
Seorang penjaga membawa Honey keluar dari kamar itu. Hiney tidak ingin pergi begitu saja, ia berdiri dari balik pintu kaca menatap ibu nya yang terlihat masih histeris. Ibunya terus teriak, berontak dan menangis.
Sungguh tak kuasa melihat sang ibu seperti itu, tapi apalah dayanya. Ia tak bisa berbuat apa apa.
“Bu, maafin Honey bu,” dalam tangis nya yang semakin menjadi, Honey tersungkur di depan pintu kamar ibunya. “Honey nggak bisa berbuat apa apa, aku hanya bisa pasrah melihat ibu seperti ini.”
Selang beberapa saat dokter keluar dari dalam kamar.
“Honey, oh maaf. Caramel?” panggil Dokter Yunita, dokter yang sudah bertahun tahun merawat ibunya.
Honey tak bergeming. Ia tak ingin mendengar nama nya di panggil. Sekarang dirinya adalah Honey.
“Honey,” panggil dokter itu lagi.
Honey mendongak ke arah atas dimana dokter Yunita berdiri.
“Ayo,” tangan dokter meraih tangan Honey.
“Ayo, kamu nggak boleh duduk terus di situ,” kita ke ruangan aku saja ya?” ajak dokter Yunita dengan ramah.
Honey meraih tangan dokter Yunita kemudian ikut berjalan disamping dokter Yunita.
“Kamu harus kuat, nggak boleh lemah. Ibu mu hanya memiliki kamu dan kamu hanya memilik ibu mu. Kamu harus tegar sayang,” tangan kiri dokter Yunita merangkul pundak Honey.
“Jika kamu ingin cerita cerita, kita cerita di ruangan ku. Atau kamu ingin istirahat dulu. Dokter sudah menyiapkan makan siang untuk kita,” ujar dokter Yunita.
“Dok, apa ibu baik baik saja?” tanya Honey. Air mata masih menetes dari pelupuk mata nya.
“Ibu mu sudah di beri obat penenang. Sebentar saat bangun dia akan baik baik saja,” ucap dokter Yunita.
“Ini salah Honey, Honey membawakan ibu Pie Caramel. Honey tak sengaja menyebut nama kue itu, ibu menjadi seperti itu karena Honey dok,” ia kembali menangis sesenggukan.
“Sudah sudah, itu bukan suatu kesengajaan. Akhir akhir ini ibu mu sudah membaik, semoga besok suasan hati nya akan semakin baik,” dokter Yunita berusaha membuat Honey tenang.
“Jika Honey punya waktu, ingin sekali Honey yang merawat ibu,” keluh nya.
“Kamu sudah merawat ibu mu sayang, kamu bekerja untuk membiayai ibu mu. Itu sama saja kamu sudah merawat nya,” ucap dokter Yunita lagi.
“Ya Honey harus lebih giat, Honey harus membuat ibu cepat keluar dari sini,” ucap Honey penuh semangat.
__ADS_1
Dokter Yunita sudah berdiri di depan ruangan nya. “Ayo masuk?” ajak dokter.
“Nggak, Honey harus pulang sekarang. Honey akan usahakan bisa kembali lagi ke sini minggu depan,” ia menyerahkan amplop putih kepada dokter Yunita. “Ini setoran Honey untuk bulan ini, setelah gajian akan Honey lunasin dok,” ujar nya.
“Baiklah,” Dokter menerima amplop dari tangan Honey. “Kamu hati hati di jalan ya,” ucap dokter Yunita.
“Dokter tolong jaga ibu, jika ada apa apa atau butuh apa pun hubungi honey ya dok!” ucap Honey.
Dokter Yunita m memeluk Honey dengan penuh kehangatan. “Jaga dirimu, jaga kesehatan mu, makan yang teratur. Jika kamu juga butuh sesuatu kamu bisa bilang ke saya,” ujar dokter Yunita.
“Terimakasih dok.”
Dokter Yunita mengangguk, senyuman tulus dokter yang selalu baik terhadap honey dan ibu nya tak pernah luput dari bibirnya.
Honey pun berjalan meninggalkan dokter Yunita.
Dokter Yunita terus menatap punggung Honey yang berjalan semakin menjauh.
Kamu adalah anak yang berbakti. Semoga ibu mu bisa melihat mu suatu hari nanti…
…
“Tok tok tok,” suara ketokan pintu.
“Tok tok tok.”
“Honey.”
“Honey, buka.”
“Tok tok tok.”
“Honey, buka nggak? Kalau nggak buka aku dobrak aja pintu ini sekalian,” suara seorang pria dari arah luar. Suara pria itu begitu lembut namun terdengar serius.
“Huffft,” dengan kepala yang masih terasa pusing Honey beranjak dari pembaringannya.
Honey langsung membuka pintu kemudian meninggalkan pintu terbuka agar tamu nya itu bisa masuk.
Rian berjalan cepat menghampiri Honey. Setelah memeriksa keadaan Honey ia menuju sebuah galon air. Sebuah gelas kosong di raihnya dari atas meja kemudian mengisi full gelas itu dengan air.
__ADS_1
“Minum,” Rian memaksa Honey meminum air di gelas itu. Ia meraih satu butir paracetamol yang sudah di siapkannya dari rumah. “Minum ini,” paksa Rian.
Honey tak bisa menolak. Ia meminum obat pemberian Rian segera atau Rian akan memaksa nya sambil ceramah panjang lebar.
Rian berjalan menuju rice coocker di atas meja namun isi nya kosong. Ia berjalan mendekati tong sampah melihat apa saja yang dimakan Honey hari itu. Benar saja, satu bungkus mi instan berada di dalam sana.
“Ckckc, jadi seharian kamu hanya makan mie? Karena kamu nggak sayang diri mu ya wajar jika kamu sakit seperti ini. Bahkan nggak mau minum obat, jika aku nggak ke sini kamu akan seperti ini terus meringkuk di balik selimut? Kamu pikir kamu robot atau kamu benar benar sudah bosan hidup?”
Ocehan Rian benar benar seperti suara kembang api di malam perpisahan tahun, meledak ledak di kepala Honey.
“Sudah kak Yan, sudah Honey minum obatnya.” ucap Honey lemah.
“Makan ini,” Rian mengeluarkan satu bungkus nasi goreng dari dalam tas nya.
“Kalau aku makan, kak Rian makan apa? Itu pasti kak Rian beli untuk makan malam kan?” ucap Honey.
“Aku akan singgah beli lagi. Pokoknya kamu makan ini. Awas nggak di makan. Besok sudah harus sembuh. Ingat banyak pekerjaan menanti kita besok, kita harus tetap sehat.”
“Makasih kak,” ucap Honey.
“Ya sudah kakak pergi dulu,” Rian berjalan keluar dari kamar nya. Namun begitu tiba di pintu Rian kembali. Sepertinya ia lupa melakukan sesuatu.
“Dimana posel mu?” tanya Rian.
Mata Honey mencari ke sekeliling kamar.
Rian membantu nya mencari hingga ke bawah bantal. Bener saja ponsel itu berada di sana. Rian segera mencari kabel carge dan mengisi daya ponsel usang milik Honey.
“Ponsel tuh harus selalu aktif, awas jika aku telpon ponsel kamu nggak aktif.” dengan nada mengancam Rian kemudian pergi dari situ.
Honey melanjutkan makan nya dalam diam. Ia juga tak ingin menjadi sakit seperti ini. Dia hanya terlalu lelah hingga melupakan segala hal yang harus di lakukannya hari itu termasuk makan dan mengecas handphone.
.
.
.
To be continued ⬇️
__ADS_1