Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
087- Caramel


__ADS_3

Caramel dan Keanu keluar dari kamar sang ibu setelah ibunya terlelap.


“Apa yang bisa aku lakukan?” tanya Keanu kemudian memeluk Caramel.


“Adakah hal yang kamu ingin aku lakukan?” tanya nya lagi.


“Harus kah aku meminta ibu melayangkan surat permohonan maaf secara tertulis di surat kabar untuk mengklarifikasi kejadian itu?”


“Kak, kakak lihat sendiri bagaiaman hal itu membuat ibu sangat tertekan. Ia bahkan tak pernah lepas dari obat obatan nya selama bertahun tahun. Aku tau ibu bukan sengaja menutupi kejadian itu, ibu hanya tidak bisa menghadapi kenyataan pahit itu. Ia terus bersembunyi dari rasa penyesalan nya selama ini. Dan itu sudah cukup menghukumnya. Aku sudah mengikhlaskan kematian kakak dan ayah. Seperti itu lah sifat kak Honey. Ia selalu mementingkan keselamatan dan kebahagiaan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Siapa pun orangnya, saat itu kak Honey pasti akan melakukan hal yang sama. Jadi ini bukan salah ibu,” ujar Caramel.


Keanu mendekati Caramel kemudian memeluknya dengan erat.


“Mau kah kakak menemaniku ziarah ke makam kakak dan Ayah?” tanya Caramel.


“Tentu saja!”


.


.


.


Beberapa minggu berlalu. Karmila telah di perbolehkan pulang oleh dokter.


Pukul 3 dinihari Karmila tiba di bandara soetta. Kali ini Lilian menyempatkan diri menjemput Karmila.


Lilian sudah menunggu Karmila tepat di depan tangga pesawat. Beberapa orang perawat mulai membawa Karmila turun diatas sebuah kursi roda.


“Welcome home,” sapa Lilian pada wanita yang tengah menatapnya canggung.


“Oh ya, saya Lilian ibu nya Keanu mertua dari anak anda,” lanjut Lilian. Ia maju beberapa langkah kemudian memeluk ringan tubuh Karmila.


Mendapat perlakuan ramah, Karmila berusaha tersenyum. Ia mencoba menyelami mengapa wanita konglomerat itu menjemputnya secara langsung.


“Dimana anak saya?” tanya Karmila.


“Menantu saya? Saya melarang nya ke sini.” Lilian berusaha mengakrabkan dirinya tanpa menyebut nama Caramel. Salah satu pesan penting Caramel yaitu jangan menyebut nama Caramel di hadapan ibunya. “Saya sudah tidak sopan, anak anak menikah tanpa ada lamaran langsung. Jadi kali ini saya menyempatkan diri menjemput anda secara langsung. Saya sangat ingin mengenal keluarga besan saya kebih baik,” ucap Lilian akrab.


Karmila menatap wajah Lilian penuh selidik. Ada sedikit rasa heran, benarkah ucapannya itu? Mengenal besan? Karmila bukan lah siapa siapa.


Saat itu juga Lilian langsung inisiatif mendorong kursi roda Karmila menuju sebuah mobil yang sudah terparkir tak jauh dari situ.


Dua orang perawat membantu karmila masuk ke dalam mobil. Mobil yang sudah di desain khusus untuk mempermudah sebuah kursi roda masuk ke dalam mobil. Setelah kedua perawat masuk, karmila ikut masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Saya memesan mobil ini, lebih mudah dan aman untuk orang sakit,” ujar Lilian berusaha mencairkan suasana.


“Saya merasa tak nyaman diperlakukan seperti ini.” ucap Karmila dengan nada datar. Bagaimana pun ia merasa sangat canggung berada satu mobil dengan wanita konglomerat yang sekarang telah menjadi besannya itu.


“Jangan merasa canggung, kedepannya kita akan tinggal bersama,” ucap Lilian.


“Tinggal bersama?” sahut Karmila kaget.


“Ya, kita akan tinggal bersama,” jawab Lilian.


“Tapi..” elak Karmila namun dia sendiri kebingungan dan tak bisa berbuat apa apa.


“Aku tidak punya tempat tujuan, jika saya menolak saya akan pergi ke mana?” gumam Karmila dalam hatinya.


Karmila terpaksa diam dan pasrah di bawa pulang ke rumah Karmila.


Setiba mereka di rumah megah dan besar itu, Karmila langsung di bawa masuk ke dalam rumah. Tak oernah ada dalam benak Karmila jika ia akan tinggal di rumah seperti itu. Kemudian perasaan canggung menghampirinya.


“Dimana anak saya?” tanya Karmila.


“Hmm Honey? Oh mereka tinggal di apartemen mereka sendiri. Saya yang menawarkan diri pada Honey agar anda tinggal bersama saya. Apartmen tempat tinggal mereka berada di lantai yang sangat tinggi, dan ukurannya tidak seberapa luas. Lagian…” Lilian berdiri mendekam wajahnya pada Karmila. “Saya tidak ingin ada yang mengganggu mereka. Saya ingin segera menimang cucu secepatnya.” lanjut Lilian.


Karmila terdiam sejenak. “Aku ingin bertemu anak ku,” ucap Karmila.


“Prancis?”


“Ya, sejak menikah mereka belum pernah honeymoon. Suasana romantis paris pasti akan membuahkan hasil, sekarang sedang musim dingin seharusnya mereka pasti akan lengket terus satu sama lain selama disana.” Lilian yang memang berjiwa antusias tak berhenti berbicara. Ia jufa sengaja melakukan hal itu agar Karmila menjadi lebih berah dirumah itu.


“Caramel. Anak ku Caramel bukan Honey. Dia bukan Honey,” Karmila menatap Lilian serius.


“Ahh, tapi kata Caramel jangan menyebut nama itu dihadapan ibunya. Apa ibu tidak apa apa?” tanya Lilian.


Karmila tertunduk.


“Mereka tau identitas aslinya. Bukankah selama ini dia sudah hidup sebagai Honey?”


“Ah, pelayan sudah menyiapkan kamar. Bu Karmila bisa masuk, istirahatlah dengan baik. Jika butuh sesuatu panggil saya. Dan ada banyak pelayan di rumah ini. Kedua perawat ini akan standby menjaga bu karmila 24 jam,” ujar Lilian.


Karmila pun dibawah masuk ke dalam kamarnya. Kamar luas dan mewah dengan berbagai peralatan medis yang sudah di siap kan di dalam ruangan.


“Apa aku harus bersyukur? Atau aku harus marah? Aku harusnya melimpahkan semua kekesalanku pada Caramel. Aku benci nama itu. Namun tadi, malah aku yang mengungkap nama aslinya,” gumam Karmila.


.

__ADS_1


.


.


Siang hari Karmila baru bangun dari tidurnya. Akibat jet lag ia tidur hingga kesiangan. Kedua perawat yang membantu merawat karmila langsung membawanya menuju meja makan.


Di meja makan, Caramel, Keanu dan Lilian sudah menunggu karmila. Mereka belum akan sarapan hingga ibunya bangun.


Setiba ibunya di ruang makan, Keanu langsung berdiri dan membungkuk.


“Ibu, welcome home.” Keanu langsung mengambil tangan karmila dan mencium punggung tangannya. Hal itu juga di lakukan oleh Caramel.


“Bu, restui lah kami. Aku akan menjaga dan melindungi Caramel dengan segenap jiwaku. Dan maaf karena kami menikah tanpa meminta restu darimu.”


“Ibu,” Caramel menghampiri Karmila kemudian memeluknya.


Karmila tak menghindar dari dekapan itu. Biasanya ia akan mendorong tubuh putrinya itu menjauh. Apa karena Caramel menikahi pria kaya?”


“Ya ya. Semoga kalian bahagia. Aku merestui kalian,” ucap Karmila kaku.


“Terima kasih bu,” ujar Keanu.


“Oh ya bu, siang ini kami akan berangkat ke paris. Sementara ibu akan bersama ibu Lilian. Sekitar seminggu atau dua minggu kami akan kembali,” pamit Caramel.


“Mereka harus pulang dengan hasil yang memuaskan, aku akan pastikan itu agar cucu ku bisa segera hadir di rumah ini,” ucap Lilian.


“Bu, ibu sam udah tanya Caramel? Dia mau nggak punya anak? Nanti yang akan mengurus anak kan dia bukan saya. Yang melahirkan juga dia. Kalau dia belum ingin punya anak aku nggak ingin memaksa kan kehendak,” ucap Keanu.


“Loh, wanita mana yang tidak ingin punya anak. Semua wanita pasti ingin ounya anak dan menyayangi anaknya dengan sepenuh hati!” imbuh Lilian.


Mendengar hal itu, karmila tertunduk. Mungkin dia lag satu satunya ibu di dunia ini yang tak bahagia akan kelahiran anak nya. Ia sangat membenci dirinya setelah tau ia mengandung Caramel. Bahkan setelah Caramel lahir ia tidak pernah menganggapnya ada. Ia selalu mengatakan putrinya itu sebagai anak pembawa sial.


Tetesan air mata menetes dari mata Karmila. Ia adalah ibu terjahat di dunia karena tega berbuat hal itu kepada putrinya sendiri.


“Aku lah satu satunya ibu yang tak menginginkan anak ku sendiri.”


.


.


.


To be Continued…

__ADS_1


__ADS_2