
Keanu berjongkok mengambil kembali buku dari dalam tong sampah. Ia membersihkan buku tersebut dengan jemarinya jika saja ada kotoran menempel disana.
Tatapannya tertuju ke halaman belakang buku. Sebuah tulisan bercetak tebal.
“Caramel Hermond,”
Nama yang selalu ada dalam benaknya.
“Caramel,” gumam Keanu sambil mengusap nama tersebut.
Ia kembali membuka isi buku tersebut dari awal. Setiap halaman hanya berisi resep roti, kue dan kukis. Tak ada keterangan lain dalam buku itu yang menunjukkan alamat dan nomor telpon Caramel.
“Pak,” panggil Randi.
Bos nya itu terlihat sedang larut dalam lamunan sambil mengusap buku merah di tangannya.
“Pak?” panggil Randi sekali lagi dengan suara lebih nyaring.
“Aku tidak tuli Randi,” ucap Keanu jutek.
“Meeting pak, kita harus ke ruangan meeting,” ucap Randi pelan, bahkan sangat pelan mengingat bos nya itu tidak tuli.
“Aku ke sana sekarang.” jawab Keanu seenaknya sambil berjalan keluar dari ruangan nya itu.
Dih. Bos aneh. Setelah marah marah, melempar buku ke tong sampah, eh di ambil kembali. Buku di sayang sayang. Ckck
Randi menyusul di belakang Keanu, kemudian singgah di meja sekertaris. “Isabel, tolak semua panggilan untuk pak bos. Ada meeting penting. Tamu dan siapa pun yang mencari bapak tahan di loby dulu,” ucap Randi.
“Baik pak Ran,” sahut Isabel ramah.
Isabel wanita berdarah campuran Indonesia, Itali itu sangat anggun dan cantik duduk di balik meja kerjanya. Dengan atasan berbelahan dada rendah serta rok mini sek-si. Hanya seperempat dari badanya yang mengenakan pakaian, selebihnya terbuka.
__ADS_1
Memasuki ruangan meeting mata Keanu menatap satu persatu setiap anggota meeting.
“Selamat Pagi,” sapa Keanu datar.
Beberapa orang menjawab sapaan salam nya dan lainnya hanya diam menatap satu sama lainnya.
“Pak Iskan nggak hadir?” tanya Keanu menatap sebuah kursi kosong baris ke delapan sebelah kiri.
Lagi lagi tak ada yang bergeming.
Ia menatap kursi kosong persis di sampingnya.
“Ibu nggak hadir, sekarang beliau sedang di Yunani,” jelas Keanu tak berharap respon dari setiap anggota meeting.
Ia tau sebagian dari mereka sedang kesal terhadap dirinya, sejak peluncuran game pertama dan yang kedua. Sebagian besar Para investor tidak setuju dengan anak perusahan game, namun Keanu atas dukungan ibu dan kakeknya sebagai pemegang saham mayoritas jadi mereka tak bisa menolak. Keputusannya adalah mutlak.
Keanu juga sadar, ia hanya di anggap anak kecil oleh pria pria tua di ruangan itu. Usia 27 tahun namun sudah menjadi pengendali dan pengambil keputusan terbesar dalam perusahan. Keanu menanggapi hal itu dengan masa bodoh, toh mereka tak bisa berbuat apa pun. Seandainya saham mereka di gabung jadi satu, masih belum bisa mengalahkan saham keluarganya sebesar 63%.
I am the boss, i am the rich man, i am the rule. Itu lah moto Keanu, dengan segala ketampanan dan kekayaan yang dimiliki nya tentu saja ia bisa membeli apa pun yang di ingin kan nya dan semua orang di ruangan itu sadar akan hal itu.
Seorang pria berdiri mulai mengucapkan kata kata sambutan. Agenda meeting seperti biasa membahas beberapa anak perusahan, akuisisi perusahan, serta beberapa hal yang bersangkutan dengan money income and real income perusahan.
Satu jam berada diruangan itu, tampak membosankan bagi sebagian investor dan pemegang saham. Mereka terlihat duduk menyimak, namun hanya beberapa kalimat yang masuk ke otak mereka.
Akibat kebosanan seorang investor terlihat menggigit kue yang ada di depannya. Ia mulai menikmati kue tersebut kemudian menghabiskan dua buah kue dengan lahap.
Terlihat seorang pria berbisik. Kemudian Pria itu juga mulai menggigit satu gigitan salted Caramel pie. Ia menganggukkan kepalanya hingga dua buah kue didepannya habis. Kejadian itu terjadi pada semua yang ada di ruangan itu. Saat meeting sedang berlangsung, pria pria itu hanya sibuk makan. Mereka seolah tak menyimak lagi isi agenda meeting kali itu.
Hingga saat terakhir, semua mengiyakan keputusan yang di ambil Keanu Travor. Keputusan sudah mufakat, perusahan akan membuat satu lagi game online awal bulan depan.
“Hanya gitu pak?” bisik Randi di telinga Keanu.
__ADS_1
“Trus kamu mau nya gimana?” ucap Keanu pelan.
“Biasanya mereka menentang jika uang perusahan abis untuk game,” ujar Randi.
“Apa urusan mereka, keuntungan perusahan tetap akan di bagi rata. Mereka tak pernah rugi. Hanya duduk manis di rumah dan terima hasil,” ucap Keanu.
“Pak Randi, saya mau tanya. Apa nama kue ini?” tanya seorang pemegang saham.
“Ha?” Randi dengan bingung memikirkan kembali nama kue tersebut.
Keanu berpikir mereka akan bertanya soal rencana game baru yang baru saja di ajukannya. Alih alih mereka malah bertanya nama kue.
“Hmmm,” Randi masih berpikir keras.
“Choux paste atau nama lazim nya kue sus kekinian,” jelas Keanu.
“Sangat Enak, dimana kami bisa mendapatkan kue ini. Istriku pasti senang jika di belikan untuk dirumah,” tanya seorang pria.
Randi kembali berpikir. Ia lupa nama toko tersebut. Lagian jika pak boss tau dia tidak membeli kue di tempat langganan dia pasti akan marah.
“Ini kue yang sering saya pesan ketika meeting, apa bedanya?” gumam Keanu.
“Beda pak, toko langganan bapak tutup. Kue ini dari toko kue lain di dekat situ,” bisik Randi.
.
.
.
To be continued ⬇️
__ADS_1