Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
027-Pergunjingan


__ADS_3

Honey kembali ke dapur bakery selang hampir sejam setelah meninggalkan dapur itu. Kelima rekan nya khawatir hingga tidak fokus mengerjakan pekerjaan mereka.


Aluna terlebih dahulu menghampiri Honey di susul rekannya yang lain.


“Honey, kamu baik baik saja?” tanya Aluna.


“Ya jariku baik saja,” ucap Honey sambil mengunjuk jari telunjuk nya ke atas. Sebuah plester dari pak CEO masih melekat di jarinya.


“Maksud kami, kamu tidak di apa apain kan sama CEO?” tanya Raniya.


“Di apa apain gimana maksudnya?” tanya Honey sambil menatap wajah wajah penasaran dihadapannya.


“Kamu nggak di…” Aluna berpikir kata kata yang tepat untuk ucapannya, “lecehkan?” teriaknya lantang begitu mengingat kata yang tepat.


Honey menatap wajah Aluna. “Apa memasang plester di jari termasuk tindakan melecehkan?” tanya balik Honey.


“Tapi saat bos memasukkan jemari kamu ke dalam mulut, menjilat darah kamu, itu sudah termasuk pelecehan. Jika kamu tidak suka di perlakukan seperti itu, hal itu bisa di anggap pelecehan,” ucap Rian sambil mengajukan gerakan CEO sedang mengisap jari, dengan jari telunjuknya sendiri.


“Dudul, itu bukan melecehkan, tapi membantu Honey agar lukanya sembuh. Dasar mesum,” ucap Marwah.


“Gimana rasanya?” tanya Rian.


“Rasa apa?” tanya Wulan bingung.


“Rasanya saat jari mu di jilat pak bos?”


“Kak Yan, mulai aneh ih,” seloroh Honey.


“Rasanya disentuh CEO kemudian tangan nya memegang tangan mu apakah ada sengatan listrik?” tanya Rian penasaran.


Marwah tiba tiba menarik jemari Rian ke wajahnya. “Nih seperti ini, ada rasa gak?”


Rian terkekeh, “kalau ama kak Marwah ya pasti ga berasa, beda dong jika di sentuh bos besar,” ucap Rian.


“Yang pasti nya aku baik baik saja dan nggak di apa apa in, di ruangan nya” ucap Honey sambil berjalan meninggalkan mereka. Beberapa pekerjaan sedang menunggunya untuk segera di selesaikan.


“Kak Honey,” panggil Aluna. “Kesimpulan Luna adalah, bos sengaja mendekati kakak karena ingin mencuri resep kakak,” ucap nya yakin.


“Hmmm, iyalah kakak akan hati hati menyimpan resep kakak. Kamu tenang aja,” sahut Honey. Setidak nya jawabannya bisa membuat Aluna sedikit tenang.


Honey berdiri menatap loyang loyang kue yang siap di oleskan mentega serta di lapisi kertas kue, fudgy brownies nya sudah siap masuk oven.

__ADS_1


Ia kembali teringat permen yang diberikan Keanu. Permen manis yang selalu diberikan sang ayah kepada nya.


Sewaktu kecil, aku mengira sesuatu yang manis seperti permen bisa merubah semua hal menjadi manis. Aku percaya begitu saja ucapan ayah. Nyatanya begitu permen nya habis, aku harus kembali menghadapi realita pahit nya hidup. Tapi setidaknya, permen bisa membuat aku lega sejenak saat berada dalam lift.


“Tring,” suara oven berbunyi.


Lamunan Honey buyar. Suhu oven sudah menunjukkan angka 180 drajat. Ia harus menuang adonan kedalam loyang kemudian memasukkan loyang ke dalam oven.


Honey masih harus menjaga kue nya matang sempurna, sedangkan rekan rekannya sudah terlebih dahulu ke kantin kecuali Rian.


“Hon ayo,” ajak Rian.


“Dua menit lagi kak?” sahut Honey.


“Tinggal dua menit, di angkat saja lah Hon,” pinta Rian.


“Iya ini Honey angkat?” Sambil mengeluarkan brownies terakhir dari dalam oven.


Setelah menyimpan brownis nya di tempat yang aman, Honey langsung menyusul Rian yang sudah menunggunya di depan pintu.


Setelah tiba di kantin, mereka berjejer di hadapan prasmanan yang sudah tersaji. Dengan sebuah nampan dan piring Honey dan Rian memilih milih makanan yang hendak mereka makan.


“Ayok,” ajak Rian setelah mengisi penuh piringnya dengan berbagai lauk.


“Tuh,” rian menunjuk ke sudut ruangan dimana Rita sedang melambai ke arah mereka.


“Kak, perasaan Honey nggak enak banget nih,” ucap Honey.


“Bener, jelas banget hon, mereka sedang berbisik soal kita,” ucap Rian.


Wajah Honey langsung manyun, “bukannya makan, malah bergosip,” gumam Honey.


“Sudah jangan di pikirkan, mereka hanya sedang iri dengan kita. Yuk kita nikmati makan siang kita,” ajak Rian.


Honey dan Rian langsung mengambil kursi sejejer dengan ke empat rekan mereka.


“Kak Honey pasti lagi kesel,” ucap Aluna saat melihat wajah Honey.


“Iya tu bibir bibir perlu di sumpel pakai sepatu keknya.” ucap Rian.


“Kak Marwah aja kesal kak, sampai adu mulut dengan karyawan disitu tadi,” ucap Aluna.

__ADS_1


“Mereka tuh iri aja dengan kita, sampai ada istilah anak emas segala lah,” ucap Raniya ikutan kesal.


“Sudah Hon, jangan di pikirkan, kamu nggak perlu dengar ocehan ocehan mereka. Nggak berfaedah,” ujar Marwah.


“Iya kak, buat apa mikirin mereka, toh aku nggak kenal juga,” sahut Honey.


“Kak Marwah adu mulut kenapa?” tanya Rian sambil mulai memakan hidangannya.


“Kata mereka kak Honey main pelet, kak Honey menaruh pelet di kue yang di makan CEO, makanya di sayang bos,” jelas Aluna.


“Menurut mereka, nggak pernah ada seorang pun karyawan yang pernah di bawa masuk ke ruangan bos. Honey yang pertama. Jadi tuduhan mereka semakin beralasan,” ujar Rita.


“Jadi karena aku main pelet jadi bisa masuk ke ruangan bos? Ckckck cetek banget ya otak mereka,” honey menggeleng gelengkan kepalanya. Nafsu makannya jadi rada berkurang. Ia di gunjing kan di seantero kantor sedang mengguna gunai bos.


“Kamu nggak usah ambil hati. Yang nama nya gosip pasti akan tenggelam dengan sendirinya,” ucap Marwah.


Beberapa saat kemudian ponsel dari dalam saku baju honey bergetar. Ia langsung menarik keluar ponsel usang nya itu dan mengecek sebuah pesan yang masuk di sana.


...Honey. Besok kamu ke sini kan? Ada yang ingin saya bahas mengenai ibu. Langsung ke ruangan saya ya?...


Pesan dari dokter Yunita langsung di balasnya.


...Baik dok....


“Aku nggak ada waktu dan tenaga untuk memikirkan pergunjingan mereka. Waktu dan tenagaku sudah habis terkuras untuk memikirkan diriku dan ibuku,” gumam Honey.


Rian yang duduk persis di sampingnya langsung mengelus pundak nya.


“Yang sabar Hon, kamu masih punya kami. Apa pun yang terjadi kami selalu ada di pihak mu,” ucap Rian di ikuti tatapan haru oleh rekan rekannya serta anggukan kepala pertanda setuju.


“Makasih gaes, sudah memiliki kalian berlima yang selalu mendukungku sudah cukup buatku. Aku nggak butuh teman seperti mereka,” ucap Honey.


“Saranghe kak,” Aluna mengacungkan jari jempol dan telunjuknya hingga berbentuk Love.


Marwah dan Rita tersenyum menatap Honey. Ia adalah wanita yang paling kuat di antara mereka. Hari harinya di habiskan untuk mencari uang agar pengobatan ibunya bisa terus berjalan. Tak ada yang tersisa untuk dirinya, semua penghasilannya hanya untuk sang ibunda tercinta.


.


.


.

__ADS_1


To be continued ⬇️


__ADS_2