Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
014-Ibu I


__ADS_3

Sudah seminggu cafe Murtini menjadi ramai akan pelanggan. Sejak de Layla cafe tutup beberapa hari, semua pelanggan cafe itu beralih ke cafe Murtini.


Seperti biasa saat week end adalah saat saat paling ramai cafe. Pengunjung yang datang tiga kali lipat lebih banyak dari hari biasanya. Pengunjung yang duduk maupun yang membeli untuk dibawa pulang silih berganti masuk dan keluar melaui pintu kaca.


Honey dan semua rekan kerja nya sangat kewalahan.


“Kak Ran, tolong liatin coklat ini dulu. Honey hanya ke kamar mandi sebentar,” pinta Honey.


“Ya pergilah,” Raniya mengambil alih pekerjaan Honey.


Honey berdiri kemudian meregangkan pinggang, ia melakukan straching agar otot otot nya yang tegang kendor kembali.


“Uggh pegel banget,” gumamnya sambil berjalan keluar dapur dimana toilet berada.


Beberapa saat kemudian Honey kembali.


“Udah leleh sempurna Hon,” Raniya mengangkat satu loyang donat ke dekat Honey.


Honey mulai melakukan tugasnya. Satu persatu donat di celupkan sebagian ke dalam coklat. Donat di letakkan kembali di atas loyang. Raniya langsung memberi toping berupa keju, kacang, meises dan lain lain.


Hari itu mereka melakukan pekerjaan dengan sangat baik.


Jam sepuluh malam itu bu Tini dengan wajah ceria menunggu para pekerja nya di ruangan depan. Setelah tugas tugas mereka selesai, mereka keluar bersamaan dari dapur.


“Raniya?” panggil Bu Tini.


Sebuah amplop putih langsung di berikan kepada Raniya.


“Waaahh dapet bonus gaes, Alhamdulillah Terimakasih bu,” ucap Rania kemudian berjalan melewati meja kasir.


“Marwah, Honey,” bu tini menyearahkan amplop ke tangan mereka.


“Makasih bu,” ucap Marwah.


“Terimakasih bu,” ucap Honey.


“Rita, Aluna.”


“Rian,”

__ADS_1


“Alhamdulillah terimaksih bu.” ucap Rian.


“Itu bonus kalian selama seminggu. Kalian sudah bekerja dengan sangat baik.” ucap bu Tini senang.


“Terimakasih bu,”


Satu per satu dari mereka mengucap kan Terimakasih kemudian berlalu keluar dari pintu kaca tersebut.


Honey masih berdiri menatap bu Tini. Saat rekan rekannya sudah keluar satu persatu, Honey masih tak beranjak sedikit pun.


Bu Tini menatap Honey seakan sudah tau apa yang di inginkan Honey saat itu. “Ambil lah, ambil beberapa kue kesukaan ibu mu.” Sambil menyerahkan kotak kue berukuran sedang.


“Terimakasih bu,” Honey menerima kotak kue tersebut. Ia langsung berjalan menyisir etalase memilih beberapa kue kesukaan ibunya.


“Makasih bu, ibu baik banget. Sekarang honey pulang dulu bu.”


“Hati hati di jalan, salam sama ibu mu.”


Dengan hati penuh suka cita Honey melangkah keluar dari pintu kaca tersebut. Di saat saat mepet, saat kantong sudah bener bener kering mendapat bonus dari ibu boss nya plus kue yang akan dia bawa untuk ibu nya besok.


Sambil bersenandung kecil Honey melanjutkan langkah nya pulang.


Setiba di kamar kos kosan kecil nya. Honey langsung mencuci beberapa potong pakaiannya. Mandi dan langsung berbaring di atas pembaringannya.


Suatu saat, aku akan menjadi seorang penulis terkenal seperti ayah. Aku akan membuat sebuah karya terbaik ku, mengenai kisah cinta indah. Meluluhkan hati setiap pembaca, membuat ketar ketir hati pembaca, membuat mereka tertawa bahagia bahkan menangis sedih setelah mengikuti alur cerita ku…


Sementara membaca novel digital dari ponsel nya, Honey tertidur. Ia terlalu lelah untuk dapat melanjutkan bacaannya itu.


Tring


Tring


Tring


Suara reminder alarm dari ponsel honey terus berbunyi.


Pukul tujuh pagi.


Kran air terdengar mulai berbunyi dari dalam kamar mandi. Honey harus segera mandi sebelum air nya berhenti mengalir.

__ADS_1


Senandung senandung kecil keluar dari mulut Honey. Sudah kebiasaan nya, ia sangat suka bersenandung saat suasana hatinya sedang senang.


Ya hari ini suasana hati honey sedang senang. Ia akan menemui sang ibu di rumah sakit Maranatha.


Dokter memperbolehkan pasien seperti ibunya di jenguk setiap hari minggu.


Karena letak rumah sakit agak jauh, honey terpaksa hanya datang menemui ibunya dua minggu sekali.


Dari terminal letak unggul, Honey menaiki sebuah bus menuju pinggiran utara kota. Rumah sakit Maranatha berada di balik perbukitan, udara disitu sangat sejuk dan asri.


Dari pinggir pesisir, mobil bus yang di tumpangi Honey beranjak naik menuju lereng bukit. Beberapa kilo meter mendekati rumah sakit, gedung putih besar khas bangunan rumah sakit sudah terlihat.


“Stop di depan rumah sakit ya pak,” ucap Honey nyaring.


“Baik neng,” sang sopir bus membalas ucapan Honey Ramah.


Lima orang penumpang dari mobil tersebut turun bersama Honey di jalan itu. Kemungkinan mereka juga akan menjenguk keluarga atau kerabat yang di rawat di situ.


“Hufffffffff,” Honey menarik nafas kemudian membuangnya lega.


Udara perbukitan yang sejuk dan jauh dari polusi serta pemandangan laut yang sangat indah. Honey berhenti sejenak menikmati indahnya pemandangan.


Ia melanjutkan langkahnya menuju loby rumah sakit. Setelah mendaftarkan nama, Honey berjalan menuju lorong kecil. Di bangunan belakang lah ibu nya dirawat. Bangunan yang dipenuhi kamar kamar kecil dan di jaga ketat oleh penjaga.


“Ibu Karmila, ruangan 07.” ucap Honey pada seorang penjaga.


Penjaga itu mengantar Honey menuju sebuah ruangan kemudian membukakan pintu untuk Honey masuk.


“Assalamualaikum bu.”


Seorang wanita dibalik piyama putih tengah duduk termenung menatap keluar jendela kaca yang telah dilapisi teralis besi.


Tanpa menjawab, tanpa menoleh. Seolah tak ada siapapun yang datang. Fokus wanita itu hanya tertuju ke arah luar menikmati pikiran nya sendiri.


Sesekali senyuman terukir di wajah wanita itu.


.


.

__ADS_1


.


To be continued ⬇️


__ADS_2