
Sudah dua hari sejak Karmila di rawat di rumah sakit, namun kondisi nya tak menunjukkan sedikitpun perubahan. Karmila masih tertidur lemah seperti seorang yang sedang koma, ia terus di berikan obat penenang untuk menekan rasa sakit pada kepalanya.
Siang itu di rumah sakit, seorang dokter specialis ternama baru saja tiba di ruangan ICU dimana Karmila di rawat. Dokter Stuart adalah seorang ahli saraf ternama dari rumah sakit Amerika, ia datang bersama timnya khusus untuk mengunjungi Karmila, dengan di temani dokter Aidil ahli saraf rumah sakit tersebut.
Setelah melihat kondisi catatan medis Karmila, dokter Stuart bersama dokter Aidil menuju ke ruangan nya untuk membincangkan perawatan lanjutan untuk Karmila.
Dokter ternama dari rumah sakit terkemuka di dunia? Yang khusus datang ke rumah sakit kecil itu untuk melihat perkembangan tumor di otak Karmila.
Beberapa saat, usai keputusan yang di buat oleh para tim dokter itu, Honey langsung di panggil masuk ke ruangan ICU untuk bertemu dengan kepala ruangan.
“Siang dok,” sapa Honey.
“Honey, silahkan duduk,” ucap dokter Arman.
Honey mengambil kursi kosong berhadapan dengan dokter Arman. Sedangkan dokter Rasya menghampiri dokter Arman ikut mendengarkan apa yang ingin di sampaikan dokter Arman, Rasya berdiri persis di samping kursi dokter Arman.
“Kamu tau beberapa saat yang lalu, dokter Stuart seorang kepala rumah sakit Michigan Hospital Amerika baru saja datang mengecek penyakit ibu kamu?” tanya dokter Arman.
Honey menggeleng kepalanya, “saya tidak tau, kenapa bisa dok?” dengan wajah penasaran Honey balik bertanya.
“Menurut dokter Aidil, dokter Stuart ke sini atas permintaan Keanu Travor. Kamu kenal Keanu Travor?” tanya dokter Arman.
Honey mengangguk, “tentu saja, pak Keanu adalah CEO di perusahan tempat Honey bekerja.”
Dokter Arman mengangguk ngangguk paham. “Baru saja tim dokter mereka menemukan fakta bahwa tumor di kepala ibu mu termasuk tumor ganas, hanya dalam waktu singkat penyebarannya sudah sangat cepat. Membuat mereka bersama dokter Aidil memutuskan harus segera melakukan tindakan,” jelas dokter Arman, sedangkan Honey dengan serius memasang telinga menyimak penjelasan dokter Arman.
“Ibu mu harus segera di operasi dalam waktu dekat.” lanjut dokter Arman.
“Apa pun itu demi kesembuhan ibu, Honey setuju dok,” ucap Honey antusias.
“Masalahnya operasi tidak bisa di lakukan di Indonesia, mereka harus membawa ibumu ke Amerika. Peralatan canggih di sana akan membantu memperbesar peluang operasi ibumu berhasil,” jelas dokter Arman.
“Amerika?? Bukan kah jaraknya terlalu jauh dok? Pasti membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk ke sana,” ucap Honey.
“Biaya nya bisa mencapai miliaran, tergantung tingkat kesulitan dan waktu pemulihan ibumu,” lanjut dokter Arman.
“Miliaran? Dari mana Honey akan mendapatkan uang sebanyak itu?” ucap Honey panik, seberapa keras ia berpikir tetap tak ada cara untuknya mengumpulkan uang miliaran dalam waktu satu minggu.
“Mereka sedang menunggu keputusan kamu. Jika kamu setuju maka ibumu akan langsung di terbangkan ke Amerika.”
“Apa nggak bisa di rawat di sini saja dok?” tanya Honey lagi.
__ADS_1
“Di rumah sakit ini, kami tak bisa melakukan tindakan apa pun. Kami hanya bisa sedikit memperpanjang usia ibu mu dengan memberikan multivitamin dan penghilang sakit. Tapi kondisi ibu mu akan terus seperti itu. Tak akan pernah bangun dari tidurnya,” jelas dokter Arman.
“Bagaimana ini? Honey nggak memiliki uang sebanyak itu, harus kah Honey pasrah tak melakukan apa pun hingga ibu tiada?” ucap Honey panik. Wajah nya murung seperti hampir menangis, bergumam sendiri seperti orang gila, berharap sebuah ide briliant muncul dalam kepalanya.
“Honey, jika kamu memutuskan akan merawat ibu mu di sini. Saya akan menghubungi yayasan rumah sakit untuk membantu meringankan biaya pengobatan ibu mu,” ucap dokter Rasya ikut perihatin.
“Ta tapi kondisi ibu akan terus terbaring seperti itu dok.” ucap nya pada dokter Rasya.
“Saya turut menyesal, fasilitas rumah sakit di seluruh negeri ini belum bisa menjamin ibu mu akan pulih kembali. Saat ini peluang hidupnya tinggal 55% dengan kondisi tetap seperti ini kemungkinan sisa umurnya hanya tinggal setengah tahun lagi,” ucap dokter Arman terang terangan.
Nggak ada pilihan lain, selain membawa ibu ke sana. Tetap di sini sama saja dengan membiarkan ibu mati perlahan. Tapi dari mana Honey mendapat uang miliaran?
Kemudian suara ponsel dokter Arman berbunyi, panggilan dari dokter Aidil.
Penjelasan panjang lebar dari dokter Aidil membuat dokter Arman mangguk mangguk pertanda setuju.
“Baik dok, akan saya sampaikan,” sahut dokter Arman kemudian mengakhiri panggilan telponnya.
“Honey, ada kabar gembira, dua hari lahi ibu mu akan di berangkatkan ke Amerika. Tim dokter Stuart akan membawa ibu mu ke sana,” ucap dokter Arman.
“Kok bisa? Siapa pendonasi nya dok?” tanya Rasya.
“Keanu? Dia?” gumam Honey. Ia butuh penjelasan langsung dari Keanu saat itu juga.
“Maaf dok, Honey keluar sebentar,” pamit Honey kemudian pergi dari ruangan itu.
Di luar ruangan Honey mengutak atik ponselnya. Ia tidak menyimpan nomor Keanu, nomor Randi juga nggak ada. Honey memutuskan menghubungi Rian namun berulang ulang ia menghubungi, Rian tidak mengangkat panggilan nya. Memang di saat jam sibuk seperti itu ponsel mereka di simpan dalam loker.
Honey berencana menemui Keanu, namun ia mengurungkan niatnya.
Sudah hampir jam dua, beberapa saat lagi acara launching dimulai. Saat ini pasti dia sedang menggelar jumpa pers. Jika aku ke sana sama saja mengganggu acaranya. Aku akan menghubunginya nanti.
“Honey,” panggil dokter Rasya.
Honey pun menghampiri pria yang mengenakan coat berwarna putih itu.
“Ya dok, ada apa?” tanya Honey.
“Makan siang bareng yuk?” ajaknya.
“Honey nggak bisa dok, ada yang harus honey lakukan sekarang,” tolak honey.
__ADS_1
“Kamu pasti di larang sama pacar kamu yang mengenakan masker itu. Benar?” tanya Rasya. Tentu saja maksudnya adalah Keanu.
“Nggak dok, pria itu bukan pacar Honey,” ujar Honey.
Kemudian di ruangan yang sama seorang kurir kojek datang mencari Honey.
“Nona Honey, apa di sini ada yang bernama nona Honey?” teriak kurir di ruangan luas itu.
“Saya Honey, ada perlu apa?” tanya Honey, pada kurir berseragam hijau itu.
“Ini makan siang anda, silahkan di terima,” ucap pria itu sembari menyerahkan bungkusan ke tangan Honey.
Honey menatap lesu kotak makanan di tangannya. Sampai kapan ia akan di teror oleh makanan seperti ini?
Biasanya saat ia kelaparan, tak punya uang untuk membeli makanan ia hanya bisa menghayal berbagai jenis makanan enak. Dan sekarang setiap saat makanan enak itu datang menghampirinya, namun ia tak berminat sedikit pun menerima pemberian terus menerus seperti itu.
“Nona, tanda tangan di sini,” ucap pria itu.
“Dari siapa?” tanya Honey basa basi, sebenarnya ia tau makanan itu pasti berasal dari pak Keanu.
“Dari pak Randi,” jawab kurir itu.
“Terimakasih.”
Kurir itu langsung meninggalkan ruangan itu.
“Jadi namanya Randi?” tanya Rasya tiba tiba dari belakang Honey.
“Honey nggak peduli siapa namanya. Saat ini Honey nggak ada nafsu makan, makanan ini buat dokter saja,” ucap Honey. Ia menyerahkan kotak makan siangnya itu ke tangan dokter Rasya.
“Tapi inikan makan siang kamu,” tukas Rasya heran.
“Honey ada urusan penting sekarang, Honey akan kembali sore ke sini. Jika ada yang cari Honey tolong katakan Honey keluar sebentar,” ujarnya sembari melambai kan tangan. Ia meninggalkan dokter Rasya yang masih tertegun menatapnya. Ia berlari menjauh dari pintu ruangan kemudian menghilang di balik tembok rumah sakit.
.
.
.
To be continue ⬇️
__ADS_1