
Setelah seminggu melakukan perjalanan bisnis ke Jepang dan Taipei. Senin subuh Keanu kembali dengan menggunakan pesawat pribadinya.
Pegal dan lelah akibat berjam jam di atas pesawat membuat Keanu harus mengistirahatkan tubuhnya setiba di kediamannya.
Tapi apa daya, baru beberapa jam ia memejamkan mata, suara ponsel membangunkan nya.
“Pak, laporan yang bapak minta sudah ada. Saya akan mengantarnya ke kantor bapak pagi ini,” ucap Arlek seorang detektif swasta yang sudah bekerja untuk nya selama beberapa tahun terakhir.
“Kamu bawa ke apartemen saya sekarang,” perintah Keanu.
“Baik pak,” sahut Arlek.
Saat itu jam digital di atas nakas sudah menunjukkan pukul delapan. Keanu tak bisa melanjutkan tidurnya, saat mengantuk sekalipun. Pikiran nya terus tertuju pada hasil penyelidikan Arlek yang sudah di tunggunya selama seminggu terakhir.
Ia kemudian menuju kamar mandi membasuh dirinya di bawah guyuran air hangat yang bisa membuat nya merasa segar dan kembali melakukan aktivitas.
Selang beberapa menit ia keluar dari kamar, masih dengan kimono melekat dibadan, Keanu menyeduh secangkir expresso ke dalam gelas kemudian berjalan menuju pintu.
Sesuai perkiraan, Arlek sudah berdiri di depan pintu apartemennya.
“Ting tong,” suara dentuman bel.
Hanya sekali pencet bel, pintu telah terbuka.
“Pagi pak,” sapa Arlek.
“Masuk Lek.” ajak Keanu.
Keanu berjalan masuk menuju sofa hijau pastel diikuti Arlek berjalan di belakangnya.
Belum sempat duduk ia duduk, Keanu langsung meraih map dari tangan Arlek. Ia membuka sampul map itu kemudian melemparnya ke atas meja. Matanya mulai menatap lembar pertama yang ada dalam genggamannya.
Sebuah keterangan berupa surat lahir atas nama Honey Hermond. Lembar kedua adalah surat keterangan lahir atas nama Caramel Hermond. Keanu terus membuka lembar lembar selanjutnya berupa kartu keluarga, keterangan tempat mereka bersekolah, kemudian beberapa lembar foto diri Caramel dan Honey sang kakak. Lembar foto terakhir adalah foto kematian tragis dari Honey Hermond.
“Jadi Honey Hermond kakak dari Caramel Hermond sudah meninggal?” tanya Keanu.
“Iya pak.”
“Penyebabnya?” tanya Keanu.
“Tabrakan mobil. Jika mau saya akan mencari info lebih jelas mengenai kecelakaan itu!” ucap Arlek.
“Nggak nggak perlu. Orang yang saya cari adalah Caramel bukan Honey,” ucap Keanu. Ia sudah merasa puas dengan hasil yang didapat Arlek saat itu.
“Kalau begitu saya pamit pak, bapak tinggal hubungi saya jika ada yang kurang atau ingin data mereka yang lebih jelas,” ucap Arlek.
“Ini sudah cukup,” Keanu berjalan ke arah nakas. Ia mengambil uang dalam amplop coklat dari dalam nakas kemudian menyerahkan kepada Arlek. “Dan Ini sisa uang yang saya janjikan,” ucap Keanu.
__ADS_1
“Terimakasih pak,” Arlek membungkuk memberi hormat. “Kalau begitu saya permisi pak.”
Arlek langsung meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Keanu, ia melihat lihat sekali lagi data data yang ada di tangannya.
“Aku aku akan ke kantor sekarang, tak ada yang bisa aku lakukan jika hanya terus melihat fotonya,” gumam Keanu.
Data diri Caramel diatas meja di masukkan ke dalam laci. Keanu langsung menuju ruangan ganti. Kemeja hitam polos di padan kan dengan celana hitam adalah pilihan yang dipakainya. Ia ingin terlihat lebih santai namun tetap terlihat rapih saat bertemu para karyawan.
…..
Sementara itu, kegiatan di dapur bakery sedang sibuk sibuknya pagi itu. Honey dan kawan kawannya baru saja akan memulai kegiatan. Segala macam bahan baku sudah di siap kan di atas meja.
Kemudian Keanu masuk ke ruangan itu dengan tiba tiba. Honey dan rekan rekan nya tak menyadari kehadiran sang CEO dari balik pintu. Ia berdiri sambil memeluk dada menatap Honey yang sedang sibuk membuat cream cheese nya.
Keanu mendekati Honey, ia berdiri persis di samping mixer yang terus berputar menderu deru.
Menyadari kehadiran Keanu, Rian langsung membungkuk hormat. Demikian dengan Raniya dan juga Rita.
“Pak, ada yang bisa kami bantu?” tanya Rian.
Honey berbalik badan menatap ke arah Keanu. Ia akhirnya ikut membungkukkan badannya.
“Bapak butuh sesuatu?” tanya Honey saat itu juga.
“Bagaimana aku bisa melihat wajahmu jika kamu membungkuk seperti itu?” gumam Keanu di tengah tengah bisingnya suara blender.
“Bapak sedang mengatakan sesuatu?” tanya nya.
“Oh oh maaf,” Honey bergeser beberapa langkah ke arah blender. Tangannya langsung memencet tombol off. Suara bising berubah menjadi senyap.
“Bapak butuh sesuatu?” Honey kembali bertanya.
“Saya ke sini hanya ingin mencari sebuah tempat yang tidak membuatku bosan,” sahut Keanu.
Keanu menatap sekeliling ruangan. Ia mencari posisi yang cocok untuk sebuah meja dan kursi.
Kemudian dua orang OB masuk dengan sebuah meja bulat dan kursi di tangan mereka.
“Kami meletakkan ini dimana pak?” tanya mereka.
“Di situ,” Keanu menunjuk arah sudut ruangan.
Para OB meletakkan meja sesuai yang di perintahkan CEO.
Meja sudah tertata di sudut ruangan yang jauh dari lalu lalang para pekerja dapur itu.
“Kalian Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian,” ucapnya pada para OB itu. Keanu kemudian berbalik badan menghadap Honey. “Kamu juga lanjutkan pekerjaan mu,” ucap nya pelan.
__ADS_1
Keanu berjalan menuju ke arah meja dan kursi kemudian duduk di situ.
Honey dan kelima rekannya kembali beraktifitas seperti yang di perintahkan Keanu. Mesin blender kembali menderu. Ada yang mulai memanggang, ada yang sedang membuat toping dan ada yang sedang mengolah adonan. Semua tugas mereka kerjakan seperti biasa sesuai pembagian tugas mereka masing masing.
Namun ada yang berbeda pagi itu. Mereka bekerja sambil di pantau. Mereka jadi tak leluasa berbincang, bercanada atau pun ber malas malasan seperti biasa.
Honey, Rita, Rani, Marwah dan Aluna seakan sedang bekerja di bawah tekanan. Berbeda dengan Rian, dengan adanya CEO di situ ia terlihat semakin bersemangat dan enerjik.
“Pak,” Rian menyuguhkan sang CEO dengan satu cup cheese cake yang baru saja di lumeri dengan cream cheese. “Mau kopi atau teh pak?” tanya Rian dengan senyuman seindah mungkin.
“Expresso,” sahut Keanu singkat.
“Baik,” Rian undur diri menuju arah dapur.
Sambil melenggak lenggok Rian kembali dengan secangkir kopi di tangannya.
“Ini expresso bapak,” ucap Rian kemudian kembali melakukan aktivitasnya.
Keanu duduk tanpa melakukan apa pun, dimana Honey bergerak disitu mata Keanu tertuju. Saat Honey hilang dari pandangan mata, ia akan mencari ke sekeliling ruangan.
Hingga selang satu jam berlalu, Randi tiba di ruangan itu.
Rambutnya masih terlihat basah, dengan kemeja yang tidak di setrika rapih, Randi langsung menyerahkan laptop ke hadapan Keanu.
“Ini laptop bapak. Bukannya kata bapak siang baru ke kantor?” ucap Randi. Ia kesal namun harus di paksa senyum, dalam hatinya mendumel tak henti hentinya.
Aku baru tidur sebentar. Setelah mengantar bapak pulang subuh tadi aku baru kembali ke rumah, dan baru bisa tidur pukul 7. Sekarang aku harus ke sini dengan terburu buru seperti ini. Mandi asal asalan dan tidak sarapan.
“Huuffftttt,” gerutu Randi.
“Kamu sudah bosan bekerja dengan ku?” tanya Keanu setelah mendengar Randi membuang nafas panjang.
“Nggak Ngak pak, siapa yang bosan bekerja untuk bapak? Masih ada yang bapak butuhkan?” tanya Randi bersemangat.
“Pergi dari hadapan ku,” perintah Keanu.
“Baik pak saya pergi, saya menunggu di depan pintu.”
Randi berlalu dari hadapan bos nya. Karena sepertinya ia sedang menghalangi pandangan mata sang bos. Lagian berada di samping bos hanya akan memicu keluar aura negatif sang bos, mood sang bos sepertinya sedang baik saat itu. Tidak biasanya bos nya itu mau minum di cangkir berbeda selain cangkir kopi nya sendiri.
.
.
.
To be continued ⬇️
__ADS_1