Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
022-Anak Emas


__ADS_3

“Kak Rian, sini.” Panggil Honey.


“Apa lagi?”


“Nyalain oven kak.”


“Aduh kakak kan udah kasi tau kemaren tombol power ya di sini, suhu nya ini dan timing nya ini,” sembari menunjukkan tombol tombol pada sisi kiri oven.


“Kakak kan jurusan mesin, pasti kakak biasa atasi mesin mesin kayak gini,” jawab Honey.


“Murianto?” panggil Marwah.


Disudut ruangan lain Aluna sedang terbahak bahak setiap mendengar para seniornya itu memanggil Rian dengan sebutan nama Murianto.


Rian tak menggubris. Ia tak suka nama nya di panggil lengkap seperti itu.


“Mur,” panggil Marwah lagi.


“Nggak denger, Rian nggak denger!” ucap Rian kesal.


“Ayo lah yan, bantu kakak. Colokan listrik dan suhu kompornya yang mana ini?” tanya Marwah.


“Tapi janji kak Marwah nggak panggil Rian dengan nama lengkap Rian lagi.”


“Ia ia kakak nggak panggil kamu Murianto lagi yan,” ucap Marwah.


“Loh emang kenapa, nama Murianto bagus kan? Itu nama pemberian orang tua ya harus di syukuri,” ucap Raniya.


“Please kak, panggil Rian aja Please,” ucap Rian memelas


“Iya, kakak panggil Rian. Hmm sana bantuin kak Marwah. Ingat kamu satu satunya super hero kita di sini. Kamu harus strong,” ujar Raniya.


“Eh kak, ntar kita ke kantin bareng ya. Aluna pengen makan yang banyak lagi,” ucap Aluna.


“Iya kita akan makan yang banyak, tapi sekarang selesaikan dulu kerjaan kita. Itu daftar menu kita hari ini. Nggak seberapa banyak, jadi sebelum jam makan siang sudah bisa selelsai.” ucap Raniya.

__ADS_1


“Baik kak Ran,” sahut Aluna.


Hari itu adalah hari kedua mereka di dapur. Mereka masih harus belajar cara pengoperasian peralatan dapur yang serba canggih itu. Timer dan suhu juga sedang mereka sesuaikan. Setiap oven berbeda untuk setiap jenis kue, dan Alhamdulillah, hari kedua sudah bisa menghasil beberapa jenis kue untuk di bawa ke kantin.


Usai mengerjakan semua pekerjaan, mereka menuju ke kantin yang letaknya tak jauh dari dapur mereka. Setiba di kantin, para karyawan yang lumayan banyak memadati area itu. Mereka terus menatap ke arah Honey dan kawan kawan. Bisikan, tatapan aneh serta pergunjingan terjadi di foodcourt perusahan itu. Entah apa yang membuat setiap mata mata itu menatap sinis ke arah mereka.


Namun dengan santai ke enam baker perusahan itu tak mempedulikan mata mata menyalak itu, yang ada dalam benak mereka hanyalah rasa lapar, mereka fokus pada makanan enak yang sudah terhidang di hadapan mereka.


Setelah berjejer mengantri di depan meja bufet seorang koki dengan seragam putih menarik sebuah nampan berisi ikan yang akan di ambil oleh Honey.


“Makanan ini untuk khusus untuk karyawan, jatah makan kalian hanya itu,” koki itu menunjuk sayuran di depan Rian.


“Hanya ini? Kami tidak bisa makan ikan?” tanya Rian.


“Ya.” Sahut koki itu ketus.


“Kami memakai kartu karyawan ini, kata bos ini kartu akses untuk seluruh fasilitas yang ada di perusahan. Termasuk tempat Gym, kolam, wifi, kantin dan spa. Kamu siapa melarang kami?” ucap Rian ketus.


Tak kehabisan akal, Marwah pun ikut protes. “Jika kamu melarang, saya akan tanya pak Randi benarkah kami tidak boleh makan disini?” Marwah berpura pura mengambil ponselnya untuk menghubungi pak Randi. Padahal sebenarnya ia tak memiliki nomor telpon pak Randi.


Saat itu juga koki itu menarik temannya itu masuk ke dalam dapur.


“Udah jangan ganggu mereka, mereka orang orang kesayangan CEO!” Bisik koki itu.


“Kenapa?” tanya seorang lainnya.


“Mungkin CEO sangat suka kue mereka,” jawab koki itu.


“Seenak apa sih kue buatan mereka, biasa aja tuh.”


“Hmmm, yang pastinya mereka beruntung, CEO ada di pihak mereka.”


Honey dan rekan rekan nya melanjutkan mengantri makan mereka.


Sejak insiden di kantin itu, akhirnya tersebar ke seluruh karyawan jika bagian patiserie adalah anak emasnya CEO. CEO sangat menyukai kue mereka, bahkan tak bisa jika nggak makan kue buatan mereka.

__ADS_1


Hingga seminggu setelah mereka bekerja di perusahan itu, tak ada yang berani memperlakukan Honey dan rekan rekannya dengan kasar. Mereka selalu di utamakan dan di hormati oleh karyawan karyawan lain di bagian dapur.


Terlebih saat Rian mulai menyebut nyebut nama boss, para karyawan pasti akan patuh pada ucapan Rian. Rian bahkan mulai seenaknya masuk keluar dapur hingga memerintah karyawan dapur agar membantunya mengangkat dan mengemas kue dari dapur patiserie.


“Mbak Min,” panggil Rian pada seorang pelayan di dapur.


“Ya??”


“Bawa ini ke luar, dan tolong panggil OB bersihkan dapur kami,” perintah Rian.


“Baik pak Rian,” pelayan itu patuh dan tunduk pada ucapan Rian.


Selepas wanita itu pergi Aluna Raniya mendekati Rian.


“Yan, kamu jangan kelewatan juga keles. Jangan sok jadi bos, nanti jika mereka melapor ke bos sikap kamu seperti itu gimana?” Tegur Raniya.


“Tenang kak Ran, bos sedang tidak di sini. Bos lagi di jepang.” tutur Rian.


“Kamu tau dari mana? Jangan asal ngemeng aja kamu,” ucap Raniya.


“Ya tau lah. Bahkan Rian sekarang akrab dengan semua sekuriti di perusahan ini. Rian banyak mendapat info dari mereka,” ucap Rian penuh percaya diri.


“Tetap kamu harus hati hati yan, jangan terlalu sembrono. Kamu tau sifat bos kita itu susah di tebak. Kita ini siapa? Tidak ada apa apanya di matanya. Kalau kamu di pecat gimana? ucap Raniya lagi.


“Iya, baiklah Kak Ran, Rian akan lebih menahan diri. Kakak tenang aja,” ucap Rian.


Di sisi ruangan lain, Honey tersenyum senang melihat kedua rekan nya itu. Mereka memang sudah seperti keluarga. Setiap ada yang berlebihan, atau salah mereka akan saling mengingatkan, setiap ada yang kurang mereka akan saling memberi masukan. Mereka tidak ingin salah satu di antara kami berenam terlibat masalah dalam perusahan itu.


.


.


.


To be continued ⬇️

__ADS_1


__ADS_2