita kenalan dulu. Nama ku Siska, kamu?".


Afia membalas tangannya, "Nama ku Afia, kamu panggil saja Fia. Terus apa yang bisa aku bantu?" tanya Afia.


"Aku takut Siska, aku sangat takut" jawab Afia bersembunyi di balik tubuh Siska membuat Siska kesal melepaskan pelukan Afia. "Maaf".


Siska membentaknya, ia kemudian mendorong tubuh Afia sampai tercampak tepat di depan kandang binatang buah tersebut dengan air matanya langsung menetes. Namun saat itu juga, Afia merasakan sesuatu yang sangat kasar menji*lat air matanya.


Afia lalu terdiam, ia pikir binatang itu akan memakannya atau mencabik-cabik tubuhnya melihat harimau tersebut sangatlah besar sehingga setiap mereka yang melihatnya akan sangat ketakutan. Namun berbeda halnya dengan Afia, harimau itu malah membungkukkan tubuhnya.


Afia lalu tersenyum senang, ia memanggil Siska yang berada di belakangnya. Tetapi ia tidak melihat Siska lagi berada disana.


"Loh, kemana dia perginya?".


Afia kemudian tersenyum kembali melihat si harimau, ia mencoba untuk mengulurkan tangannya di kepala harimau itu dengan lembut sampai membuat si harimau sangat menyukainya.


"Wah, ternyata kamu sangat baik sekali. Aku pikir tadi kamu akan menerkam ku, ternyata tidak hehehehe. Aku menyukai mu, siapa nama mu? Akh iya aku lupa kalau kamu kan seekor harimau" Afia pun semakin gemas mengusap kepala si harimau. "Nama ku Afi...

__ADS_1


"Afia...! Fiaaa!" panggil Hendry.


Afia yang mendengar namanya di panggil, ia pun tersenyum senang tau kalau yang memanggil namanya itu adalah Hendry. "Oo, itu Hendry. Kamu dengar suara itu kan? Dia itu pria yang sangat aku cintai. Kamu pasti mengenal ya kan?".


Afia lalu bangkit berdiri berjalan meninggalkan si harimau melihat Hendry datang bersama dengan Abbas, Dina dan juga beberapa petugas dirumahnya yang bertubuh kekar membuat ia bingung ada apa dengan mereka.


"Afia, kamu baik-baik saja sayang?" tanya Hendry langsung memeluk tubuhnya dengan sayang. "Sayang, kamu hampir saja membuat ku mati" Afia kemudian melepaskan pelukan Hendry, ia bertanya kenapa Hendry bertanya seperti itu.


Abbas pun melihatnya, "Kamu baik-baik saja? Kamu tidak kenapa-kenapa kan?".


Afia tersenyum mengangguk tanda ia tidak kenapa-napa. Setelah itu baru mereka bisa menghela nafas legah.


"Fia, kamu kenapa bisa ada disini? Ini bukan tempat yang bisa kamu datang untu.....


"Aku menyukai tempat ini Hendry. Oh iya, harimau itu sangat baik sekali Hendry, aku baru saja berteman dengannya hehehhe.. Aku benar-benar sangat menyukainya".


"Apa?" kaget mereka dengan mata membulat tidak percaya dengan apa yang baru saja Afia ucapkan. "Maksud kamu Fia?".


"Mmmm, harimau itu sangat baik sekali. Aku yakin itu pasti binatang peliharaan om Abbas".


Abbas lalu berjalan mendekati kandang harimau ya yang sangat ganas, ia kemudian melihat si harimau malah menatap mereka dengan mata tajam hendak ingin menerkam mereka dan itu langsung membuat mereka tidak bisa mempercayai perkataan Afia.


"Afia, harimau itu tidak mungkin...


"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya Hendry kalau harimau itu tadi.. Tidak mungkin aku berhalusinasi, jelas-jelas aku masih sempat mengobrol dengannya" jawab Afia melihat Abbas mendekati harimau tersebut.


"Kamu lihat itu Fia? Papa saja yang sudah memelihara dia sejak kecil tidak terlalu dekat dengannya. Apalagi kamu yang sama sekali tidak dia kenal?".


"Masa iya sih aku berhalu? Tapi rasanya itu seperti nyata sekali Hendry".

__ADS_1


__ADS_2