
Karmila sudah berada di sebuah ruangan. Ruangan yang masih dipenuhi berbagai alat untuk memantau perkembangan Karmila pasca operasi.
Hingga pagi menjelang Caramel masih setia menunggu di samping Karmila. Ia duduk di sebuah kursi persis di samping ranjang. Tangan nya sedang menggenggam jemari Karmila.
“Bu, apakah setelah ibu sadar ibu akan mengenaliku? Aku ingin menjadi Caramel. Bagaimana pun aku bukan kakak. Semoga ibu tidak membenciku lagi,” Batin Caramel.
Selang pukul sembilan pagi, sebuah kotak makanan tiba di ruangan itu.
“Buat siapa?” tanya Caramel.
“This your breakfast. The big man standing outside told me, this is for you miss,” ucap perawat blonde itu.
“Apa? Aku nggak mengerti?!” tanya Caramel.
Kemudian pintu terbuka kecil.
“Itu sarapan nyonya,” ucap Juan singkat kemudian menutup kembali pintu ruangan itu. Ia sadar Caramel selalu terlihat takut saat menatapnya.
“Ini sarapan buat ku, terima kasih,” ucap Caramel pada perawat itu. Perawat tidak menjawab ucapannya dan langsung menuju ruangan lain dimana Karmila berada. Ia memeriksa keadaan Karmila saat itu.
Caramel memakan habis semua kentang dan salad sayur dalam kemasan praktis itu.
Dan Menjelang siang hari Caramel masih terus berada di sisi ibunya. Tak ada yang bisa ia katakan terhadap beberapa dokter yang berdiri di hadapan ibunya. Bagaimana keadaan Ibunya saat itu ia tidak tau.
Kemudian sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dengan gembira Caramel langsung mengangkat.
“Kak?”
“Aku sudah sampai sayang, baru saja landing. Nanti kalau ada apa apa kamu hubungi ya. Oh ya, jika butuh sesuatu kamu bilang sama Juan. Dia masih berdiri di depan pintu kamar. Katanya kamu nggak pernah keluar kamar.”
“Syukurlah kakak sudah tiba, kakak nggak usah mikirin aku. Aku bisa jaga diri di sini. Kakak urus kerjaan kakak aja biar bisa cepat kembali ke sini,” ucap Caramel.
“Iya sayang, oh ya sudah makan?”
“Sudah, aku sudah dua kali makan. Hanya makan kentang, salad. Burger, dan salad. Aku mau makan nasi kak,” ujar Caramel.
“Sudah Juan pesankan, tadi kakak sudah hubungi Juan. Juan nggak berani ninggalin kamu, jadi dia hanya belikan kamu fast food dari restoran terdekat.”
“Oh ya, ibu sudah sadar?” tanya Keanu lagi.
“Belum,”
“Ibu pasti baik baik saja, karena kalau ada kendala pasti dokter Stuart sudah memberitahukan sejak semalam. Jangan lupa ya, aktifin ponsel kamu, jangan sampai mati biar aku nggak khawatir mencari kamu,” ujar Keanu panjang lebar.
“Iya kak,”
“Aku tutup dulu sayang, mau turun pesawat. Sampai mobil aku telpon lagi.”
“Kak, fokus urus kerjaan kakak. Kalau kita telponan mulu gimana urusan kakak bisa cepat selelsai?”
“Aku malah lebih kepikiran kamu sendirian di sana dari pada kerjaan disini. Kamu pasti takut sekarang.”
“Kak, Caramel nggak takut. Caramel baik baik saja.”
“Tetep saja masih kepikiran,” ujar Keanu.
__ADS_1
“Kak, ada dokter lagi yang datang. Aku mau lihat keadaan ibu dulu. Babay kak,”
“Bay sayang, i love you.”
Caramel langsung menutup panggilan telponnya.
Hufft kalau nggak bohong dia pasti masih terus berbicara panjang lebar. Carger hp dulu, sebelum Low bat.
Caramel berjalan menuju nakas dimana tas nya ia letakkan. Setelah mencolok ponselnya di atas meja ia langsung menuju ranjang ibunya.
“Ibu…” ia berlari mendekati Karmila. “Ibu sudah bangun?”
Mata Karmila terbelalak menatap langit langit kamar. Caramel langsung menggenggam tangan ibunya. “Syukurlah ibu sudah sadar,” caramel memencet tombol oranye di samping kepala Karmila kemudian beberapa dokter tiba di situ.
Caramel mundur beberapa langkah. Dokter dokter mulai melakukan tindakan medis kepada Karmila. Alat alat di sekitarnya di pasang kembali untuk memantau perkembangan otaknya.
“Ada apa? Ibu kenapa?” tanya Caramel.
Seorang dokter menjelaskan, tapi ia tak mengerti apa yang mereka katakan.
“Juan,” panggil caramel pada akhirnya.
“Ya Ma’am,” jawab Juan.
“Tanyakan ibu kenapa? Apa ibu baik saja?” ucap Caramel panik.
Juan mulai bertanya pada dokter disitu sesuai instruksi Caramel.
“Bu Karmila kejang, mereka memeriksa kembali kenapa bisa seperti ini,” ucap Juan dengan dialek khas bule cadel.
Juan terlihat sedang berbincang dengan seorang dokter di depan pintu kamar. Selang beberapa saat Juan masuk ke dalam kamar.
“Ma’am,”
“Bagaimana ibu?” tanya Caramel.
“Menurut dokter, yang baru saja terjadi pada ibu mu adalah reaksi dari penyakit lama. Ia shock, mungkin telah mendengar sesuatu yang membuatnya tidak suka atau kaget,” ucap Juan.
Sebelumnya aku menyebut caramel, berarti ibu mendengarnya.
“Ibu harus tetap istirahat, tidak boleh stress hingga luka operasi nya benar benar sembuh,” ujar Juan lagi.
“Ya saya mengerti,” jawab Caramel lemah dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
Dua hari pun berlalu…
Karmila sudah sadar sepenuhnya. Tapi ia masih sering diam tak banyak bicara. Saat berada di depan Caramel ia lebih memilih membuang muka tak ingin menatap wajah putrinya itu.
Sore itu, saat perawat yang merawat Karmila hendak menggantikan pakaian masuk ke dalam kamar.
“Sore Mbak,” sapa perawat itu pada Caramel.
“Mbak?”
“Kamu bisa bahasa Indonesia?” Seru caramel senang. Akhirnya ada yang bisa di ajak bicaranya sekarang.
__ADS_1
“Iya, dokter Stuart kepala rumah sakit menugaskan saya ke ruangan ini karena saya bisa bahasa,” ucap nya.
“Syukurlah.” Sambil membaca papan nama perawat itu. “Danisha?” tanya Caramel.
“Iya, Danisha adalah nama saya,” jawabnya.
“Kamu orang Indonesia?” tanya Caramel lagi.
“Sebenarnya bukan, saya asli Philipina. Saya pernah sekolah di Indonesia saat Smp hingga Sma, saat itu ibu saya bekerja di sebuah konjen kedutaan di pulau Sulawesi. Kemudian ibu saya menikah lagi dengan pria berkebangsaan Amerika jadi kami pindah kemari,” jelas Danisha ramah.
“Oohhh, ya sudah nggak apa. Yang penting aku punya teman ngobrol sekarang.” ujar caramel dan di balas senyuman oleh Danisha.
“Mbak, saya gantikan baju bu Karmila dulu,” ucap Danisha.
“Iya iya silahkan,” ujar caramel.
Kemudian ponsel Caramel kembali berbunyi. Sore itu adalah kali kelima Keanu menghubunginya.
“Kak,” sapa Caramel.
“Gimana kabar mu sayang?” tanya Keanu.
“Aku baik kak, kerjaan ku hanya makan, daduk dan membaca novel. Juan membawakan lagi dua buah novel padahal kan sudah aku larang. Baca dari aplikasi noveltoon gratis kak,” ujar caramel.
“Nggak apa, kata Juan kamu nggak suka novel yang dibelikannya karena agak horor jadi dia ganti kan dengan yang baru,” ujar Keanu.
“Kak, ada perawat yang bisa bahasa. Jadi aku nggak perlu menebak nebak kata kata dokter lagi sekarang. Makasih kak,”
“Dokter Stuart cepat tanggap. Padahal baru pagi tadi kakak minta,” ujar Keanu.
“Gimana kerjaan kakak?” tanya Caramel.
“Untung ada ibu, ibu yang bantu kakak temui keluarga para korban. Sekarang mereka mulai lebih lunak. Nggak akan menuntut perusahan,” ujar Keanu.
“Kompensasi nya?” tanya Caramel.
“Tentu saja mereka minta sejumlah uang. Korban keracunan makanan besok sudah bisa di pulangkan. Hanya saja beberapa korban akibat kecelakaan wahana masih di ICU. Masih kritis,” jelas Keanu.
“Semoga mereka segera sembuh,” gumam Caramel.
Ditengah parcakapan Caramel dan Keanu ternyata Karmila terus menyimak pembicaraan mereka.
“Bu Karmila, anda sangat beruntung memilik putri yang sangat cantik dan berbakti.” ucap Danisha.
Karmila menggelngkan kepalanya.
Anak pembawa sial, selama nya dia hanya akan menjadi pembawa sial. Lihat saja, bahkan kehidupan suaminya sekarang dipenuhi masalah karena menikahi dirinya!!!
.
.
.
To be continue ⬇️
__ADS_1