Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
021-Kontrak


__ADS_3

Dua hari setelah interview, Honey dan kawan kawan di minta untuk datang ke perusahan pukul 11 siang. Mereka berenam sudah berkumpul di ruangan karyawan dapur pukul 11 tepat, mereka menunggu pak Randi datang menjumpai mereka.


“Kak, kita kapan mulai kerja? Dua hari hanya di dalam kamar kos Honey bete,” ujar Honey.


“Entah lah Hon, kamu lihat sendiri bangunan cafe kita sudah mulai di bongkar, kakak juga nggak tau kapan,” jawab Rian.


“Lagian kenapa di bongkar, bangunan itu kan masih bagus,” ujar Aluna.


“Menurut kamu bagus, tapi menurut orang kaya, bangunan itu kumuh dan jelak,” sambung Rita.


Ditengah perbincangan mereka, aroma makanan dari arah luar pintu menyeruak masuk ke dalam ruangan.


“Hmmm,” Honey menghirup dalam aroma makanan itu sambil mengelus perutnya.


“Masakan perusahan ini pasti di masak oleh koki profesional. Dari aroma nya aja sudah tercium kelesatan nya,” ucap Aluna.


“Iya, jadi laper kan?” tambah Honey.


“Kita sekarang karyawan perusahan ini, kita bisa nggak ya makan di kantin itu?” tanya Raniya.


“Jika bisa, kita nggak perlu bawa bekal lagi untuk bekerja.” ucap Rita.


“Maaf terlambat, saya baru saja dari ruangan meeting,” ucap Randi yang baru saja tiba di situ.


“Kalian ikut saya sekarang,” ajak Randi.


Mereka berenam berjalan mengikuti Randi memasuki sebuah pintu besar. Setiba dalam ruangan mata mereka tercengang.


“Ini adalah tempat baru kalian. Mulai saat ini kalian akan bekerja di sini,” ucap Randi.


“Di disini?” tanya Marwah.


“Ya, kalian adalah karyawan khusus yang di siapkan bos untuk mengolah kue. Kue kalian siap kan khusus untuk bos. Selebihnya akan di bawa ke kantin karyawan.”


“Pak, bagaimana dengan cafe itu?” tanya Marwah.


“Ah cafe itu akan di bongkar. Kalian akan kerja di sini sampai Cafe itu selesai, setelah selesai di bangun kalian bisa kembali bekerja di sana,” ucap Randi.


“Ini daftar gaji kalian, serta surat kontrak kerja kalian. Kalian bisa tanda tangani sekarang dan mulai bekerja hari ini.” ucap Randi.


“Hari ini?” Mata Rian berpendar mengitari ruangan elit itu. “Pantes Semua sudah disiapkan, ternyata kita akan mulai kerja hari ini.”

__ADS_1


“Bahan bahan?” tanya Raniya.


“Oh iya,” Randi membawa mereka memasuki sebuah pintu. “Disini. Bahan bahan sudah tersedia di sini. Jika ada yang kurang kalian bisa buat daftar bahan nya kemudian serahkan kepada saya. Saya akan menyiapkan bahan untuk kalian,” ujar Randi.


Mereka memasuki ruangan tak seberapa besar yang ternyata adalah ruangan penyimpanan bahan.


“Wuaaahhh,” gumam Aluna.


Randi kemudian membuka sebuah kulkas yang ada di ruangan itu. Segala jenis Butter, keju, selai, cream tertata rapih di situ.


“Pak, kue apa yang harus kami buat hari ini?”tanya Raniya.


“Kalian buat apa saja sesuai yang kalian ingin. Saat ada permintaan khusus dari atasan, ia akan langsung ke sini memberitahu kalian.” jawab Randi.


Segitu suka kah bos kaya raya itu dengan kue? sampai sampai menyiapkan tim kuenya sendiri di kantor nya. Ta tapi… mengapa kami? Padahal dia bisa saja menyewa patiserie mahal kelas dunia jika dia mau. Batin Honey.


Randi membagikan satu-persatu map dari dalam tas kerjanya. Mereka membaca satu persatu poin kebijakan yang tertera di kertas itu.


Jam kerja mereka 07:30-19:30 kecuali ada acara khusus bisa sampai larut dan akan di hitung lembur.


“Waaahhh asik gaji Aluna 5 juta ya pak Randi, waahhhh,” sorak Aluna senang.


“Saat kalian sudah menanda tangani itu, kalian berhak mendapatkan ini, sebuah kartu perusahan. Akses untuk masuk dan akses untuk apa pun di dalam gedung ini,” ucap Randi.


Randi mengangguk.


Rian bergegas menuju meja kemudian menanda tangani kontrak tersebut. Ia langsung menyerahkan map tersebut kepada Randi kemudian mengambil kartu karyawan bertuliskan namanya.


Rian segera mengalungkan kartu karyawan itu ke lehernya.


Raniya, Aluna, Marwah dan Rita langsung bergegas menandatangani kontrak kerja mereka.


Sedangkan Honey ia masih berdiri membaca sekali lagi kebijakan yang tertera pada lembar kontrak kerja itu.


“Pak Randi?” panggil Honey.


“Yap.”


“Kenapa kami yang di pilih?” tanya Honey.


“Hmm,” Randi menggaruk kepalanya. “Karena kue kalian enak. Bos suka kue saat rapat pemegang saham itu, katanya kue kalian bahkan lebih enak dari cafe langganannya,” jawab Randi asal.

__ADS_1


Randi sebenarnya masih bingung, jika segitu sukanya bos dengan kue, dia bisa menyewa koki internasional. Nggak harus repot dengan enam orang yang masih di ragukan keahlian mereka itu.


“Ayo kak Hon, tanda tangan.” ajak Aluna.


“Ah iya,” Honey menuju meja dimana Aluna sedang duduk dengan pulpen dan kertas di tangannya.


Mereka menyerahkan lembaran map itu ke tangan Randi.


“Kue yang kalian buat bisa langsung di bawa ke kantin, di sana sudah di siapkan etalase display. Kalian bisa bertanya dengan pelayan kantin jika kalian butuh bantuan. Mereka akan ke sini membantu kalian.”


“Oh ya, di dalam ruangan itu,” Randi menunjuk sebuah pintu tak jauh dari situ. “ruangan ganti kalian. Baju seragam kalian ada dalam loker. Perhatikan selalu kebersihan. Pakaian seragam wajib di pakai saat berada di dapur.” ucap Randi.


“Masih ada pertanyaan?”


Mereka serempak menggelengkan kepala.


“Jika tidak, saya akan pergi sekarang. Selamat bekerja,” ucap Randi.


“Kita mulai kerja sekarang?” tanya Marwah.


“Ya, selamat bekerja!” Randi kemudian pergi dari situ.


Sepeninggal Randi mereka berenam menuju ruangan dapur. Semua peralatan serba elit dan mahal. Blender kecil dan besar dengan merk terkenal. Oven berkapasitas besar dan canggih,serta beberapa mesin Kukusan listrik serta kompor listrik.


“Gila kan? Rian ga percaya, peralatan mahal ini hanya ada di restauran bintang 5. Siapa menyangka kita aja menjadi setara dengan para patiserrie terkenal dunia.” ujar Rian takjub.


“Aluna bahkan kebingungan dengan ini semua. apa kak Rian tau cara menggunakan alat alat ini?” tanya Aluna.


“Ha? Nggak.”


“Ayo, kita coba buat sebuah adonan. Lama lama kita pasti terbiasa dengan alat alat ini,” sambung Marwah.


Mereka mulai melakukan apa yang bisa mereka kerjakan saat itu. Walaupun masih sedikit was was dan kaku, mereka perlahan mempelajari kerja setiap mesin mesin itu. Cara kerja semua mesin mereka buka dari internet.


Hingga menjelang sore sebuah adonan kue berhasil mereka buat. Dan hasilnya lebih cepat, ukuran suhunya lebih akurat, timbangan dan waktu juga sesuai.


.


.


.

__ADS_1


To be continued ⬇️


__ADS_2