Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
037-Makan Siang


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Keanu baru saja terparkir di basement rumah sakit. Setelah mengenakan topi hitam, dan sebuah masker Keanu dan Rian keluar dari dalam mobil.


“Pakai ini,” perintah Keanu sambil melempar kaca mata hitamnya pada Rian.


“Kita ngapain di sini pak?” tanya Rian terheran heran.


“Pakai saja dan ikut saya.”


Rian hanya bisa patuh dengan perkataan Keanu. Setelah memakai dan masker dan kaca mata, Rian langsung berjalan mendekati Keanu. Perasaan nya menjadi was was, ia seperti seorang mata mata yang akan mengintai sesuatu.


Keanu berdiri di samping mobil sambil merapihkan jas hitamnya. Sebuah kaca mata langsung ia pakai.


“Pak, kenapa harus pakai masker seperti ini? Dan?” ucap Rian sambil menatap gaya nya dari pantulan kaca mobil.


“Ikut saya,” ajak Keanu.


Mereka berjalan menuju loby rumah sakit menghampiri sebuah meja informasi.


“Ruang dokter Rasya di mana?” tanya Keanu.


“Bapak sudah ada janji?” tanya wanita yang duduk di balik meja informasi itu.


“Ya, sudah.” ucap nya bohong.


“Lantai tiga belok kiri ruangan paling ujung,” ucap wanita itu.


Keanu langsung berjalan menuju lift, sedang kan Rian berjalan malas ikut di belakangnya. Rian masih sangat mengantuk, di hari libur seperti itu biasanya ia akan tidur hingga siang hari. Terlebih semalam ia begadang, bertemu teman teman nya dan ngobrol hingga subuh.. Jelas saja jika saat ini Rian terlihat begitu lemas.


Namun Rian terpaksa terus setia mengikuti Keanu. Nasib hidup dan pekerjaan nya ada di tangan Keanu.


Setiba di lantai tiga rumah sakit, Kenau berjalan ke arah kiri seperti aba aba dari wanita informasi barusan. Ia berhenti setelah menemukan sebuah tulisan Ruangan dokter R Ervan.


“Masuk,” perintah Keanu.


“Buat apa pak?” tanya Rian


“Pura pura aja nyasar, trus lihat apa yang di lakukan Honey di dalam!”


Honey?! Ternyata Honey, bos nya itu sedang menguntit Honey. Bos rela melakukan hal konyol ini demi Honey.


“Ayo buruan,” tukas Keanu sedikit memaksa.


Rian melakukan seperti yang di perintahkan. Ia membuka gagang pintu kemudian mengintip ke dalam ruangan.


Kepala Rian telah masuk seutuhnya ke dalam ruangan di susul separuh badan nya.


“Nggak ada siapa pun pak,” ujar Rian. Ia berdiri tegap “nggak ada orang di dalam pak. Honey nggak ada di sini.”


“Masa iya!” Keanu Ikut melihat ke dalam ruangan. Sebuah kotak kue berpita merah terletak di atas meja di dalam ruangan itu.


“Telpon Honey dia dimana?” perintah Keanu.


Rian mengerling sejenak. Namun jemarinya mulai merogoh tas selempang hitam yang biasa di pakainya. Sebuah ponsel ungu dengan gliter warna warni sudah di pegangnya.


“Hon, kamu di mana?” tanya Rian.


“Di rumah sakit kak,” jawab Honey.


“Dia di rumah sakit bos,” lapor Rian pelan.


“Tanya di mana?” tanya Keanu.


“Di rumah sakit di mana?” tanya Rian Lagi.


“Rumah sakit, Pelita Harapan,” jawab Honey.


“Rumah sakit Pelita harapan pak.”


“Ia tanya dia lagi di sebelah mana? Dan sedang apa?” tanya Keanu.


“Lagi ngapain sekarang?” tanya Rian lagi.


“Lagi makan kak.”

__ADS_1


“Dimana?” tanya Rian.


“Di kantin, sama dokter Rasya. Kenapa sih kok kepo banget kak? Kakak mau ke sini?” tanya Honey.


“Di kantin pak, Honey lagi makan dengan dokter Rasya.”


Saat itu juga Keanu langsung berjalan cepat menuju kantin.


Keterangan denah di dinding samping pintu lift menyatakan letak Kantin berada di lantai 9.


…..


Beberapa jam sebelumnya…


Seperti biasa, saat jam makan siang, jalan Thamrin yang menjadi pusat perkantoran di ibu kota menjadi padat merayap. Setiap karyawan sibuk beraktivitas kian kesana kemari mecari sesuatu untuk mengganjal perut mereka.


Sementara itu. Di bangku paling belakang bus dalam kota, Honey terlihat anteng bersandar pada sandaran kursi. Ia benar benar menikmati kemacetan lalu lintas di jalanan itu.


Bus yang di tumpangi Honey berhenti di sebuah halte tak jauh dari rumah sakit Pelita Harapan.


Setelah berjalan kaki beberap puluh meter dari halte bus, Honey tiba di rumah sakit. Ia langsung berjalan menuju ruangan dokter Rasya.


“Tok tok tok.”


Beberapa kali Honey mengetuk pintu dokter Rasya tapi tak ada seorang pun di situ. Ia kemudian berjalan menuju ruangan MRI untuk mencari dokter Rasya. Dua orang perawat jaga yang bertugas di ruangan itu langsung di hampiri Honey.


“Sus, dokter Rasya ada?” tanya Honey.


“Di dalam, dokter sedang ada pasien. Mungkin setengah jam lagi sudah selesai,” ucap perawat itu.


“Mbak nunggu di ruangan di situ aja.” Sambil menujuk kursi tak jauh dari keberadaan mereka.


“Baiklah, Terimakasih.”


Honey menunggu sekitar setengah jam baru lah dokter Rasya keluar dari ruangan MRI.


“Dok,” sapa seorang perawat sambil menujuk Honey.


“Eh Honey. Sudah dari tadi Hon?” tanya dokter Rasya.


“Kalian kenapa nggak panggil aku di dalam? Aku kan bisa aja keluar sebentar,” ucap Rasya pada dua orang perawat jaganya.


“Maaf dok, kami takut mengganggu pekerjaan dokter,” ucap seorang perawat lainnya.


“Ayo hon, kita ke ruangan ku.” Ajak Rasya.


“Lain kali kalau ke sini langsung ke ruangan ku saja, kamu bisa menunggu di sana,” lanjut Rasya.


Mereka berjalan beriringan hingga tiba di ruangan dokter.


“Masuk Hon.” ajak dokter Rasya.


“Dok,” masih sambil berdiri di ruangan itu, Honey langsung menyerahkan satu kotak kue yang di bawanya.


“Ah makasih.” Rasya menerima kotak kue berpita merah itu dengan senyuman. “Pasti enak nih. Ayo duduk.”


“Sama sama dok,” sahut Honey.


“Hmmm, saya akan menjelas kan soal penyakit ibu kamu. Hasil rapat dengan beberapa ahli saraf dan ahli bedah, kemungkinan atau peluang melakukan operasi sangat kecil.” Ucapannya terhenti. “Honey, kita ke kantin ya saya belum makan siang. Kita bisa ngobrol di sana sambil makan atau minum.” ujar Dokter Rasya.


“Baiklah dok.”


Mereka langsung menuju cafe and resto yang terletak di lantai sembilan rumah sakit itu.


Honey masih penasaran akan penyakit ibunya. Jadi ia hanya bisa mengikuti apa yang di ucap kan dokter Rasya.


“Kamu makan juga ya, pasti kamu belum makan kan?” tanya dokter Rasya.


“Iya dok,” sahut Honey.


Ia menatap menu makanan yang terletak di atas meja.


Nggak terlalu mahal. Untuk membayar makanan dua orang, uang dalam dompet ku masih cukup.

__ADS_1


Seorang pelayan datang menghampiri dokter Rasya dan Honey.


“Makan apa dok?” tanya pelayan yang sudah mengenal dokter Rasya.


“Nasi campur ayam goreng 1, kamu Hon?” tanya dokter Rasya.


“Ya nasi campur juga,” ucap Honey.


“Ayam atau ikan mbak?” tanya pelayan itu.


“Ayam saja.”


“Minum nya?”


“Es teh manis dua,” jawab dokter Rasya.


“Pacar dokter ya?” canda pelayan itu.


“Hmm, kalau iya kenapa? Cantik kan?” sahut dokter Rasya bersahaja.


Pelayan itu mengangkat jempol kanan nya ke arah Rasya. Kemudian berlalu dari situ.


“Honey, berikut kalau ke sini kamu langsung ke ruangan ku aja. Nanti aku sampaikan kepada perawat di sana supaya langsung menyuruh kamu ke ruangan ku.” ujar Rasya.


“Dok, gimana keadaan ibu?” tanya Honey gak sabaran.


“Ah ya,” kamu nggak usah terlalu khawatir Hon. Ibu kamu akan baik baik saja,” ujar dokter Rasya. Ia tak ingin membuat Honey panik.


Sebenarnya keadaan ibu nya Honey masih simpang siur di kalangan beberapa dokter spesialis. Ada yang menyuruh ibu nya untuk melakukan operasi secepatnya, mengingat kondisi ibunya sekarang masih stabil, jika di biarkan terlalu lama, tumor itu akan menggerogoti kesehatan lainnya. Di tambah usia yang sudah tua, maka tumor tidak bisa di biarkan terus membesar.


Dan ada juga dokter yang melarang ibu nya operasi. Mengingat usia dan kesehatan mental Karmila yang tidak stabil. Tapi jika tidak di operasi langsung, maka harus di tindak lanjuti dengan terapi laser. Masalah nya adalah biaya, dan fasilitas rumah sakit di negara ini masih sangat langka dengan pengobatan seperti itu. Berarti ibunya harus di bawa berobat ke luar negri.


“Benarkah ibu baik saja dok? Nggak perlu di operasi?” tanya Honey lagi.


Rasya menatap Honey serius, is berusaha memberi gambaran bagaimana kondisi ibunya dengan lebih hati hati.


“Tumor yang tumbuh di kepala ibu mu masih sangat kecil, hampir sebesar biji jagung. Namun lokasinya ada di otak sebelah kiri bagian dalam dekat dengan batang otak. Menurut beberapa dokter harus segera di operasi, tapi menurut saya belum boleh operasi karena kondisi ibu mu masih tidak stabil sekarang,” jelas dokter Rasya.


“Jadi gimana dok,” tanya Honey cemas.


“Alternatif lain selain operasi ya harus di laser,” ucap dokter Rasya kemudian terdiam sejenak. Seorang pelayan sedang menyajikan makanan untuk mereka.


“Selamat makan dok, mba. Mari,” pamit pelayan itu setelah selesai menyajikan makanan dan minuman di atas meja.


“Jadi laser itu bisa menyembuhkan penyakit ibu tanpa operasi ya dok?” tanya Honey.


“Ya seperti itu. Tapi alat laser itu hanya ada satu di Jakarta yaitu di rumah sakit Nusantara, tentu saja membutuh kan biaya yang tak sedikit, serta dokter profesional yang harus menangani penyakit ibumu seacara langsung,” jelas dokter Rasya.


Pikiran Honey langsung menerawang. Biaya yang tak sedikit, butuh berapa banyak rupiah yang harus ia cari? Butuh bekerja berapa tahun untuk dia mengumpulkan uang yang banyak.


“Honey, sebaiknya kamu makan dulu. Soal pengobatan ibu kamu, saya akan bantu sebisa saya. Yang paling penting adalah kamu harus makan,” ucap dokter Rasya sambil menyerahkan sendok dan garpu ke tangan Honey.


Ya aku harus makan, aku butuh tenaga untuk berpikir. Aku nggak boleh sakit.


Kemudian tatapan Honey tertuju pada dua orang pria berkacamata hitam yang baru saja duduk di meja nomor lima di depannya.


Kak Rian? Itu kak Rian kan. Apa yang di lakukannya di sini? Pakai masker segala? Udah ketahuan tuh sepatu dan tas selempang kesayangan kak Rian. Jalan nya ngetril, hadeehh. Ama siapa dia?


“Honey,” Rasya menuangkan sambal ke atas piring Honey. “Saya suka makanan di sini karena sambalnya ini. Coba deh,” ucap Rasya.


“I iya dok,” Honey terlihat sedikit canggung atas perlakuan dokter Rasya. Perhatian nya terasa semakin berlebihan.


“Honey, berikan ponsel kamu,” pinta dokter Rasya.


“Ponselku?” Honey merogoh ponsel dari dalam tasnya. “Ini dok.”


Rasya mulai mengetik sesuatu di atas ponsel Honey. “Nomor saya sudah save, kamu bisa menghubungi saya kapan pun,” ucap Rasya.


Honey semakin tak tenang menikmati makanan nya, apa yang di lakukan Rian dan temannya di situ? Mereka terlihat sedang menguping, pembicaraan Honey dan dokter Rasya.


.


.

__ADS_1


.


To be Continued ⬇️


__ADS_2