
Beberapa hari terakhir pergunjingan hangat di kalangan karyawan kantor terus terjadi. Cerita soal CEO sering nongrong di dapur bakery karena CEO adalah seorang pecinta kue sampai CEO menganak emaskan tim baker sudah menyebar di seluruh kantor.
Seperti pagi itu, kelakuan Keanu semakin menjadi. Ia terus mencoba mencari perhatian di dapur bakery dengan alasan ingin belajar kue setelah sebelum nya minta di buatkan ini itu oleh mereka.
Di balik apron dan topi putih, jas mahal dan Elegan Keanu sudah tak kelihatan. Namun dengan apa saja yang ia kenakan, ia masih terlihat ganteng dengan sisi tegas maskulin pada wajahnya.
Rian terus melongo di hadapan Keanu. Menatap dari sisi manapun Keanu sangat lah sempurna.
“Pak? Pakai ini,” Rian menyodorkan sarung tangan plastik kepada bos nya.
“Apa yang harus saya lakukan sekarang?” tanya Keanu.
“Pecah kan telur, sisihkan antara kuning dan putihnya,” perintah Rian.
“Baik lah,” Keanu memecahkan satu butir telur seperti seorang profesional. Namun saat akan memisahkan antar kuning dan putih telur, kuning telur malah pecah.
Rian kembali menyerahkan satu butir telur ke tangan Keanu. “Coba lagi pak,” ucap Rian.
Keanu mencoba dan sekali lagi gagal.
Satu rak telur di letakkan di samping Keanu.
“Gagal terus pak, sudah Rian bilang perlahan, anak SD aja sekali di ajari langsung bisa. Kenapa bapak susah dan kaku begitu?” ujar Rian agak jengah dan mungkin ia lupa pria yang di omelinya itu adalah bos di perusahan itu.
Mendapat omelan Rian keanu membulatkan matanya. Randi yang sedang menyaksikan dari sudut ruangan terkekeh. Baru kali ini sang bos gagal melakukan sesuatu. Tapi soal urusan bisnis, tak pernah ada kata gagal dalam kamus Keanu.
“Sana kamu mundur,” perintah Keanu dengan suara besar.
“Honey, sini.” Panggil keanu. Sebenarnya sejak awal ia ingin langsung di ajari gadis ini, namun Honey terlihat cuek dan tak peduli dengan kehadiran Keanu di situ.
“Iya pak.”
“Ajari aku cara membuat roti,” ucap Keanu.
“Bapak mau di ajari memisahkan kuning telur atau membuat roti?” tanya Honey.
“Ah ya, kuning telur dulu.” Jawab Keanu.
Honey berbalik badan kemudian mengambil penyaring kuning telur dari lemari peralatan.
“Bapak bisa gunakan ini,” ucap Honey.
__ADS_1
“Ini apa?” tanya Keanu.
“Ini untuk memisahkan kuning dari putih telur pak,” jawab Honey.
“Kamu kenapa nggak bilang kalau ada alat seperti ini?” ucap Keanu pada Rian
“Bapak nggak tanya,” ucap Rian datar.
“Sudah, mood ku tiba tiba berubah. Aku nggak jadi belajar kue,” Keanu berjalan keluar dari dapur.
Kemudian suara Honey terdengar seperti memekik kesakitan.
“Aughhh,” teriaknya.
“Kakak, kenapa nggak hati hati.” ucap Aluna sambil menempelkan tisu ke jemari Honey.
Tak seorang pun menyadari Keanu sudah kembali berdiri di situ. Ia menarik jemari Honey ke arah nya. Sambil meniup jemari Honey yang terluka ia membersihkan darah dengan tisu yang di ambilnya dari atas meja. Darah masih saja mengalir, Keanu langsung menarik jemari itu ke dalam mulutnya beberapa saat.
Honey baru sadar, pria yang berdiri dihadapannya adalah Keanu. Pria tampan dengan sejuta pesona, sekaligus CEO nya.
“Pak pak, aku baik saja.” Honey berusaha menarik lengannya dari cengkraman lembut Keanu.
“Lain kali hati hati, untung hanya luka kecil.”
“Ada plester?” tanya Keanu lagi.
“Nggak ada pak,” jawab Raniya.
“Randi, siap kan kotak P3K dan bawa ke sini. Tempat rawan seperti ini, kotak P3K saja nggak di siapkan!” omelnya.
Randi segera melakukan sesuai yang di perintahkan atasannya itu.
“Saya baik baik saja pak,” ucap Honey.
Sekali lagi keanu memeriksa bekas sayatan kecil di jemari Honey. Darah sudah tidak sederas sebelumnya. Ia meniup perlahan kemudian mengikat sehelai tisu pada jemari Honey.
“Sementara ini akan membuat jemari kamu aman,” ucap Keanu.
Ia berdiri lebih rileks setelah sebelumnya terlihat tegang, ia menatap sekeliling. Seperti nya rekan rekan Honey sedang terkesima menatap sikap nya barusan.
“Seorang atasan yang baik harus menjaga keselamatan karyawannya dan aku hanya melakukan tugasku sebagai atasan,” ucap nya sedikit santai tanpa ada yang bertanya.
__ADS_1
Sekali lagi ia menatap wajah wajah mereka yang tak ada ekspresi. Entah itu mimik kaget karena Honey tiba tiba terluka, atau terkesima karena ia tiba tiba membersihkan darah dari jemari Honey.
Gimana ini, mereka kenapa menatap seperti itu. Apa ada yang salah dengan sikapku?
“Ehm, ya sudah Honey, kamu ikut saya. Di ruangan saya ada kotak P3K,” ajak Keanu.
“Tapi pak, ini hanya luka kecil. Saya baik baik saja,” tolak Honey.
“Ini perintah, kamu mau di pecat karena membantah perintah atasan?” tanya Keanu.
Raniya sedikit mendorong dorong kecil tubuh Honey, sebuah isyarat agar Honey patuh.
“Baiklah pak,” jawab nya berat seolah itu di lakukannya dengan terpaksa.
“Ayo,” Keanu berjalan keluar dari ruangan itu. Disusul Honey yang berjalan di belakangnya sambil menunduk.
Sepeninggal Keanu dan Honey.
“Kak Marwah, tolong ambil pisau. Rian juga mau, mana pisau,” ucap Rian seolah CEO akan membantu membalut lukanya.
“Jemari ku sudah kebal, tiap hari kena pisau, minyak panas, kena oven udah biasa. Nggak sakit. Dibiarkan juga sembuh sendiri,” ujar Marwah.
“Aku juga, udah biasa jadi nggak sakit. Justru kalau di perhatiin gitu malah sakit tau gak? Sakit nya tuh di sini,” Rita menujuk ke arah dadanya.
“Honey beruntung, terluka pas bos ada disini. Coba kemaren pas kena oven aku pura pura pingsan ya?” ucap Marwah.
“Trus kalau kakak pingsan kakak mau telpon bos, gitu?” tanya Rian.
“Nggak, kakak nggak punya nomor nya, haha.” tawa Marwah lepas.
“Jangan jangan bos membawa kak Honey karena ingin resep nya, atau kak Honey akan di apa apain sama bos di ruangannya!” ucap Aluna, sudah jadi kebiasaannya, jika terjadi sesuatu otak kecil Aluna akan mengembangkan kasus menjadi serius kemudian merembes kepada hal hal aneh sesuai dengan jalan pikirannya sendiri.
“Aduh Luna, kamu cocok deh jadi produser sinetron ikan terbang. Ide mu banyak dek,” ucap Rita meledek Aluna.
“Haha.”
“Sudah sudah bubar. Rian, beresin telur telur pecah itu. Aluna ayak tepung. Dan kalian berdua lanjutkan adonan kalian,” perintah Marwah yang sudah mereka anggap sebagai ketua tim bakery mereka.
.
.
__ADS_1
.
To be continued ⬇️