
Sepeninggal Keanu dan Honey, Lilian duduk cemberut menatap dua gelas minuman di atas meja. Minuman yang dibuat bi Ulfa namun tidak disentuh anak dan menantu nya. Kini isi dalam gelas itu sudah sudah menjadi dingin.
Seperti perasaan Lilian saat itu, terasa sepi. Sangat di sayangkan keinginan nya untuk membawa seorang menantu belanja bersama harus tertunda beberapa hari lagi.
“Oppss,” Lilian tersentak dan bangkit dari duduk nya. Ia langsung bergegas menuju ke arah dapur.
“Natalia, maafin tante. Tante lupa kalau kita lagi bikin kue. Mana adonan kue tadi?” tanya Lilian.
“Sudah Lia masukin dalam loyang, sekarang sudah berada dalam oven. Soalnya kelamaan di peram kue nya bisa bantet,” ujar Natalia dengan ramah.
“Oh ya, kamu lihat istri anak ku?” tanya Lilian.
“Ya sudah, aku hanya melihatnya sekilas,” jawab Natalia.
“Maaf Lia, tante lupa memperkenalkan kalian,” ucap Lilian.
“Menantuku, dia terlihat sangat polos, lugu dan sangat cantik. Dia sangat sederhana namun terlihat begitu bersinar. Huh, selama ini aku selalu mengenal kan anak ku ke wanita wanita glamour yang up to date dan fashionable, ternyata selera nya berbeda….” Sambil senyum bangga, Lilian terus membangga bangga kan menantu nya di hadapan Natalia.
“Caramel, nama nya Caramel. Dia terlihat seperti porselen, hanya butuh polesan sedikit kemudian dia akan menjadi sangat menakjubkan. Kamu lihat matanya, matanya sangat indah. Bentuk tubuhnya sexy, pinggulnya bak biola Spanyol. Di balik kesederhanaannya dia terlihat sangat cantik,” puji Lilian.
Sepanjang hari Lilian terus membahas putra nya dan Caramel. Setelah puas pamer kepada Natalia, kini Lilian menghubungi semua teman teman arisan nya. Ia terlihat begitu antusias dan bangga telah memiliki seorang menantu perempuan yang sangat cantik.
Setelah sejam kue yang di buat Lilian dan Natalia sudah terhidang di atas meja. Natalia telah memotong motong kue tersebut. Mengambil sebuah piring kecil dan membagi sepotong untuk Lilian.
Namun wanita paruh baya itu, saking gembiranya ia masih saja pamer soal Caramel pada teman teman nya.
“Tante,” panggil Natalia.
Lilian mengangkat tangannya, meletakkan jemari telunjuk di bibirnya. Natalia hanya bisa diam tak melanjutkan kata katanya.
Hingga malam pun tiba.
“Lia?” panggil Lilian setelah selelsai bergosip dengan teman temannya.
“Tante, Lia di dapur tan,” sahut Natalia dari dapur.
Lilian menghampiri Natalia. “Apa yang kamu lakukan?”
Natalia sedang mencuci piring saat itu.
“Bi Ulfa?” teriak Lilian.
“Iya nya,” ucap bi Ulfa.
“Nina dan Mira mana? Kenapa malah Lia yang mencuci piring?” Lilian menghardik Ulfa, kepala asisten rumah tangga nya itu.
“Maaf kan saya nya, mereka sedang membantu para pekerja mengangkut barang barang ke mobil,” sahut bi Ulfa merasa bersalah.
“Sudah selesai kok tant, piring nya nggak banyak juga. Nggak usah salahin bi Ulfa,” bela Natalia.
“Huf, Lia kamu seorang tamu. Jangan merepotkan dirimu dengan pekerjaan seperti itu. Tante jadi nggak enak,” ucap Lilian.
Tamu? Memang selamanya Lia hanya di anggap tamu di rumah ini… tidak pernah lebih dari itu.
“Oh ya, Lia. Kamu bisa bawa kue yang kamu bikin, sudah malam tante harus istirahat sekarang,” ucap Lilian blak blakan.
__ADS_1
“Baik tante, Lia pamit dulu,” ucap Natalia.
“Kamu hati hati di jalan ya sayang,” ujar Lilian kemudian berbalik badan.
Ia langsung masuk ke kamar. Seharian membuat kue, bergosip membuat Lilian lupa mandi. Ia menuju kamar mandi merendam tubuhnya dalam bath tub sambil membayangkan planing yang akan di lakukannya bersama Caramel menantunya.
Sementara itu, Natalia berjalan keluar dari pintu rumah mewah itu sambil membawa kemasan berisi kue yang dibuatnya bersama Lilian. Kue yang tidak di sentuh ataupun di cicipi sedikitpun oleh Lilian.
Natalia menghampiri beberapa pekerja yang sedang memuat bunga bunga ke atas mobil pick up. Natalia melempar kasar kantong berisi kue itu kehadapan mereka.
“Ini kue buat kalian,” ucap Natalia ketus.
“Terima kasih nona,” ucap seorang wanita yang sedang menyusun kotak kotak di atas mobil pick up.
Tanpa basa basi Natalia langsung menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari situ. Ia langsung meninggalkan rumah mewah tersebut.
…^_^…
Keanu membawa istrinya keluar dari rumah mewah ibunya, jika tidak wanita merepotkan itu akan membuat Honey tidak bisa pulang bersamanya malam itu.
“Maafin ibu ya sayang -“
“Pak,” sela Honey tegas seraya menyodorkan kotak perhiasan dan kunci mobil ke pangkuan Keanu.
“Darimana bapak tau soal Caramel!” tanya nya.
Wajah Keanu berubah diam.
Yah, benerkan dia marah soal itu. Batin Keanu.
“Darimana bapak tau nama saya Caramel?” tanya nya lagi, matanya meneliti wajah Keanu meminta penjelasan pasti.
“Baiklah, aku akan cerita. Tapi janji lah satu hal,” aju Keanu.
Honey terus menatap pria yang duduk di samping kanan nya itu yang sedang kewalahan memindahkan kotak perhiasan ke arah Honey.
“Kamu nggak boleh marah,” lanjut Keanu.
Wajah Honey semakin kesal. Di saat seperti itu Keanu masih saja megajukan kata kata marah. Jika saja Honey bisa marah, ia pasti akan meninju, memukul dan menjambak pria di sampingnya itu. Dia berhasil menjebak Honey dalam pernikahan palsu kemudian diam diam menggunakan nama asli nya dalam akta nikah mereka.
“Aku sudah menyelidiki latar belakang kamu,” jawab Keanu.
Honey teringat akan ucapan Rian, bos nya itu membeli cafe Murtini karena dirinya.
“Sejak kapan?” tanya Honey.
“Sejak, memesan kue dari cafe itu. Usai rapat pemegang saham,” ujar Keanu.
“Kenapa bapak menyelidiki saya? Dan untuk apa?” tanya Honey jutek dan penasaran.
“Karena aku sudah lama mencarimu, aku menemukan buku resep kue milik mu yang terjatuh di halaman parkiran kantor,” jawab keanu jujur.
“Caramel, aku akhirnya berhasil menemukan mu,” ujar Keanu seraya tersenyum.
Pikiran Honey semakin kacau balau. Ia mendapat jawaban yang semakin membuatnya penasaran. Mengapa? Bagaiaman bisa? Dan sangat tidak mungkin seorang Keanu Travor mencari dirinya.
__ADS_1
“Kenapa bapak mencariku?” tanya Honey.
“Karena aku menyukai mu,” jawab Keanu.
“Pak?” ucap Honey tegas. “Bisakah bapak memberiku penjelasan yang lebih jelas?” tanya nya lagi.
“Jika aku memberitahu kamu apa kamu akan ingat?” tanya Keanu.
“Maksud bapak?” tanya Honey, ia semakin dibuat penasaran.
“Jika aku mengatakan namaku Kean, apa kamu ingat?” tanya Keanu.
Honey menggeleng.
“Waktu itu kamu masih kecil jadi kamu pasti tidak ingat tentangku!” lanjut Keanu.
“Setidaknya bapak sudah memberikan aku sedikit penjelasan,” mata Honey menatapnya penuh harap.
“Oke,” ucap Keanu begitu melihat wajah manyun Honey.
“Saat aku berusia sekitar 12 atau mungkin 13 tahun, aku sangat gemar bermain game di jalan Kartini. Kamu ingat house gaming?” tanya Keanu.
Honey mengangguk.
“Itu kan game Center, dimana perusahan Travorplay sekarang berada,” ucap honey, ingatannya sangat samar karena ia baru berusia sekitar lima tahun saat itu.
“Yup, benar. Kamu masih terlalu kecil jadi kamu pasti tidak mengingatku,” ucap Keanu sambil fokus pada jalanan di depannya.
“Jadi karena itu bapak mencariku?” tanya honey seraya membuang mukanya ke arah jendela samping kirinya. “Bapak pasti terlalu banyak menghayal anak kecil itu sampai sampai mencarinya hingga sekarang.”
“Aku hanya penasaran, apa anak perempuan kecil itu masih se imut dan selucu waktu itu?!”
Honey melempar kembali pandangannya ke arah Keanu.
“Jangan bilang bapak kecewa melihat penampilanku sekarang,” gumam Honey dengan wajah manyun.
“Nggak lah, jika kamu nggak selucu saat kamu kecil, aku nggak bakalan menikahi kamu.” ucap Keanu. Ia mengusap kepala Honey, namun dengan segera Honey menghindari sentuhan pria itu.
“Menikah palsu pun bangga,” gumam Honey pelan namun jelas terdengar di telinga Keanu.
“Palsu? Pernikahan kita sudah terdaftar di capil. Apa nya yang palsu? Status kamu sekarang adalah nyonya Travor,” tegas Keanu.
“Aku seperti terjebak, ini tidak sah?”
“Kapan kamu di jebak? Tadi kamu yang datang menghampiriku, kamu yang menawarkan diri mu padaku,” ucap keanu mengingatkan kembali kejadian siang tadi.
Honey menunduk malu, ia tak bisa menampik ucapan keanu.
“Caramel Hermond, karena sekarang kamu adalah istriku. Kamu tidak sendiri lagi, mulai saat ini aku akan selalu ada sisi mu,” lanjut Keanu.
.
.
.
__ADS_1
To be continue ⬇️