
Menjelang sore di ruangan luas dan mewah, Keanu terlihat sedang membolak balik halaman demi halaman isi dalam map yang baru saja di berikan Sandri.
Di balik wajah tegang Keanu, ia sedang berpikir sebuah cara tercepat untuk bertemu salah satu karyawan dari cafe itu. Rasa penasaran nya akan gadis bernama Honey semakin membuatnya tak bisa berpikir hal lain.
“Randi, minta karyawan cafe itu menyerahkan CV mereka besok dan lakukan interview besok jam 10 pagi,” ucap Keanu.
Sandri menoleh bingung. Ternyata bukan data dalam map yang sedang di bahas Keanu tapi para pekerja cafe itu.
Lain yang di lihat lain pula yang di bahas.
“Baik pak,” ucap Randi menuruti.
“Bro, karyawan karyawan itu, mereka bukan prioritas disini. Ngapain repot repot mengkaryawankan mereka, jika perlu kamu bisa mencari pekerja yang lebih baik dan handal dari pada mereka,” saran Sandri Moan sang pengacara sekaligus sahabat Keanu.
Keanu tak menggubris ucapan Sandri.
“Lagian, kamu sudah membeli cafe itu dengan harga di atas pasaran. Padahal nilai cafe itu tidak seberapa keuntungannya di bandingkan sekian banyak nya perusahan yang kamu miliki. Apa hitung hitungan di otak mu lagi bermasalah? Sekarang malah sibuk mengurus karyawan karyawan itu, merepotkan sekali.” tukas sahabat nya itu.
Keanu menatap sinis ke arah Sandri. “Bukan urusan kamu,” ucap Keanu datar.
“Pak, untuk interview mereka apa saya hubungi bagian HRD untuk melakukan interview?” tanya Randi.
“Nggak, nggak perlu di besar besarkan. Cukup bu Natalia dan kita bertiga yang interview mereka,” jawab Keanu.
Randi terdiam, peraturan baru apa ini? Hanya karyawan kecil namun interview di lakukan langsung oleh bos.
“No No No, i wont. They are not too much important to have my precious time. Tomorrow I have my own bussines,” tolak Sandri.
“Ya sudah, kamu nggak perlu ikut,” ucap Keanu.
“Randi CV mereka langsung antar ke ruang HRD usai interview,” ucap Keanu lagi.
“baik pak,” sahut Randi yang hanya bisa patuh dengan putusan boss.
……
Sejak di tanda tangani nya perjanjian jual beli, Honey Rian, Raniya, Marwah, Rita dan Aluna sudah menjadi karyawan Travor Primary Corp.
Namun seperti peraturan peraturan perusahan pada umumnya. Setiap karyawan harus terdaftar secara resmi dengan berkas CV sebagai pelengkap data karyawan.
Serta kebijakan perusahan untuk melakukan interview kepada setiap karyawan baik itu karyawan magang atau karyawan tetap interview wajib di lakukan.
Namun apakah CEO harus turun tangan langsung menginterview mereka ber enam?
Hari interview keenam karyawan baru pun tiba.
Pagi itu, Honey berlari cepat memasuki loby perusahan. Ia langsung menuju kamar kecil dimana Aluna sudah menunggu nya di sana.
“Kak Hon, cepat sini,” panggil Aluna. Ia menyerahkan satu kantong plastik berwarna hitam pada Honey.
“Kakak masuk ganti dulu ya Lun,” sambil berjalan cepat memasuki bilik kamar kecil khusus wanita.
Beberapa saat, Honey keluar dengan rok hitam dan kemeja berwarna putih. Sambil menghadap cermin Honey merapihkan kemeja putih yang sangat pas di badan nya.
__ADS_1
“Untung kamu ada pakaian lebih, kalau nggak mungkin kakak nggak bisa hadir dan kakak harus mencari pekerjaan lain lagi, makasih dek,” ucap Honey. Ia dan Aluna memang memiliki postur tubuh yang hampir sama, ia sedikit lebih tinggi hingga rok yang di kenakannya kini terlihat agak lebih pendek.
“Iya kak Honey, Luna senang bisa tetap kerja bareng kakak,” ucap Luna.
“Tapi lun, kependekan gak sih?” Honey menatap rok hitam di atas lutut yang di kenakan nya.
“Nggak kak, udah pas,” jawab Aluna.
“Gitu ya?” ucap Honey ragu.
“Ya sudah ayok kita naik kak, mereka sudah menunggu kita di atas.”
“Ayuk,” Honey dan Aluna berjalan bergandengan tangan menuju lift lantai dasar loby.
Mereka berdiri di depan lift saling tatap menatap, ada perasaan gugup di hati mereka.
“Ayo kak,” ucap Aluna mempersilahkan Honey masuk duluan.
“Caranya?” tanya Honey.
“Kakak belum pernah naik ini?” tanya Aluna berbisik.
Honey menggeleng. “Belum,” jawab nya.
“Jadi kita?” Aluna menggaruk kepalanya. “Aluna tau tapi, kalau salah gimana?”
“Salah gimana maksudnya?” tanya Honey.
“Terbuka kak, ayok.” Aluna menarik Honey masuk ke dalam lift.
“Apa kita sebaiknya menunggu orang untuk bertanya?” tanya Honey. Ia sedikit takut berada di ruangan tak seberapa besar itu.
“Bentar, kak. Aluna liat dulu,” aluna mencari angka 25 pada tombol di samping pintu lift. “Nah ini dia, setahu Aluna ini untuk lantai 25,” ucap Aluna sambil memencet angka tersebut.
Sesaat pintu langsung tertutup. Lift berjalan naik ke atas. Honey memegang erat tangan Aluna, kali itu adalah pengalaman pertamanya berada dalam lift.
“Kalau salah gimana Lun?” tanya Honey cemas.
“Kakak lihat angka di atas itu, angka 12 berarti kita di lantai dua belas,” ucap Aluna.
“Aluna tau karena bapak beberapa kali membawa Alun main ke mall, ada mall besar di kota asal Aluna. Dari kampung kami harus berkendara 3 jam untuk ke sana. Jadi sepertinya semua lift sama kak, ini kita hampir sampai.”
Mata honey terus menatap pergantian angka digital di atas pintu lift. Kemudian berhenti pada angka 25.
“Ding,” suara lift.
“Sudah sampai kak,” ucap Aluna senang.
Pintu terbuka otomatis. Honey keluar sambil mengelus dadanya. “Ya ampun, perasaan seperti akan jatuh dan susah bernafas saat berada di ruangan kecil itu,” gerutu Honey.
“Tenang aja. Lama lama kakak akan terbiasa,” ucap Aluna.
“Mereka dimana?” Aluna dan honey mulai mencari ke empat rekanya yang lain.
__ADS_1
“Dari samping pintu lift, sebuah ruangan dan seorang wanita tengah duduk di situ.
Wanita itu langsung menghampiri Aluna dan Honey.
“Mbak mbak peserta interview ya?” tanya wanita itu.
“Iya,” jawab Honey.
“Ikut saya,” ajak wanita itu.
Mereka berjalan menyusuri lorong hingga tiba di sebuah pintu besar.
“Silahkan menunggu di dalam,” ucap wanita cantik itu. Sebuah papan nama kecil di dadanya bertuliskan Inayah S.
“Terimakasih.”
Aluna dan Honey masuk kedalam pintu besar tersebut.
“Honey, Luna sini,” panggil Rita.
“Waah cantik sekali, kamu terlihat beda di balik rok pendek itu. Tapi..” Rian merasa risih dengan rambut panjang honey yang selalu di ikat satu ke belakang.
Rian menarik lengan honey duduk di sebuah kursi. Tanpa bertanya ia langsung membuka rambut Honey.
“Mau di apain kak?” tanya Honey.
Namun Rian sudah terlanjur membuka ikatan rambutnya. Rambutnya kini tergerai hingga ke pinggang.
“Ckckck, kapan terakhir kamu ke salon potong rambut Hon?” tanya Rian risih melihat rambut Honey yang sangat berantakan..
“Hmmmm?” Honey berpikir. “Dua tahun lalu, itu pun bukan ke salon. Ada tetangga kosan yang pinter potong rambut,” jawab Honey. Ia berusaha menarik ikat rambutnya dari tangan Rian.
“Haha, kalau tergerai gitu kayak kuntilanak kak yan,” protes Luna sambil terkekeh.
“Bukan Lun, tapi kayak genderewo,” sahut Rian tak kalah ngakak.
“Makanya sini balikin karet rambutku kak Yan,” seru Honey.
“Duduk diam,” Rian menahan kepala Honey. Dalam sekejap rambut Honey sudah di kepang rapih.
“Wahh gitu dong,” ucap Raniya.
“Hmm cantik, pake banget.” tambah Marwah sambil mengangkat dua jempolnya.
Kemudian sebuah pintu lain di ruangan tunggu itu terbuka. Seorang wanita keluar menghampiri mereka. Dengan sebuah map di tangannya. “waktu nya interview, mari ikut saya.”
.
.
.
To be continued ⬇️
__ADS_1