Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
049-Cerita Sahabat


__ADS_3

Sesuai janji, usai jam kerja Honey akan mentraktir Rian makan bakso di tempat langganan mereka.


Kedua sahabat itu kini tengah menikmati makanan mereka masing masing.


“Alhamdulillah, kenyang. Enak juga makan di traktir kamu Hon, walau pun nggak selera makan tapi akhirnya habis juga,” ucap Rian setelah menghabiskan porsi di hadapannya.


“Kalau Kak Yan nggak habisin bakal Honey paksa pokonya,” ucap Honey. Ia pun sudah menghabiskan seporsi bakso pada mangkoknya.


“Ya sudah, ayo kak. Kita ngobrol ngobrol sambil jalan pulang,” ajak Honey. Mereka pun langsung menuju ke arah gerobak dimana Cak adi sedang berdiri di sana.


“Ini Cak, porsi dua orang,” ucap Honey sembari menyerahkan uang 30 ribu ke tangan Cak adi.


Rian menyusul di belakang Honey. “Makasih hon, traktirannya,” ucap Rian.


“Ih kak cuman bakso doang, maaf belum bisa traktir kakak makanan yang mewah,” sahut Honey.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju kos kosan mereka dengan langkah yang sengaja di buat lambat.


Honey kemudian merogoh sesuatu dari dalam tas nya.


“Ini kak,” ia menyerahkan sebuah amplop ke tangan Rian.


“Ini apa Hon?” tanya Rian penasaran.


“Uang buat kakak, mungkin kak Rian butuh,” ucap Honey.


“Uang? Kamu kan lagi butuh uang. Kenapa ngasi aku uang?” tanya Rian heran.


“Loh kata kakak beban kakak menyangkut dua nyawa. Siapa kakak yang sakit?” tanya Honey.


“Hadeeh,” Rian mengembalikan amplop ke tangan Honey. “Maksud ku itu bukan soal uang atau pun soal penyakit. Seluruh keluarga ku sehat, mereka lagi nggak butuh uang. Baiknya uang itu kamu pakai untuk pengobatan ibu kamu,” ucap Rian.


“Ya ampun kak, honey pikir kakak lagi terbebani dengan masalah yang sama dengan honey,” ucap nya.


“Bukan, masalah kakak pelik, kakak cerita pun belum tentu kamu bisa bantu,” ujar Rian.

__ADS_1


“Ayo cerita kak, walaupun honey nggak bisa bantu, tapi honey bersedia menampung semua keluh kesah kakak,” ucap Honey.


“Hmm begini Hon. Kamu tau kan dua minggu yang lalu saat kita di ajak makan malam bersama bos di restoran mahal itu?”


“Iya, kenapa malam itu?” tanya Honey.


“Sejak saat itu lah hidupku hancur,” ujar Rian sedih.


“Hancur?” gumam Honey, ia menatap Rian serius.


“Sejak malam itu, Rian mendapat kabar yang nggak bisa di percaya dengan akal sehat Rian sendiri,” ujar Rian.


“Kabar apa kak?” tanya Honey lagi.


Rian seperti bertele tele membicarakan masalahnya.


“Seorang teman sekelas kakak waktu sekolah, bernama Stefani Ayudia, ketua kelas sekaligus wanita paling cantik di kelas hamil,” ucap Rian dengan gaya khas bencong yang tengah di landa kegalauan.


“Ya ampun kak, kalau dia hamil yang penting bukan hasil kerajinan kakak ya aman aja kan, kak Yan kenapa harus khawatir?!” ucap Honey nyeleneh, ia menganggap hal itu bukanlah hal yang di anggap masalah.


“What?” Honey tercengang dengan mata membulat seakan tak percaya.


“Sebulan sebelum nya, kami ngumpul ngumpul di karaoke. Stefani mabuk, katanya lebih aman jika di bawa ke kos kosan kakak karena aman, jadi semua teman teman setuju mengantarnya ke kos kosan kakak. Kakak juga sangat mabuk saat itu, kakak tidak sadar telah melakukan itu, saat kakak bangun kami berpelukan tanpa busana dalam selimut.” jelas Rian. Ia mulai mengacak ngakak kepalanya yang tak gatal.


Honey tercengang, melongo menatap jalanan sambil berpikir jalan keluar yang hanya ada satu.


“Kalau gitu, ya kakak harus tanggung jawab. Nikahi dia!” ucap Honey.


Rian menatap Honey jengah. “Itu bukan solusi Hon, aku nggak mungkin menikahi wanita. Jiwa ku jiwa wanita. Itu sama saja aku menikahi sesama jenis!” tegas Rian.


Honey menelan saliva nya. Ia tak mampu berucap. Di pikir kan dari sisi mana pun jalan keluar nya hanya satu yaitu menikah.


“Jadi gimana dong?” tanya Honey seperti orang begok.


“Nah kamu aja nggak bisa mikir cara lain kan?” ujar Rian.

__ADS_1


“Nggak mungkin di gugurkan kak Yan? Jangan pernah berpikir ke sana! Atau kak Yan ingin anak kak Yan di besarkan sendiri tanpa ayah?” tanya Honey.


“Iihhh jangan ngomong begitu, membayangkan jadi ayah saja aku ogah,” ucap Rian risih.


“Kak Yan Bayangin gak akan seperti apa bayi nya saat lahir nanti? Selucu apa dan semirip siapa wajahnya. Jika wajah nya mirip kak Yan, kak Yan Bayangin aja jika kak Yan ada di posisi anak itu. Kakak nggak kasihan? nggak sayang?” Ujar Honey.


“Ya elah, bukannya bantuin nyari solusi malah ceramah,” gumam Rian.


“Bantuan dari Honey hanya bisa seperti itu. Nikahi aja, jika setelah menikah kakak nggak cocok ya cerai aja kak. Yang penting anak itu lahir bukan anak di luar nikah,” saran Honey.


“Kamu kok jadi mikirin anak itu, bukan mikirin aku?” ujar Rian lemah.


“Kak, setelah anak itu lahir, kak yan bisa memikirkan akan tatap merawat anak itu, atau memberikannya kepada orang yang butuh, atau tetap di rawat ibunya namun tetap di nafkahi kak Yan. Dengan begitu kak yan bisa tetap jadi diri sendiri tanpa menanggung beban, kak Yan sudah melakukan sebisa mungkin yang kak Yan bisa,” jelas Honey. Ia berusaha mencegah tindakan aborsi yang akan di lakukan Rian dan teman sekelasnya itu.


Rian jadi berpikir, ia merenungi maksud perkataan Honey. Walau pun masih merasa enggan melakukan seperti yang di ucap kan honey. Tapi ucapannya itu nggak ada salah nya, jika di tinjau secara manusiawi seharusnya tindakan itu lah yang harusnya di lakukan Rian.


“Kak, yang penting jangan di aborsi ya?” ucap Honey seperti sedang membaca jalan pikiran Rian sebelumnya.


Rian masih berdiam diri menanggapi ucapan Honey.


“Kakak ingin dengar sebuah cerita?” tanya Honey.


Rian mengangguk.


“Waktu itu. Ibu hamil Honey saat kakak masih berusia 1 tahun 6 bulan. Ia belum siap melahirkan lagi, tapi sebuah embrio sudah tubuh dalam rahim nya. Saat itu, ibu baru saja di terima bekerja di sebuah perusahan. Tapi karena hamil Honey, ia harus berhenti kerja karena ngidamnya yang sangat parah. Dan waktu itu ayah Honey juga harus di pecat dari sebuah perusahan karena masa resesi ekonomi tahun 2000. Ibu sempat berpikir menggugugurkan kandungan, ibu ingin merenggut kehidupan Honey karena keadaan ekonomi waktu itu sangat buruk, ayah akhirnya kerja part time di sebuah warung internet dan terus membujuk ibu untuk mempertahankan kandungannya. Ibu pun akhirnya setuju. Untuk menutupi kekurangan ekonomi, ibu harus membantu ekonomi keluarga dengan menjual kue.”


“Mungkin saat itu jika ayah tidak ngotot mempertahan kan Honey, Honey tidak akan hidup seperti sekarang ini. Honey terus tumbuh menjadi anak yang tidak di harap kan ibu, hingga sekarang ibu masih tidak menginginkan honey. Tapi honey senang, ibu bertahan membesarkan honey dalam kandungannya. Honey juga percaya nggak ada orang tua yang tidak mencintai anak nya,” ujar Honey.


Rian terdiam, ia mulai ragu berpikir untuk menggugurkan kandungan Stefani. Mungkin saatnya berpikir solusi lain selain membunuh janin tak bersalah itu. Rian berharap ada solusi lain selain membunuh tapi juga tidak harus menikahi Stefani.


.


.


.

__ADS_1


To be continue ⬇️


__ADS_2