Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
013-Bad Mood


__ADS_3

Rian keluar dari dapur dengan toples lain di tangannya menuju rak dimana Honey sedang menata toples toples kue kering.


“Honey,” panggil Rian sambil memberikan toples itu ke tangan Honey. Dengan sigap Honey mengambil pemberian Rian kemudian menyusun sesuai dengan jenis kue nya.


“Masih ada?” tanya Honey.


Rian menggeleng. Ia kemudian berbalik badan menatap bu Tini bersama dua pria berbaju hitam di ruangan itu.


Rian menarik lengan baju Honey. “Hon, ada masalah besar. Sepertinya bu Tini sedang marah marah!” bisik Rian.


“Ayo masuk, itu bukan urusan kita.” ajak Honey.


Tanpa melirik ke pria pria itu, Honey berjalan masuk melewati meja kasir.


“Aluna ada apa?” bisik Rian penasaran.


“Honey,” Rian menahan tangan Honey. “Tunggu aku,” Honey terpaksa berdiri di samping Rian karena pergelangan tangannya di tahan oleh Rian.


“Mereka debt collector kak,” bisik Aluna.


“Hah?” Rian menatap diam diam ke arah pengunjung itu.


Wajah pria itu tidak asing, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat.


“Debt collector? Masa iya ada debt collector terkenal? Wajahnya itu tak asing banget,” ujar Rian sambil berpikir dimana dia pernah melihat pria itu.


Sementara itu, bu Tini dan Randi sedang melanjutkan percakapan mereka.


“Oh jadi bapak yang pesan kue semalam? Dari perusahan di ujung jalan itu kan? Hehe” tanya bu Tini bersahaja. Ia tak lagi marah marah begitu mengenal kedua pria di hadapannya.


Randi mengangguk.


“Pak, sudah terhubung. bapak harus melakukan wawancara sekarang.” ucap Randi.

__ADS_1


“Pak.” Panggil randi lagi.


“Batalkan wawancara itu, ayo pergi dari sini sekarang,” ajak Keanu.


“Ta tapi pak, kita sedang live. Bapak sudah terhubung ke chanel pak,” ujar Randi.


“Katakan saja aku sedang tidak enak badan tiba tiba atau cari alasan lain yang masuk akal.” Keanu langsung berdiri meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan cepat menuju mobil.


“Maaf, Pak Keanu Travor tidak bisa di wawancara sekarang. Tiba tiba beliau kurang sehat. Wawancara kali ini bisa di lakukan di lain hari saat beliau sudah siap di wawancarai,” jelas Randi di hadapan Laptop.


Ia menutup laptop, menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah ke atas meja kemudian menyusul Keanu ke dalam mobil.


Bu Tini berjalan lemah kembali ke meja kasir. Aluna dan Rian sedang berdiri di situ.


“Bu itu adalah Keanu Travor kan bu? CEO Travor Primary Corp?” ucap Rian.


Bu Tini mengangguk lemah. “Jika tau dia CEO nya aku nggak mungkin marah marah dengan mereka.” Bu Tini menatap uang dua ratus ribu di tangannya.


Aluna menunduk, ia turut andil dalam membuat pelanggan sekaligus orang terkenal itu pergi.


“Mereka bukan preman, ibu termakan ucapan konyol anak ini!” bu Tini menatap jengkel ke Aluna. “Sekarang tugas kamu mencuci piring. Sampai tiga hari kedepan cuci semua sampai bersih oven wajan dan semua barang yang di pakai kerja. Harus kinclong!”


“Ya ibu, Aluna kan nggak tau,” sambil menunduk Aluna berjalan ke arah dapur.


Rian mengikuti Aluna beriringan berjalan di belakangnya. Atau dia juga akan kena hukuman jika tak segera kembali bekerja.


Sementara itu didalam mobil, Keanu Travor sedang emosi dengan penghinaan yang baru saja di alami nya. Seumur hidup itu adalah kali pertama dia di usir mentah mentah. Selama hidup ia selalu di undang sebagai orang terhormat. Selalu duduk dalam jajaran orang orang tersohor di kursi paling depan. Dan pemilik cafe kecil itu baru saja meneriakinya agar pergi dari situ.


Tiba tiba Keanu teringat akan wanita itu.


Honey…. Namanya Honey. Namun sekilas dia seperti Caramel. Dia benar benar seperti Caramel, tak ada beda. Apa nama panggilannya di sini adalah Honey. Atau Honey adalah nama tengah nya.


“Pak? Masih ada empat puluh lima menit sebelum pertemuan dengan pak kapolda. Kita akan ke sana sekarang?” tanya Randi.

__ADS_1


“Secepatnya berikan info nilai jual bangunan di sekitar cafe kecil itu. Hubungi Sandri jika prosesnya berbelit belit. Dalam satu minggu aku ingin cafe kecil itu menjadi milik ku bersama seluruh karyawan nya!” ucap Keanu marah. Nadanya datar dengan getaran seolah sedang menahan amarah.


Randi mengerling.


Bos bos, apa untungnya cafe itu. Bos memiliki omset dengan nilai ratusan miliar, dan nilai aset yang hampir puluhan triliun. Ckckck


“Dan tuntut wanita gendut tadi. Dia sudah berani menyebabkan wawancaraku gagal!” lanjut Keanu.


Hadeehhh bos, wanita itu hanya wanita biasa. Dia punya keluarga di rumah. Jika di tuntut atau di tahan, bagaimana dengan anak anaknya.


Semua ucapan protes Randi hanya bisa dilayangkan dari dalam hati. Ia tak berani protes saat mood bos nya itu sedang buruk. Atau seluruh karyawan cafe dan semua yang bersangkutan dengan cafe itu akan kena imbasnya.


“Randi, kamu dengar ucapanku?” Tegas Keanu.


“Dengar pak, akan saya lakukan.”


“Pak, apa kita langsung ketemu pak kapolda sekarang?” tanya Randi mengalihkan pembicaraan.


Keanu tak menjawab.


“Pak Tora, kita langsung menuju kantor pak kapolda sekarang,” ujar randi mengambil inisiatif.


“Baik pak,” jawab pak Tora.


Mobil langsung memutar arah menuju tujuan mereka. Dari kursi belakang, keanu masih diam dalam suasana hati yang buruk.


.


.


.


To be continued ⬇️

__ADS_1


__ADS_2