
Dalam perjalanan menuju bandara, pertengkaran kecil terjadi di dalam mobil. Tentu saja bukan sebuah masalah besar bagi Keanu dan Honey. Pertengkaran terjadi karena sang suami merasa si istri harus tinggal di rumah dan si istri merasa tidak terbiasa berdiam diri di rumah.
Randi yang sedang duduk di balik kemudi, tercekat sekaligus tegang. Setiap perbedaan pendapat di antara pasangan suami istri dadakan itu, kenapa harus Randi yang menjadi juri siapa yang benar atau siapa yang salah. Rasa nya ia ingin melompat keluar dari mobil itu, salah jawab sama saja tamat riwayat hidupnya.
“Mulai besok kamu nggak perlu datang bekerja ke kantor lagi, kamu bisa tinggal di rumah. Nggak mungkin istri seorang Travor bekerja di dapur perusahan! Apa kata orang?” ujar Keanu melanjutkan pembahasan dari depan ruangan ICU.
Dari kursi depan Randi tampak mengangguk ngangguk setuju dengan keputusan yang baru saja di buat Keanu.
“Randi apakah layak jika istri saya berada di dapur melayani ribuan karyawan ku!”
“Nggak pak,” jawab Randi.
“Tapi pak, tadi kata bapak akan memikirkan lagi, kenapa sekarang berubah?” tanya Honey.
“Setelah aku pikir pikir, aku nggak tega melihat kamu membuat kue untuk di makan karyawan kantorku. Derajat dan martabat kamu lebih tinggi dari mereka,” lanjut Keanu.
“Kenapa malah ke martabat dan derajat pak, semua manusia sama di mata Tuhan. Kita nggak boleh memandang orang dari status sosial nya,” ujar Honey.
“Jika pak Randi menikahi seorang pelayan, apakah akan berpengaruh terhadap kekuasaan pak Randi di kantor? Apa para karyawan akan menganggap remeh pak randi karena berhubungan dengan pelayan?” tanya Honey.
“Nggak Nyah,” jawab Randi.
“Status aku dan Randi beda,” celetuk Keanu.
“Lagian kalau kamu capek dan sakit gimana?” ucap Keanu seakan mencari cari alasan yang tepat.
“Saya sudah terbiasa kerja, saya malah merasa bosan jika terus berada di rumah,” sahut Honey.
“Kalau kamu ingin terus bekerja, kamu bisa pindah ke divisi lain,” ucap Keanu.
“Menurut kamu gimana Randi?” tanya Keanu pada pria yang duduk di balik kemudi.
__ADS_1
“Menurut saya, mbak Honey bisa menjadi dirinya sendiri. Yang penting dia merasa bahagia?” Jawab Randi.
“Jadi maksud kamu aku tidak memikirkan kebahagiaan nya?!” gertak Keanu.
“Bbu kan begitu maksud saya pak.” ucap Randi terbata.
“Pak, saya suka berada di dapur bersama rekan rekan saya. Lagian membuat kue untuk banyak orang adalah suatu kebangggan tersendiri buat saya. Saya senang jika kue buatan saya di nikmati banyak orang,” jelas Honey.
“Randi bagaimana menurut kamu?” tanya Keanu.
Waduh, kenapa tanya saya? Nggak urusan kerjaan nggak urusan rumah tangga, kenapa harus melibatkan saya.
“Sebenarnya saya setuju dengan ucapan nyonya, tapi bapak adalah suaminya, saya hanya orang luar pak, keputusan ada di tangan bapak,” jawab Randi.
Lagi lagi Honey menatap sinis ke arah kaca spion di depan. Kata nyonya benar benar terdengar sangat tak layak ditelinganya. Dan Randi sadar akan hal itu, mata Honey seakan sedang menegurnya setiap kali ucapan nyonya ia lontarkan. Tapi apa lah daya, pak bos melarangnya memanggil mbak, ibu apalagi hanya dengan sebutan nama.
“Ya sudah kamu bisa bekerja di dapur tapi dengan satu syarat, jam kerja kalian di kurangi.” tegas Keanu. “Mulai Jam 8 sampai jam 2,” imbuhnya.
“Pak,” panggil Honey pelan.
Keanu melirik wajah Wulan.
“Katakan,” ucap Keanu singkat.
“Jangan lupa tetap rahasiakan status kita. Karena saya tidak leluasa bekerja dengan status sebagai istri bapak,” ujarnya merasa sungkan.
“Jadi kamu sadar, bagaimana istri seorang CEO berada di dapur. Karyawan akan berpikir aku terlalu jahat dan tidak bisa menafkahi istriku dengan layak. Dan apa kata orang orang, istriku mencari nafkah sendiri dengan membuat kue di perusahan milik suaminya,” ucap Keanu.
Honey terdiam, ucapan Keanu memang benar. Tapi…
Keanu menarik telapak tangan Honey dan menggenggamnya erat. Ia sadar, hubungan mereka masih dalam tahap penyesuaian. Jika ia terlalu erat mencengkram wanitanya itu, mungkin akan semakin membuat ia tidak leluasa berada di sampingnya.
__ADS_1
“Baiklah, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, tapi dengan syarat.”
Honey menatap wajah Keanu menunggu persyaratan apa yang akan di ucapkan pria itu.
“Jika terjadi sesuatu, ceritakan pada ku. Aku bisa menjadi tempat untuk mendengar keluh kesah mu. Jika kamu lelah, istirahat lah, aku tidak sedang memaksa mu untuk menghasilkan uang. Uang ku selalu lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan mu. Dan.. jangan pernah merasa sungkan terhadapku, aku adalah suami mu, sudah menjadi tugas ku untuk menjaga kamu,” ucap nya.
Syaratnya hanya itu?
Honey setuju, dengan senyuman indah nya ia mengangguk “baiklah, aku janji akan melakukan seperti yang bapak minta,” ucapnya.
Seperti irama sumbang, sebutan bapak bapak dan bapak terdengar false di telinga Keanu, entah kapan kata kata itu bisa hilang dari mulut istrinya.
Beberapa saat kemudian Mobil Keanu sudah memasuki wilayah bandara. Mobil langsung menuju anggar bandara dimana jet pribadinya terparkir. Setelah lima menit ia tiba, mobil ambulans yang membawa bu Karmila tiba di situ.
Dokter Aidil dan beberapa dokter dari rumah sakit Michigan Amerika, membawa bu Karmila ke dalam pesawat. Pesawat yang telah di rancang sedemikian rupa untuk kenyamanan pasien. Berbagai peralatan medis sudah di siapkan di dalam pesawat itu.
Honey dan Keanu mengantar sang ibunda hingga ke dalam pesawat.
“Dok, saya titip ibu saya,” ucap Honey setelah mencium punggung tangan ibunya.
“Kalian tenang saja, Saya akan mengantarnya dan terus memantau perkembangan operasi bu Karmila dengan baik.”
“Pak Keanu bisa menghubungi saya jika butuh informasi. Saya dan dokter Stuart akan mengabari kapan jadwal operasinya,” ujar dokter Aidil.
Honey dan Keanu langsung turun dari pesawat, jadwal tinggal landas pesawat tersebut tinggal beberapa menit lagi.
.
.
.
__ADS_1
To be continue ⬇️