Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
001-Honey


__ADS_3

Senin pagi yang super super sibuk di tengah ibu kota megapolitan. Setiap pekerja lepas, buruh, orang kantoran pasti sedang berbenah diri untuk berangkat kerja.


Demikian juga dengan Honey. Di sebuah kamar kos berukuran 3X4, di dalam kamar mandi.


“Sh-iit,” tanpa sengaja siku Honey terantuk pada kran air di dekatnya.


“Arggghhhh. Keran air, kenapa kamu harus berada di situ?” umpat Honey pada keran air yang sedang menjalan kan tugasnya yaitu mengisi penuh tong air berwarna biru dalam kamar mandi sempit itu.


Setelah sikat gigi, Honey mengambil botol Shampo Sunsilk kuning kosong dari tempat peralatan mandinya.


“Ya mana shampo habis,” ia kemudian mengisi botol kosong itu dengan air dari keran kemudian menuang shampo yang sebagian besar isi nya air ke kepalanya.


“Lumayan, yang penting rambut harum dan nggak lepek.”


Ia mulai menyabuni tubuhnya dengan sabun kesehatan lifeboy berwarna merah.


Beberapa saat kemudian deru kencang suara keran air mulai melemah, air mengalir semakin sedikit hingga kemudian berhenti. Hanya tersisa beberapa tetes air yang menetes dari mulut keran lumutan itu.


Ya, setiap hari, ibu kos hanya menjatahi air jalan selama 7 menit setiap kamar. Cukup atau tak cukup itu urusan si penghuni kos.


Honey memperhatikan keran air yang letaknya sejajar bahu nya.


Seharusnya di sini, pas dengan tong air. Bu Sora pasti sengaja meletak keran air di sini agar bunyi air mengalir terdengar hingga ke luar. Ckckckk


Seperti itu lah Honey, ia selalu salfok dengan keran air setiap masuk kamar mandi.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Honey membilas tubuhnya hanya dengan empat gayung saja, sisa air dalam tong air bisa di gunakan mandi nanti sore, sekalian cebok, kencing, cuci baju dan lain lain.


Ia menarik handuk yang menggantung pada dinding pintu kamar mandi kemudian berdiri di hadapan cermin tak seberapa besar yang terletak di satu sisi dinding kamar mandi.


Kilau gemilau air terpancar dari badannya akibat terkena pantulan dari lampu kamar mandi. Bukan karena sok kinclong, kilauan air itu karena Honey tidak membilas bersih tubuhnya dari sisa sisa sabun mandi.


Namun dengan masa bodohnya ia mulai menyeka sisa air yang menempel di tubuhnya hingga kering.


Honey bergegas keluar, menyambar pakaian yang sudah tersedia di atas kasur..


Kaos berwarna putih senada dengan jins biru.


Pekerjaan kuli harus ia lakukan, ia butuh style se simple mungkin agar leluasa dalam bekerja.


Ckckck Honey, hidup mu sungguh mengenaskan. Namun dengan senyum ceria, Honey bangkit dari duduk nya menatap pintu. Kini ia siap menjemput rejeki halalnya di sebuah toko kue milik bu Tini.


Pukul 06:20. Honey berlari menuju toko kue Murtini, beberapa blok dari kos kosan nya berada. Tidak boleh terlambat, atau ia akan kena sanksi.


Sambil berlari, honey terus khawatir akan sepatu kets putih reot kesayangan nya. Berlari cepat seperti itu bisa saja merusak sepatu nya. Sepatu yang di berikan almarhum ayah nya saat masuk kelas 10 SMA. Sepatu mahal dan bermerek kebanggaan nya. Namun merek terkenal yang menempel di sepatu itu tak terbaca lagi, bulu halus serta sobekan kecil mulai nampak di ujung sepatu.


“Huft Hh Hh,” sambil ngos ngosan Honey berhenti tepat di sebrang jalan toko kue murtini. Logo Murtini cake and cafe terpampang besar di atas toko. Sok ke engilish englishan. Padahal sebagian besar kue yang di jual adalah kue kampung.


Ya toko Murtini adalah toko kue kampung paling terkenal di jalan Antasari. Toko kue yang selama 4 tahun terakhir menjadi tempat menyambung hidup Honey sebagai pembuat kue. Di toko itu, kue yang paling laku keras adalah kue buatan Honey pastinya.


Bangga sedikit nggak apa apa, jika banyak orderan kue Honey dapat bonus dari bu Tini loh. Itulah mengapa Honey selalu berusaha mebuat kue seenak mungkin. Agar mendapat bonus tentunya.

__ADS_1


Abaikan basa basi nya.


Honey harus segera masuk, dari balik kaca bu Tini sudah berdiri menatap keberadaan Honey di sebrang jalan.


Memasuki pintu toko, bu Tini dengan gaya khasnya. Berdiri di samping meja kasir, kedua tangan di atas pinggang serta dengan wajah tegasnya siap mengomel Honey.


“Pagi bu,” sapa Honey dengan senyuman mengambang sempurna pada wajahnya.


“Terlambat dua menit! Lap etalase kue hingga kinclong. sebelum jam 11 malam belum boleh pulang, bersihkan dapur hinggah bersih, itu hukuman kamu karena terlambat,” ucap bu Tini dengan suara lantang.


“Baik bu,” jawab Honey ramah.


Bu seettt terlambat dua menit hukuman nya lembur sejam.


Namun harus bagaimana lagi? Di toko kue sekaligus kafe itu, perintah bu Tini adalah mutlak.


Masih dengan senyum mengambang, honey langsung berjalan menuju dapur.


.


.


.


To be continued ⬇️

__ADS_1


__ADS_2