Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
011-Preman Ganteng


__ADS_3

Pertemuan Keanu bersama Manager Johan hanya berlangsung setengah jam. Pukul enam sore itu Keanu harus menghadiri peluncuran game terbaru. Peluncuran game dilakukan secara daring. Pusat acara nya berada di kantor Travoplay.


“Pak,” panggil Randi.


Keanu tak merespon. Ia tengah asik menyaksikan peluncuran game secara streaming dari sebuah aplikasi yutub.


“Pak, kita ke kantor sekarang? Makan malam dengan kapolda jam delapan. Masih ada waktu sdua jam,” ucap Randi.


“Kita Ke cafe tempat kamu memesan kue.” Mata keanu terus menatap ke arah tablet. Acara streming baru saja di mulai.


Randi menoleh ke arah kursi belakang. Wajah Keanu tak main main, ia benar benar ingin ke sana.


“Kita ke jalan Antasari pak,” perintah Randi pada pak Tora.


Mobil meluncur menuju cafe Murtini, hanya berjarak sekitar dua kilometer dari perusahan. Hingga tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di situ.


“Stop di depan pak.” Randi meminta pak Tora untuk stop.


“Pak kita sudah tiba,” ucap Randi.


Keanu mengangkat kepalanya menatap ke arah toko kue yang tidak seberapa besar, terlihat agak kuno. Benar benar kurang menarik di mata Keanu.


Keanu langsung keluar dari mobil menuju ke dalam toko kue tersebut.


“Pak pak bos mau masuk?” ucap Randi kebingungan. Ia tak sempat membukakan pintu untuk bos nya itu.


“Pak,” Randi berjalan cepat menghampiri Keanu yang sedang berdiri di balik pintu.


“Bapak mau masuk?” tanya Randi kemudian langsung mendorong pintu kaca tersebut dan mempersilahkan bosnya masuk.


Keanu berdiri. Bukannya menatap etalase pajangan kue, ia malah menatap tiga meja kayu dan beberapa kursi kayu yang mengitari meja meja itu.


Seolah sedang berpikir diamana dia akan duduk. Kursi kursi itu serasa tak layak untuk di duduki nya.

__ADS_1


Namun dengan pasti Keanu menghampiri sebuah meja yang paling depan kemudian duduk di sana.


“Pak?” Randi kebingungan dengan sikap bos nya saat itu.


“Bapak kenapa duduk di sini? Jika bapak mau, kita bisa bungkus dan makan di kantor,” ucap Randi.


“Sebaiknya kamu duduk saja,” Keanu menggeser sebuah kursi untuk Randi.


“Ambilkan laptop saya, kita akan melakukan wawancara di sini.” ucap Keanu.


“Baik pak,” Randi kembali ke mobil mengambil tas kerja Keanu.


Ia kembali ke samping Keanu. Randi mempersiapkan laptop untuk Keanu, hingga menyala kemudian masuk ke sebuah aplikasi Zoom.


“Bapak yakin ingin wawancara di sini? Ruangan di sini agak kurang pencahayaan,” ucap Randi mengingatkan.


“Chanelnya sudah di buat, bapak akan di undang masuk saat pertandingan game pembuka sudah selesai,” jelas Randi.


Dari sebuah sisi ruangan, bu Tini sedang memperhatikan kedua pelanggan yang baru saja masuk dan seorang pria yang berdiri tegap di depan pintu. Bu Tini mengangkat kedua tangannya ke atas pinggang, wajahnya menampakkan kekesalan yang semakin menjadi.


“Bu, mereka terlihat seperti preman. Kecil kan suara ibu!” ucap Aluna si gadis polos.


“Dari mana kamu tau?” tanya Bu Tini.


“Lihat pakaian mereka. Semua serba hitam,” ujar Aluna.


“Preman preman, saya nggak takut dengan preman,” bu Tini menggulung lengan baju nya berniat menghardik kedua pria itu.


Aluna dengan sigap menarik lengan bu Tini. “Bu kalau mereka marah gimana? Kalau barang barang di hancur gimana?” ucap Aluna khawatir.


Benar juga, bisa rugi saya!


“Trus kita biarkan begitu saja sikap mereka yang tak bertanggung jawab itu?” ucap bu Tini. Ia terlihat nekat namun sebenarnya, dalam lubuk hati bu Tini, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan cafe nya. Ia tak ingin terjadi kerusakan yang bisa menyebabkan kerugian.

__ADS_1


“Bu, biar Aluna yang layani mereka. Ibu tunggu di sini.” Dengan gemetar Aluna memberanikan diri menghampiri pria pria itu.


Saat itu mata Randi mencari cari ke arah meja kasir dimana bu Tini dan Aluna berada. Randi sedang menunggu seorang pelayan yang akan melayani mereka.


Melihat Randi berbalik badan, langkah Aluna menjadi semakin berat. Rasa takut sekaligus was was, bagaimana jika kedua preman itu memukulnya.


Aluna hendak berbalik badan ke meja kasir tapi matanya tertuju ke arah bu Tini yang sedang mengerling. Bu Tini sedang menyuruh Aluna untuk maju.


Aluna akhirnya memberanikan diri, pelan namun pasti Aluna sudah berdiri di belakang Randi.


“Maaf, mau pesan apa?” ucap ya dengan gugup dan takut.


Keanu mengalihkan pandangannya dari tablet ke arah Aluna.


Oh My god, preman paling ganteng yang pernah Luna lihat. Ganteng banget ya Allah. Kenapa orang seganteng ini mau menjadi penjahat?!


“Caramel ada?” Tanya keanu.


“A ada,” jawab Luna sambil asik menikmati wajah tampan Keanu di balik pendar remang cahaya lampu ruangan itu.


Aluna masih menunggu pesanan lainnya dari bibir Keanu ataupun Randi.


“Hanya Caramel?” tanya Aluna.


“Satu?” Tanya Aluna lagi. Aluna sedikit bingung. Namun ia tak berani bertanya lebih.


Keanu mengangguk mengiyakan, saat itu ia sedang bertanya seorang wanita bernama Caramel Hermond. Ia ingin langsung melihat wanita itu saat itu juga.


.


.


.

__ADS_1


To be continued ⬇️


__ADS_2