Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
072-Interogasi Didapur II


__ADS_3

Pukul satu siang sudah melebihi waktu makan siang Caramel, perutnya semakin keroncongan. Saat teman temannya itu sedang sibuk mendengar keluh kesah Rian. Tiba tiba sebuah bunyi terdengar dari dalam tas Caramel. Tas yang belum sempat di bawanya ke dalam loker, tergelatak begitu saja di dekat meja olahan kue.


“Hp siapa tuh?” tanya Raniya.


“Hp kakak kali,” ucap Aluna pada Rita.


“Nggak ah, bunyi ponsel kakak bukan gitu,” sangkal Rita.


Suara ponsel itu menjadi hening sejenak. Kemudian kembali berbunyi.


Raniya berjalan mencari sumber suara. Ia menuju ke arah meja olahan.


“Nah ini tas siapa?” tanya Raniya.


Caramel tengah mengelus ngelus perutnya yang sudah kelaparan terkejut saat Raniya mengangkat tas nya ke atas.


“Honey, itu tas kamu tadi kan?” tanya Rita.


“Oh iya,” jawab Caramel yang hampir kelimpungan sendiri. Dia hampir lupa dengan tas asing miliknya itu.


Raniya menyerahkan tas ke tangan Caramel.


“Di angkat dong, mana tau penting.” ucap Marwah.


Suara ponsel kembali berdering namun kali ini dengan nada yang berbeda.


“Tuh bunyi lagi,” ujar Raniya.


Sebenarnya Caramel bukan sedang mengabaikan ponselnya, tapi suara ponselnya sendiri ia nggak hafal. Bertahun tahun ia menggunakan ponsel usang nya, begitu mengganti ponsel, tentu saja ia lupa dengan nada dering sendiri.


Caramel merogoh ponsel dari dalam tasnya. Tulisan ‘Suamiku’ tertera di layar ponselnya. Caramel langsung menggeser tombol berwarna hijau.


“Halo,” sapa nya.


“Sayang sms suami di cuekin, ga di bales,” ucap Keanu.


“Maaf kak, lagi sibuk,” ucap Caramel.


“Hmm, sudah makan?” tanya Keanu.


Tangan caramel langsung memegang perutnya yang terus menerus keroncongan.


“Belum kak,” jawab Caramel.


“Loh kenapa belum makan? Sudah jam satu lebih loh ini.” tukas Keanu.


“Ada masalah kecil di dapur,” jawab caramel datar. Semua perhatian tamannya sedang tertuju padanya.


“Ya sudah mau makan apa? Aku pesan sekarang,” ujar Keanu..


“Kak,” panggilnya. “Nggak usah.”


“Loh kenapa? Kalau kamu sakit gimana?” tanya Keanu.


Caramel mundur beberapa langkah, “masalahnya kami semua belum makan, kalau aku sendiri yang makan nanti yang lain pada ngiler,” ucap Caramel.


“Ya sudah, aku pesan untuk enam orang,” ujar Keanu. “Mau makan apa?” tanya nya lagi.


“Apa saja boleh. Yang penting cepat, aku bener bener laper kak,” bisik Caramel.

__ADS_1


“Oke, siap sayangku. Makanan segera meluncur,” tukas Keanu kemudian menutup panggilan telpon.


Kini kelima sahabatnya itu sedang berdiri melipat tangan sambil terus menatap Caramel. Merasa sedang di pelototin Caramel akhirnya buka suara.


“Kenapa kak Mar?” tanya Caramel bingung.


“Ponsel baru, tas baru, baju baru, sepatu baru. Semua serba baru,” ucap Marwah menyelidiki.


Sedangkan Raniya mengangguk ngangguk menelaah Caramel dari ujung kaki hingga ujung kepala.


“Ponsel kak Honey E phone pro max 31 keluaran terbaru ya?” tanya Aluna.


“Hmm ini,” dengan kikuk caramel memasukkan ponselnya ke dalam tas cokelatnya.


“Itu tas Prada kan?” tanya Rita.


“Sepatunya Merk Jordan Unlimited mirip yang di pakai Miley Cyrus,” ujar Rian takjub.


“Ada yang ingin kamu jelaskan ke kami?” tanya Marwah.


“Jelaskan apa kak?” tanya Caramel bingung.


“Jelaskan kenapa membeli banyak barang barang baru dan mahal seperti itu?” tanya Marwah penuh selidik.


“Kamu sudah punya banyak uang ya Hon?” tanya Rita.


“Kamu itu selama hampir lima tahun nggak pernah boros, membeli makan aja kamu irit. Kenapa sekarang malah belanja yang berlebihan dan mahal seperti itu?” tanya Marwah lagi.


“Kak Honey jujur aja, kita kan sudah seperti keluarga. Nggak perlu merasa malu,” ujar Aluna lugu.


“Iya, pakai rahasia rahasia segala,” ucap Rian mengejek. Dalam hatinya sedang tertawa kecil, sekarang giliran Caramel yang di interogasi.


“Ini di belikan kak,” ujar Caramel terpojok.


“Itu yang belikan.” ucap nya gugup. Caramel panik. Jujur atau bohong? Ada baiknya ia berkata jujur, ia tak ingin membohongi mereka lagi, sudah cukup ia membohongi mereka dengan identitas nya yang palsu selama bertahun tahun.


“Di belikan suamiku,” ucap Caramel lemah.


Marwah terdiam. Ia menarik nafas panjang kemudian membuangnya serempak. Drama apa lagi ini? Setelah Rian dengan calon istrinya, kini Caramel dengan suami nya.


“Kamu sudah menikah?” tanya Marwah lebih santai dan di jawab anggukan kepala oleh Caramel.


Kelima rekan lainnya tercengang dengan pengakuan Caramel. Mereka ingin bertanya tapi wajah Caramel sedang di penuhi rasa bersalah. Merka tak ingin menyudutkannya dengan banyak pertanyaan lagi. Mereka memutuskan diam, biar Marwah yang menyelesaikan interogasi saat itu.


Tersimpan kekecewaan di wajah Marwah.


“Kapan?” tanya nya lemah.


“Beberapa hari lalu,” jawab Caramel.


“Maafin nggak sempat ngomong ke kalian. Karena sangat mendadak. Aku sendiri membuat keputusan yang tiba tiba, bahkan setelah menikah aku masih tidak berdaya dengan apa yang sudah ku lakukan.” jelas Caramel.


“Kamu di paksa?” tanya Raniya.


“Atau kamu hamil?” tanya Rita.


“Kak honey punya banyak hutang kali,” ujar Aluna.


Sedangkan Rian bersandar nyaman di sebuah kursi empuk milik Keanu. “Selamat Hon, kamu berhasil menangkap Jackpot milik mu,” ucap Rian santai dan terus membiarkan Caramel menjelaskan kepada teman teman nya siapa suaminya itu.

__ADS_1


“Aku nggak hamil, nggak punya hutang, ataupun di paksa. Aku menikahi pria itu karena ingin membantunya,” jawab Caramel.


“Tapi aku sadar ternyata dia melakukan itu karena mencintaiku, sekarang aku merasa beruntung telah menikah dengan nya,” ucap Caramel sambil tersenyum.


“Kamu bahagia?” tanya Marwah.


“Kak hon, apa dia orang kaya?” tanya Aluna.


“Hmmm banget,” nyinyir Rian dari kursinya.


“Siapa kak?” tanya Aluna penasaran.


“Sudah lah nanti kalian pingsan,” sahut Rian lagi.


“Tampan nggak?” tanya Rita.


“Duh ketampanan nya melebihi artis papan atas, kalian nggak bisa bayangin deh,” sahut Rian semakin nyeleneh.


“Rian!” bentak mereka karena pertanyaan mereka selalu di interupsi oleh Rian.


Rian terdiam, sedangkan Caramel tersenyum kecil. Pertanyaan beruntun mereka sudah di bantu jawab oleh Rian.


“Siapa Hon?” tanya Raniya.


Karena ulah Rian penasaran mereka semakin menjadi.


Tok tok tok


Fokus mereka akhirnya buyar ke arah pintu.


Randi memasuki ruangan itu dengan empat kantong plastik berisi kotak makanan serta minuman.


“Pesan bos, katanya di makan sekarang Nya. Nanti dia ke sini ngecek kalau belum di makan,” ujar Randi sambil meletakkan kotak kotak itu ke atas meja.


Elah gitu amat, kenapa nyonya nyonya di sini. Kan aku sudah bilang, nggak suka dengar panggilan itu. Awas aja kau Randi.


Caramel ingin memberi kode kepada Randi namun pandangan mereka tak pernah berpas pasan.


“Masih ada pesanan lain Nya?” lanjut Randi bertanya.


Caramel baru bisa mengedipkan matanya ke arah Randi.


“Oh maaf Nya, maksud saya mbak Honey. Eh mbak Caramel,” ralat Randi.


Caramel mengatup bibir nya kemudian melotot ke arah Randi.


Aduh, Kenapa sebut sebut Caramel. Aku belum mau di serang sekaligus hari ini. Jujur jujuran soal nama bisa besok atau lusa lah. Mereka seperti ingin memangsaku. Lihat wajah mereka seperti singa haus.


Marwah mendekati Randi.


“Pak Ran, makanan buat siapa? Kami nggak pesan makanan,” tanya Marwah.


“Itu pesanan bos untuk nyonya,” seketika Randi langsung menutup mulutnya yang keceplosan.


Mata mereka langsung menatap Caramel. Caramel hanya tersemyum kecil, waktu interogasinya bakal semakin panjang sedangkan perutnya seakan memaksanya minta di beri makan.


.


.

__ADS_1


.


To be continue ⬇️


__ADS_2