Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
112-Amarah


__ADS_3

Dengan hati berbunga bunga, Aluna kembali ke sisi bu Tini.


“Mereka pesan apa?” tanya bu Tini penasaran.


“Pesan Caramel bu.” ucap Aluna.


“Berapa?” tanya bu Tini.


“Satu.”


“Benerkan? Dasar preman preman kere. Cepat siap kan Caramel mereka trus kunci wifi kita. Supaya mereka langsung pulang,” tegas bu Tini.


“Baik bu,” Aluna langsung masuk ke dapur.


“Caramel satu kak Marwah,” ucap Aluna.


“Hah? Maksudnya?” tanya Marwah heran.


“Iya ada yang pesan Caramel di depan kak,” ucap Luna lagi.


“Ohh, bentar.” Marwah mengambil sebuah gelas plastik kemudian menuang Caramel kental ke dalam gelas itu.


Sementara itu Aluna menghampiri Rian, Rita dan Raniya yang sedang mengisi kue kering ke dalam kemasan toples.


“Kak Honey mana?” tanya Aluna.


“Tuh,” Rita menujuk ke arah lantai dimana Honey sedang berjongkok. Ia sedang memasang selang baru pada tong gas yang baru saja di ganti.


“Kak rian?” Panggil Aluna.


“Hmmm,” jawab Rian datar. Dia tengah fokus pada toples nya. Kue yang di susun harus rapih.


“Kakak pengen liat pria guanteng gak? Seperti malaikat dari kayangan.” Wajah Aluna berbinar mengingat sosok pelanggan yang sedang duduk di depan.


“Di depan kak, iler kak Rian pasti langsung berjatuhan saat melihatnya,” ucap Aluna.


“Udah udah sana. Lunaaa, Versi ganteng dari penilaian mata kita beda. Kamu pernah mengatakan bang Indra si penjual bakso yang sering mangkal di depan ganteng kan? Udah deh, kak Rian yakin 100%, pria yang kamu maksud sekarang pasti sebelas duabelas dengan bang Indra itu,” tolak Rian.


“Dih ga percaya, Ya sudah Aluna nikmati sendiri aja,” sambil manyun Aluna meninggalkan Rian.

__ADS_1


“Luna, tuh pesanannya sudah kakak cup seal.” ucap Marwah menunjuk gelas plastik berisi Caramel di atas nampan.


“Makasih kak Marwah.” Luna langsung membawa nampan itu keluar.


Pria ganteng yang sedang sibuk menyimak tablet di tangannya di hampiri oleh Aluna.


“Kak, ini Caramel nya.” Sambil tersenyum manis menatap Keanu.


Keanu menatap gelas di hadapannya. “Ini apa?”


“Itu Caramel kak, yang kakak pesan tadi,” jelas Aluna.


“Caramel?” Keanu memegang pelipisnya kemudian menggeleng. “Maksud saya tadi, saya ingin bertemu Caramel, Caramel Hermond.” Jelas Keanu.


Aluna mengernyitkan kedua alisnya. “Maaf kakak, tidak ada nama Caramel di sini,” ucap Aluna sinis.


Ya ampun, mereka pasti debt collector yang sedang mencari seseorang disini.


Aluna segera meninggalkan meja tersebut menghampiri bu Tini.


“Bu, matikan hotspot kita. Biar mereka segera pergi dari sini. Buruan bu,” pinta Aluna.


“Ada apa? Kenapa?” tanya bu Tini penasaran.


“Seperti mereka debt collector yang sedang mencari seseorang bernama Caramel.”


“Siapa Caramel?” tanya bu Tini.


“Apa mungkin di antara kita ada yang meminjam uang menggunakan nama Caramel?” tanya Aluna.


Bu Tini kini mengerti kenapa Aluna sekarang menjadi panik. Sambil mengangguk nganggukkan kepala, bu Tini memikirkan sebuah ide.


“Saya harus mengusir mereka pergi dari sini secepatnya.” gumam bu Tini.


Tanpa berpikir panjang bu Tini langsung menghampiri kedua pria tersebut.


“Maaf toko kami tidak menerima pelanggan. Toko kami akan segera tutup!” ucap bu Tini dengan suara besar dan tegas.


Keanu dan Randi menatap wanita paruh baya yang baru saja mengusir mereka.

__ADS_1


“Maaf bu, beri kami waktu sepuluh menit dan kami akan pergi dari sini,” ucap Randi. Mengingat wawancara sang boss akan segera berlangsung, Randi meminta waktu sebentar lagi.


“Nggak, nggak bisa! Silahkan keluar sekarang juga!” bentak bu Tini.


Keanu berdiri dari kursinya. “Berapa harga bangunan dan rumah di wilayah ini? Toko kecil 20x30 meter kuadrat ini akan saya beli. Semua akan saya bayar Cash beserta karyawan karyawannya!” Matanya membesar menatap wanita yang baru saja mengusirnya keluar dari situ.


“Ka kalian siapa? tanya bu Tini?” Nada besar yang tadinya membahana kini agak di turunkan. Ia tak berani menatap ke arah Keanu.


Randi merogoh kartu nama dari saku baju nya. “Ini kartu nama saya, dan pria ini adalah bos saya.” ucap Randi kemudian menunjuk ke arah keanu.


“Kami tidak lama di sini, bos saya harus melakukan siaran langsung, kemudian kami akan pergi dari sini.” ucap Randi ramah.


Mata bu tini melebar begitu membaca sebuah tulisan berukir dan logo Travor Primary Corp.


Randi Setiawan


Executive Assistant CEO.


081243******


“Ehm,” dehem bu Tini.


Jadi mereka karyawan dari perusahan besar itu.


“Jadi kalian ke sini hanya untuk duduk dan memesan satu gelas Caramel?” tanya Bu Tini.


Ternyata karena kami tidak memesan. “Saya akan pesan sebelum pergi dari sini.” ucap Randi.


Saat Randi dan bu Tini berbincang, Honey keluar dari pintu menuju sebuah rak pajangan kue kering.


Mata Keanu langsung tertuju ke arah Honey. Setiap gerakan yang di lakukan Honey dilirik dengan sangat intens. Emosinya mereda, amarah nya sirna. Ia hanya terus menatap Caramel tanpa menoleh ke arah manapun.


“Caramel?”


.


.


.

__ADS_1


To be continued ⬇️


__ADS_2