
Tatapan mata kak Marwah, kak Rita, kak Raniya dan Aluna terus meminta penjelasan. Mereka merasa asing saat berada di dekat Honey sahabat mereka.
“Pagi semuanya,” suara lemah Rian tiba tiba dari arah pintu.
Mata Marwah, Rita, Raniya dan Aluna beralih ke arah pintu. Pria itu dengan agak pincang berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Maaf Rian terlambat setengah jam,” ucap Rian agak manyun.
“Rian?” ucap mereka serempak dengan wajah yang tak kalah shock.
Caramel berbalik badan ke arah pintu.
“Kak Rian, a ada apa ini?” ucap Caramel terkejut.
Marwah dan semua orang di situ langsung menghampiri Rian.
“Siapa yang memukul kamu?” tanya Raniya dengan suara marah sekaligus sedih.
“Apa yang terjadi dengan wajah kamu Mur?” tanya Marwah.
Dari balik wajah yang babak belur Rian menatap kesal ke arah rekan rekan nya. “Di gebukin calon. ashhhh” desah Rian sambil menahan rahangnya yang kesakitan. “Aku malas cerita sekarang. Aku masih kesal,” ujarnya.
“Ayo cerita, siapa yang pukul kamu?” Tanya Rita.
“Mau cerita nggak, biar gue santet itu preman yang mukulin kamu!” bentak Raniya.
“Kak Rian harus cerita, kalau nggak, berarti kakak nggak anggap kita teman kak Rian lagi,” ucap Aluna.
“Harus kah aku ceritakan sekarang? Ceritanya sangat panjang,” ucap Rian menatap Raniya dan Marwah. Walaupun sebagian cerita sudah di ceritakan nya pada Caramel. Tapi bercerita pada wanita wanita garang di hadapannya itu sungguh sebuah petaka bagi Rian.
“Nggak peduli sepanjang apa, ayo cerita,” bentak Marwah.
“Kak Rani, bau gosong,” seru Aluna seraya mengendus ngenduskan hidungnya.
“Ran kue kamu kan?” ucap Marwah.
Dalam sekejap mereka berlari menuju oven. Mufin coklat buatan Raniya sudah berubah menjadi hitam.
“Yaaa kan, Shii iitt,” umpat Raniya.
“Matiin kompor dulu dong Lun,” teriak Marwah karena ternyata kompor saat itu sedang menyala.
“Iya tadi aku abis lelehkan gula, eh malah lupa,” ujar Rita.
“Ini adonan di peram berapa menit?” tanya Raniya.
“Lima belas menit aja kak.” Sahut Aluna
__ADS_1
“Nah ini sudah berapa menit?” tanya Raniya.
“Mungkin 25 menit,” jawab Aluna.
“Ya udah bantet dong,” ucap Raniya kesal. “Masih bisa gak ya?”
“Nggak bisa kak, buang waktu aja kalau nanti bantet,” ujar Caramel kemudian langsung mengambil alih pekerjaan rekan rekannya itu.
“Biar aku buat adonan baru kak, buat brownies aja ya,” ujar Caramel.
“Apa aja Hon yang penting cepat,” ujar Marwah.
“Aku buat donat goreng aja ya,” ucap Raniya.
“Rian bantuin apa dong?” tanya Rian.
Kelima mata rekannya itu menatap ke arah Rian.
“Kamu duduk diam di sana, jangan ke mana mana. Sudah babak belur gitu masih mau bantuin kita,” tolak Marwah.
Dengan patuh Rian menuju kursi yang biasa di duduki Keanu saat berada di dapur itu.
Rekan rekan nya yang lain bergerak cepat membuat dua jenis kue yang akan di bawa ke kantin. Mengingat waktu sudah jam sebelas, mereka tidak bisa membuat kue lebih banyak ataupun kue yang ribet. Yang paling penting ada beberapa jenis yang terpajang di kantin perusahan. Atau para karyawan lain akan mulai mencerca mereka dengan kata kata anak kesayangan bos.
Jam dua belas tepat kue buatan mereka sudah di ambil oleh pelayan kantin. Saat nya bagi kelima orang itu beristirahat. Namu seketika mata mereka tertuju ke arah Rian.
Hufftttt… kak Rian menyelamatkan ku. Jika kak rian tidak datang dalam keadaan seperti itu, mereka pasti akan mencerca ku dengan penampilan baru ku ini.
Sedangkan Raniya dan lainnya ikut menunggu jawaban dari Rian.
Mata wanita wanita itu menatapnya garang, jawaban harus ia berikan atau mereka tidak akan membiarkannya makan siang itu.
“Kak Deny,” jawab Rian singkat.
“Siapa kak Deny?” tanya Raniya ikut ikutan dari belakang Marwah.
Rian melirik Caramel yang berdiri di paling belakang. Bahkan Caramel tidak bisa membantunya saat itu.
“Siapa kak Deny?” desak Marwah tegas.
“Kakak nya Stefany,” jawab Rian.
“Lah siapa Stefany?” tanya Rita.
“Iya siapa Stefany?” tanya Aluna ikut ikutan.
“Calon istriku,” ucap Rian pelan.
__ADS_1
“Apa? Calon apa?” tanya Marwah sambil memajukan kepalanya.
“Calon istri kak Mar,” jawab Rian lantang sekaligus kesal.
Sudah kepalang basah, ya mengaku saja. Perbuatan yang di anggap nya aib itu akhirnya harus ia buka di hadapan rekan rekan nya. Bukan malu karena menghamili anak orang, bukan juga malu karena karena melakukan aib di luar nikah. Rian hanya masih belum terima jika ia harus mengakui bahwa dirinya adalah pria. Jiwa kewanitaannya meronta jika mengakui hal itu.
“Istri? Istri siapa?” tanya Rita.
“Calon Istri kak! Berarti kak Rian akan menikah,” ucapan simpel itu keluar begitu saja dari mulut Aluna si gadis lemot yang berdiri di belakang Rita.
“Calon istri, betul kamu akan menikah?” tanya Marwah lagi penuh selidik.
“Ya sudah bagus dong kalau kamu mau menikah. Stefany itu laki laki atau perempuan?” tanya Raniya ragu.
“Tentu saja perempuan kak,” desis Rian sambil manyun.
Amarah Marwah yang tadinya sudah memuncak berganti menjadi sebuah rasa penasaran.
“Lah, Trus kakak calon istri mu itu memukulmu karena apa?” tanya Marwah, bada bicaranya nya kini selembut angin sepoi di pantai Ancol.
“Ya karena adek kesayangan nya akan menikahi Rian si bencong Glodok,” ledek Rita sambil terkekeh.
“Rita?!” Tegur Raniya tegas.
“Maaf kak,” ucap Rita.
“Ayo katakan kenapa kak Deny itu memukulmu?” tanya Raniya.
“Karena aku menghamili adeknya.” Kepala Rian tertunduk menghadap lantai.
“Aku nggak salah dengar kan ini? Hamil kata mu?” tanya Marwah masih tak percaya.
“Kalau kamu hamili adiknya, ya wajar lah jika kamu di pukul,” ujar Raniya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Bagus! Itu adalah bukti kalau kamu pria sejati. Kakak malah senang mendengarnya. Pukulan kakak nya itu hanya sebuah pelajaran buat kamu. Yang penting sekarang kamu tanggung jawab. Seperti itu lah sifat seorang pria sejati.” tukas Marwah sambil mengangguk ngangguk bangga.
“Kak Marwah seneng padahal aku lagi dalam masalah,” ujar Rian.
“Aku senang lah, ternyata kamu seorang pria sejati. Hebat dong, aku punya teman yang bertanggung jawab,” ucap Marwah sambil menepuk nepuk punggung Rian. Walau pun Marwah yakin jika saat itu sahabatnya itu sedang dalam masa krisis identitas. Tapi hal itu akan membuatnya menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
Perbincangan masih berlanjut di dapur itu. Rian mencerita kan mengenai kronologi dan jalan cerita hingga Rian dan Stefany kebablasan.
Hingga tanpa terasa waktu sudah menujuk kan pukul 1 siang. Mereka berlima terpaksa melewati jam makan siang mereka hari itu hanya demi mendengar keluh kesah Rian sahabat mereka.
.
.
__ADS_1
.
To be continue ⬇️