
Pagi itu, seperti biasa Keanu akan duduk menikmati secangkir kopi serta beberapa sajian kue kesukaannya di dapur bakery.
Sudah sepuluh menit sejak ia duduk, namun sosok yang di tunggunya tak kunjung muncul. Ia berdiri dari kursinya berkeliling di dapur luas itu hingga ke tempat pencucian piring.
Keanu terlihat sedang mencari sesuatu, Rian pun memberanikan diri bertanya.
“Pak, bapak mencari sesuatu?” tanya nya.
“Nggak,” Keanu enggan berbicara jujur. Ia kembali ke kursi nya dengan seribu pertanyaan dan penasaran dalam hatinya. Dimana Honey?
Bisik bisik dan tatapan mereka seolah sedang membicarakan dirinya
Melihat Wajah wajah di dapur itu sungguh tak enak di pandangan mata Keanu. Tanpa Honey ruangan itu terasa sangat membosankan. Jika ia bertanya apakah akan menurunkan reputasinya sebagai bos? Ah masa bodoh!
“Hei kamu!” panggilnya.
“Saya pak?” tanya Rian.
“Iya, siapa lagi?” jawab Keanu ketus.
Sambil melenggak lenggok Rian memasang wajah genit sembari berjalan mendekati Keanu.
“Ada apa pak?” tanya Rian.
“Duduk,” perintah Keanu.
Dengan senyum kemenangan Rian duduk, hari itu adalah hari terbaiknya selama bekerja di kantor itu. Ia berada dalam jarak terdekat dari pria idola nya.
Keanu mendekatkan kepalanya ke arah Rian. “Kemana dia?” tanya nya serius.
“Siapa pak?” wajah Rian ikut menjadi serius.
“Honey, kenapa dia nggak masuk?” tanya Keanu dengan suara besar. Karena Rian kurang peka Keanu jadi sedikit membentak.
“Ma maaf pak, Honey nggak masuk karena ia harus membawa ibu nya ke rumah sakit. Tapi bapak nggak usah khawatir, kami bisa menghandle pekerjaannya, sebelum sore dia sudah kembali kok,” jelas Rian dengan wajah memohon. Memohon agar rekannya Honey tidak di pecat.
Keanu berpikir sejenak.
“Dimana ibunya dirawat?” tanya Keanu lagi.
“Ibunya dirawat di rumah sakit Maranatha, pinggiran kota utara,” jelas Rian.
Kenapa rumah sakit nya sejauh itu? Tentu saja bisa memakan waktu jika ia pulang pergi ke sana. Batin Keanu.
“Sudah berapa lama ibunya sakit?” tanya Keanu lagi.
“Setahu saya ibu nya sudah dirawat disana sejak Honey mulai bekerja di cafe Murtini. Mungkin sekitar empat tahun atau mungkin lebih,” jelas Rian.
Bagus di ceritain aja kisah sedih nya Honey, biar bos terharu jadi Honey nggak di pecat. Kasihan jika Honey di pecat, dia harus membiayai ibu nya yang sedang sakit. Batin Rian.
“Ibu nya sakit sudah lama, dan honey harus bekerja banting tulang untuk membiayai pengobatan ibu nya. Semua hasil kerjanya di berikan untuk ibunya, bahkan honey harus menahan lapar demi mencukupi keperluan ibunya,” jelas Rian memasang wajah lemah dan sedih.
Sepertinya dia tau banyak soal Honey. Batin Keanu.
Keanu melirik jam pada pergelangan tangannya. Waktu sudah Menunjukkan pukul sembilan.
“Kamu ikut saya,” ajak Keanu.
__ADS_1
“Saya pak?” tanya Rian bingung.
“Iya kamu, ikut ke ruangan saya!”
Deg
Deg
Deg
Mungkin salah dengar. Jangan ge er dulu.
“Bapak bilang apa?” tanya Rian sekali lagi.
“I kut sa ya,” ucap Keanu lantang dan di eja dengan jelas.
“Ba baik pak, saya ikut,” sorak Rian.
Senyuman indah Rian terkuak begitu saja. Telinganya belum cukup tuli, dan otak nya masih waras.
Rian berjalan anggun di belakang Keanu, ia mengangkat kepalanya melewati beberapa karyawan yang menatap risih ke arahnya. Sungguh sebuah kehormatan bisa berjalan beriringan dengan CEO itu. Tak ada satu pun karyawan lain yang pernah merasakan nya selain dirinya dan Honey.
“Pak?” Randi mengejar Keanu yang sudah mendekati lift.
“Pak,” ucap Randi dari belakang Keanu, ia menunggu aba aba lain dari bos nya itu.
“Kamu tunggu di sini, saya ingin bicara berdua dengan nya,” ucap Keanu pada Randi.
Randi mundur beberapa langkah membiarkan Keanu dan Rian masuk ke dalam lift.
“Pagi pak,” sapa Isabel sekertaris yang selalu bertugas mengsortir telpon yang masuk ke ruangan CEO.
Mata Isabel tertuju pada sosok Rian. Bencong Kemayoran yang di anggap nya norak di balik apron dan topi putih.
Isabel mendesis dalam hatinya. “Cih” ada rasa jengkel dan iri dalam dirinya.
Namun Rian dengan angkuh dan sombong membalas lirikan Isabel. Rian menatapnya sinis seolah sedang di atas angin.
“Masuk,” perintah Keanu.
“Baik pak,” jawabnya lemah.
Berbeda saat di hadapan Keanu, Rian seperti seekor kucing basah yang kehilangan taring nya.
“Duduk,” perintahnya lagi.
“Iya pak,” jawab Rian menuruti setiap perkataan bos tampan pujaan hatinya itu.
Keanu mengambil kursi dan duduk di hadapan Rian.
“Sekarang ceritakan semua mengenai Honey,” ucap Keanu to the point.
“Uhuk,” Rian terbatuk.
Ternyata dia di situ karena Honey.
Keanu mendorong satu botol air mineral yang tertata rapih di atas meja ke hadapan Rian.
__ADS_1
“Saya harus mulai dari mana?” tanya Rian.
“Sejak kalian bertemu, ceritakan semua yang kamu ketahui tentang dia,” ucap Keanu lebih jelas.
“Ehm,, sebenarnya Honey terlebih dahulu bekerja di cafe Murtini, tiga bulan setelahnya baru saya masuk ke situ. Pertama kenal, kami nggak akrab, kami mulai akrab setelah tiga bulan bekerja bersama. Karena ia meminjam uang kepada saya, dan saya memberikan setengah gaji saya kepadanya. Itulah mengapa kami menjadi akrab. Honey orang nya sangat tertutup, ia tak pernah membuka diri dengan siapa pun. Yang ada dalam kamus hidup nya hanya kerja cari uang…” Rian mulai menceritakan sedetail detailnya kehidupan Honey. Ia bercerita dengan nada kesal sekaligus kecewa. Ternyata dia di situ bukan karena dirinya tapi karena Honey.
Hingga setengah jam kemudian..
“…, hingga sekarang kami bekerja bersama di perusahan bapak,” ucap rian panjang lebar.
“Apa makanan kesukaannya?” tanya Keanu.
Rian berpikir sejenak. “Honey nggak pernah punya makanan yang di sukainya, semua makanan sama saja. Karena dia makan untuk mengisi perut bukan untuk selera,” jelas Rian.
“Pakaian atau fashion apa pun kesukaan nya?” tanya Keanu lagi.
Rian terkekeh, “ fashion apaan, dia hanya memiliki tiga potong pakaian. Katanya sudah tiga tahun dia tidak membeli baju,” ucap Rian.
Keanu teringat akan sepatu usang yang di kenakan Honey. Sepatu robek itu masih sangat bermanfaat dikakinya.
“Ah saya ingat pak, Honey suka membaca. Saat senggang sepulang bekerja dia menghabiskan waktunya membaca novel online dari sebuah aplikasi gratis.” tukas Rian.
“Tentu saja,” jawab Keanu seolah ia memang sudah mengetahui hal itu.
“Dia punya pacar, atau teman pria yang lain?” tanya Keanu lagi.
“Nggak ada pak, boro boro pacaran. Honey tidak memiliki satu pun teman pria. Hidup nya sangat monoton dan membosankan. Aku sendiri heran, bagaimana dia bertahan hidup seperti itu,” ucap Rian dengan santainya.
Sepertinya ia lupa kalau dia sedang bicara dengan seorang Keanu Travor pemilik perusahan itu.
“Jadi kamu bukan pria?” tanya Keanu.
“Aku sendiri lupa aku pria apa bukan ya.” Gumam Rian sambil membuang mukanya ke arah lain.
“Aku Pria pak. Tapi mereka tidak beranggapan seperti itu. Nama ku di ponsel mereka adalah Rianty. Ya sudah, jika mereka happy, anggap saja begitu.” lanjut Rian ceplas ceplos.
“Sudah hampir jam sepuluh, sebentar lagi saya ada meeting. Oh ya, besok kamu ke sini bawa nomor ukuran kaki kalian ber enam,” ucap Keanu.
“Saya pak? Besok ke sini lagi?” tanya Rian.
“Iya. Tugas kamu sekarang adalah menjadi informan pribadi saya, cari tau semua mengenai Honey dan keadaan ibunya yang sedang sakit. Besok sebelum jam sepuluh laporan kepada saya,” ucap Keanu.
“Pak, hanya Honey saja?” tanya Rian.
Keanu mengerling. “Yang lain bukan urusanku, sekarang kamu pergi dan minta Randi naik ke sini sekarang,” perintah Keanu.
“Baik pak,” ucap Rian patuh.
“Saya permisi,” setelah menunduk memberi hormat Rian pergi meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
To be continued ⬇️
__ADS_1