
“Gimana nasib kita sekarang?” tanya Honey.
“Entah lah, kita harus segera mencari cafe lain yang bisa menerima kita bekerja di sana!” ucap Raniya.
“Jika eyke tidak mendapat pekerjaan lain dikota, mungkin eyke akan pulang kampung membantu bapak di sawah,” ujar Rian “tapi,…” sambil menatap jemarinya ia membayangkan tangan dan kakinya yang akan penuh lumpur jika harus menggarap sawah sang bapak.
“Aluna juga, Aluna akan alih profesi jadi penjahit. Bapak Aluna penjahit, jadi bisa bantu bantu bapak mencari nafkah,” ucap Aluna.
“Aku sih berharap semoga bu Tini bisa mempertahankan Cafe ini, agar kita tidak keluar dari sini. Bagaimana pun, kita sudah terbiasa bersama. Tentu saja terasa lebih nyaman jika tetap seperti ini,” ucap Rita penuh harap.
Wajah mereka menjadi sangat murung. Terlebih wajah Honey. Ia langsung teringat akan nasib ibunya. Jika tidak ada penghasilan berarti ibu nya tidak bisa di obati, berarti sakit ibunya tidak bisa di sembuhkan.
“Rupanya kalian sudah tau, ibu baru saja akan memberitahu kalian.” suara Bu Tini tiba tiba dari arah belakang.
“Bu jadi benar cafe ini akan di beli oleh mereka?” tanya Raniya.
“Benar, tapi kalian nggak perlu khawatir. Kalian masih tetap jadi pekerja di cafe ini. Hanya saja, kalian akan memliki bos yang baru. Pak Keanu Travor, pemilik Travor Primary Corp,” ucap bu Tini.
“Benarkah?” ucap Rian gembira. “Pria tampan dan kaya raya akan menjadi boss kita. Asik bisa cuci mata setiap hari,” sorak Rian penuh kegirangan.
Bu Tini melotot menatap Rian, dia terlihat sangat gembira akan memilik bos yang baru.
Demikian juga Kelima rekan lain nya, mereka menatap risih atas sorak Rian barusan. Mereka sudah terbiasa di bawah naungan bos cerewet seperti bu Tini. Mereka merasa tak rela jika bu Tini tidak menjadi bos mereka lagi.
__ADS_1
“Kami lebih senang bekerja bersama ibu, ibu jangan melepas kami,” ucap Aluna.
“Harus kah ibu menjual cafe ini?” tanya Marwah yang juga adalah keponakannya.
“Entah lah, jika ibu tak melepas ibu harus menerima konsekwensi lain. Yang jika di pikir pikir jauh lebih buruk dari pada mempertahankan cafe ini.” Bu Tini menarik nafas kemudian membuangnya berat,” lagian kapan lagi ada penawaran bagus seperti yang di tawarkan perusahan besar itu? Seperti nya mereka memang sudah menarget kan Cafe ini, sudah di beri harga bagus dan keuntungan yang bagus, maka ibu terima saja keputusan mereka,” jelas bu Tini.
“Ibu di paksa?” tanya Honey.
“Ya mungkin karena kesalahan ibu juga pernah mengusir bos besar itu keluar dari sini, dia marah dan mungkin dia ingin membalas mengusir ibu dari tempat ini,” ucap bu Tini.
“Kalau ibu di paksa, kami tidak akan ikut mereka!” ucap Rita tegas.
“Kalian bodoh atau apa? Kalian tau berapa gaji kalian saat kalian menjadi bagian dari karyawan perusahan itu?”
“3 kali lipat dari gaji kalian sekarang?” lanjut bu Tini.
Mata Rian berbinar, ia tak jadi turun ke sawah membantu sang ayah. Iya bisa terus berada di ibu kota, terlebih status sosialnya sekarang naik. Ia adalah bagian dari perusahan bonafit terbaik di negri ini. Ah, tunggu apa lagi, cepat lah bu Tini cepat jual cafe ini.
“Rasanya kurang tepat jika terus bekerja di sana. kami seperti sedang menghianati ibu.” ucap Raniya murung.
“Iya, Luna juga kok merasa begitu?” tambah Luna.
“Kapan lagi kalian akan hidup makmur seperti ini? Honey, bukan kah kamu butuh uang untuk pengobatan ibu mu? Raniya, bukan kah cita cita mu membangun toko kue mu sendiri dengan modal yang kamu kumpulkan? kamu tidak bisa merealisasikan cita cita mu itu, karena gaji mu sekarang tak cukup untuk keperluan sehari hari.”
__ADS_1
“Dan Rian? Kamu mau jadi petani sawah?” tanya bu Tini.
“Nggak bu, Rian nggak mau. Rian ingin tetap di sini, di ibu kota.”
“Ibu akan selalu menjadi pelanggan kalian, saat ibu merindukan kalian ibu akan datang ke sini membeli kue kalian.” lanjut bu Tini.
Mereka terdiam. Masing masing tenggelam dalam pikiran mereka masing masing, sekaligus sedih karena harus berpisah dengan bu Tini.
……
Keesokan harinya, pengacara utusan dari perusahan Travor Primary Corp kembali mendatangi cafe Murtini. Kali ini pengacara datang bersama Randi sang executive assistant CEO. Mereka kembali ingin bernegosiasi dengan bu Tini.
Sandri sang pengacara memang ahli dalam bidang mengurus segala urusan perusahan. Tak ada yang bisa lolos jika kasus sudah ada di tangan nya. Bahkan orang tak bersalah sekali pun bisa menjadi salah di tangan Sandri.
Seperti hari itu, karena telah terpojok akhirnya bu Tini langsung menanda tangani surat jual beli aset kepemilikan cafe nya. Bu Tini tak ingin berlama lama berurusan dengan orang orang besar itu.
Dan semenjak hari itu juga, Honey dan kelima temannya resmi tak bertuan lagi. Mereka bisa saja memilih ingin keluar atau tetap bekerja di situ. Namun dengan iming iming uang banyak mereka lebih memilih tetap mengelola cafe Murtini dengan boss yang berbeda yaitu si arogant tuan Keanu Travor.
.
.
.
__ADS_1
To be continued ⬇️