Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
060-Privasi


__ADS_3

Honey terbangun dalam keadaan terlentang, melintang di atas ranjang. Piyama longgarnya tengah tersingkap, sedangkan tali pengikat di piyama sudah terbuka. Ia sendirian di dalam kamar remang itu.


Ia duduk meraba badannya, keadaannya benar benar terlihat berantakan. Rambut panjangnya tergerai hingga menutupi sebagian wajahnya.


Aku tidak di apa apain kan? Tidak terasa sakit berarti aku masih perawan.


Honey bangkit dari atas ranjang, menuju pintu kaca geser otomatis. Suara Keanu dan Randi langsung terdengar di telinganya.


Honey menuruni anak tangga menghampiri Keanu.


“Pak,” panggilnya.


Keanu langsung bergerak cepat menghampiri Honey. “Baju kamu tipis, nggak pakai bra. Disini ada Randi, lagian…” Keanu tak melanjutkan kata katanya. Dua buah bekas ciuman berwarna merah di dada dan leher Honey terlihat sangat jelas. Ia menggiring tubuh Honey agar kembali ke atas.


“Sekarang jam berapa?” tanya Honey tak mempedulikan larangan Keanu.


“Setengah sepuluh,” jawab Keanu.


“Aku akan siap siap ke kantor sekarang.”


Honey menatap Keanu sejajar, karena saat itu dia sedang berdiri di anak tangga paling atas, sedangkan keanu berada pada tiga anak tangga di bawahnya.


“Jadi aku akan ke kos kosan aku, baju ku yang kemaren kotor dan aku tidak mempunyai pakaian dalam disini. Bisa kan pak?” tanya Honey hati hati.


Keanu berdiri menatap dua bekas ciuman di dada dan leher istrinya itu. Ia Teringat invasi kecil kecilan yang dilakukannya semalam, bergerilya sendiri dengan wanita pingsan, Honey bahkan tidak sadar saat Keanu melucuti pakaiannya.


“Pak,” panggil Honey kemudian, membuyarkan lamunan Keanu.


“Jadi kamu benar benar ingin tetap bekerja?” tanya Keanu.


“Please, bukannya bapak sudah mengurangi jam kerja kami?” tanya Keanu.


“Baiklah jika kamu memaksa, tapi… jangan memanggilku bapak mulai sekarang,” bisik Keanu.


“Ja di aku harus panggil bapak apa?” tanya nya.


“Hmm,” Sejenak Keanu berpikir. “Papa, sayang, suami, cinta, lovey?” Ia berusaha berpikir beberapa kata romantis yang enak di dengar.


“Pak, aku akan memanggil bapak bunny,” ucap Honey.


“Bunny, itu nama makanan. Kenapa harus nama itu?” Keanu berjalan mendekati Honey.


“Karena bapak kenyal, empuk dan manis seperti roti bun,” jawab Honey sambil perlahan mundur karena sedang di desak Keanu mundur.


Mendengar ucapan kenyal dari mulut Honey, ia teringat betapa kenyal kedua bukit kembar milik Honey. Ia sudah menyesap mereka tanpa sepengetahuan si empunya.

__ADS_1


“Pak,” Honey berusaha melawan dorongan tubuh Keanu, ia sudah terdesak hingga ke sofa.


“Pak,” tegas Honey.


Namun Keanu sudah mendorongnya hingga rebah di atas sofa. “Seberapa besar pertahanan kamu, hanya sedikit sentuhan dan kamu sudah mendesah,” ucap Keanu mengingat kejadian semalam.


“Kapan aku mendesah, bapak jangan mengada ngada. Aku akan pulang ke kos kosan sekarang,” tegas Honey seraya mendorong kepala Keanu yang terus nyosor ke leher nya.


“Kenapa dalam otak kecilmu itu hanya ada kata pulang. Rumah ku ini sekarang adalah rumah mu, disini lah tempat kamu pulang sekarang. Dimana diriku berada di situ lah tempat kamu akan pulang!”


Keanu menarik dirinya kemudian duduk di samping Honey yang masih terbaring. Ia berusaha meluruskan torpedonya ke posisi yang layak kemudian turun ke ruangan bawah.


Dalam sesaat Keanu sudah kembali dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya.


Saat itu Honey sudah berada di dalam kamar, ia sedang menyusuri dinding kamar mencari tombol lampu.


“Kamu sedang apa?” tegur Keanu.


“Aku lagi nyari sakelar lampu pak,” jawab Honey.


“Tuh,” Keanu menujuk ke arah nakas. Beberapa tombol saklar berjejer di sana.


“Ahh, ternyata tombolnya di sini semua.” ucap Honey sembari menekan satu persatu tombol di situ. Semua lampu sudah menyala, kamar menjadi sangat terang benderang. Ia kemudian memilih beberapa lampu saja dengan pencahayaan yang cukup untuk ruangan itu.


“Pilih lah sesuatu yang bisa kamu pakai hari ini,” ucap Keanu seraya menyerahkan kantong belanjaan kepada Honey.


Semua isinya adalah gaun. Gaun biru dengan belahan dada yang lebar, gaun coklat di atas lutut, gaun ungu polka dot, gaun abu abu singlet, dan gaun putih simpel yang tidak terlalu pendek namun dipenuhi hiasan mutiara yang melingkari leher baju tersebut. Serta satu kantong berisi pakaian dalam tak luput dari perhatiannya.


Ia menarik gaun putih itu menuju sebuah cermin di ruangan itu. Matanya sibuk membuka pengait kalung mutiara di leher baju itu. Dengan model leher kura kura dan sedikit di bawah lutut, baju itu adalah yang paling sesuai untuknya.


Setelah pengait terbuka Honey mencocokkan gaun itu ke tubuhnya. Matanya malah tertuju ke sebuah bercak merah di lehernya kemudian sebuah bercak merah lainnya di dadanya. Honey memeriksa hingga ke dalam baju ternyata masih ada beberapa di dalam sana.


“Pak?” Ia berbalik badan menatap tegas ke arah Keanu.


“Apa yang bapak lakukan semalam?” tanya Honey marah.


Keanu menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tau hal itu akan terjadi. Honey pasti akan marah begitu melihat tanda itu.


“Sayang, itu hanya sebuah kecupan yang terjadi tanpa sengaja, semua terjadi di luar kendali ku.” Ucapnya merasa menyesal. “Aku tidak bisa mengontrol diriku, lagian kamu yang memeluk ku terlebih dahulu,” ujar Keanu malah menyalahkan Honey.


“Tapi bapak tidak seharus nya melakukan itu terhadap wanita yang sedang terlelap!” Bentak Honey.


Terlelap tapi dia mengerang nikmat. Siapa pun yang mendengar suaranya pasti tau dia sangat menikmati aksiku semalam.


“Bapak tau privasi kan? Walaupun aku istri bapak, tapi bapak tidak boleh seenaknya gitu, itu nama nya bapak tidak menghargai ku,” lanjut Honey marah seraya menutup dua lengannya ke arah dadanya.

__ADS_1


Hufftt, padahal semalam dia yang membuka lebar kedua kakinya. Keanu teringat saat ia mengeksplor area sensitiv Honey. Justru karena menghargai kamu, maka junior ku berakhir di kamar mandi.


Keanu mendengus kecewa, yang marah saat ini seharusnya adalah dirinya. Di tatap garang seperti seorang penjahat oleh istri sendiri, sungguh sangat menyiksa.


“Sayang, aku hanya melakukannya sebagian. Nggak sampai ke bagian itu,” sungut Keanu seraya mendongakkan dagu nya ke arah itu.


Honey berbalik badan menuju kamar mandi, langkahnya di sentak sentak seolah sedang kesal.


Setiba di kamar mandi, Honey membuka semua pakaiannya. Ia menatap perbuatan liar keanu ke atas tubuhnya. Warna merah terdapat di beberapa tempat di bagian dadanya, dan satu di bagian leher.


Bagaimana mungkin aku tidak terbangun, padahal dia sudah seperti hewan liar ingin memakan ku.


Honey mengguyur tubuhnya di bawah air hangat, ia menggosok area sensitiv nya, terasa lengket seperti cairan kental, sambil membasuh bagian itu.


“Awas aja jika kamu berani mendekatiku lagi, apalagi menyentuh tubuhku tanpa seijinku, aku akan menganggapmu musuh, kita akan pisah ranjang saja,” gumam Honey.


Selesai mandi Honey langsung mengenakan gaun putih pilihannya. Panjang nya di bawah lutut, lengan pendek dan leher kura kura, setidaknya bajunya itu bisa menutup bekas merah di lehernya.


Honey mengeringkan rambutnya asal kemudian keluar dari kamar mandi itu.


Di mana dia?


Honey mencoba keluar dari pintu kamar mencoba mendengar suara suara orang di lantai bawah, tapi sepi.


Dia kemana?


Tanya Honey dalam hatinya.


Honey segera menarik selempang hitam di atas meja rias di ruangan itu kemudian turun ke lantai bawah.


Keanu sedang memegang sebuah gelas menatap ke arah luar jendela.


“Pak,” sapa Honey.


Keanu berbalik badan menatap Honey. Gaun putih yang terlihat sangat cantik di badan Honey. Tidak terlalu pendek namun bisa membungkus rapih bentuk tubuhnya, pinggang dan pinggulnya jadi makin terlihat sempurna.


Ahh… Menatap nya terus, junior ku bisa bangkit lagi. Repot dan merana jika harus kembali meluapkan hal itu di kamar mandi. Sebaiknya aku jangan terlalu dekat dengannya, mendengar suaranya saja membuat aku teringat desa han panjangnya semalam.


Keanu langsung berbalik badan kembali menatap ke arah luar jendela. Sesekali ia menyeruput kopi panas yang ada di tangannya.


.


.


.

__ADS_1


To be continue⬇️


__ADS_2