
Didepan pintu Randi terus merasa kesal. Bagaimana tidak, ia baru tidur sekitar dua jam, baju nya asal setrika dan agak kusut, rambutnya basah tak di gel.
“Apa yang di lakukan bos di sini? Kurang kerjaan banget. Sehebat apa sih kue mereka, sampai membuat bos tidak bisa berpaling!” gerutu Randi.
“Randi!” Teriak Keanu dari dalam ruangan.
Randi berlari kecil masuk ke dalam dan berdiri dihadapan Keanu. “Iya pak,”
“Hari ini, minta design interior ke sini. Design ruangan ini agar lebih enak dan nyaman. Tambah AC satu di situ,” perintah Keanu.
“Baik pak,” sambil menunduk hormat.
Whaaaattt!!! Rencana apa ini?! Randi mendengus kesal dalam hati.
Sesaat Honey, Rian dan Raniya berdiri terpaku menatap Keanu dengan segala pertanyaan dalam benak mereka.
“Pak bos akan menjaga kita seperti ini setiap hari?” tanya Raniya dengan suara yang teramat pelan.
“Orang kaya, apa sih yang nggak buat dia,” ucap Rian.
“Ayo kerja, apa yang di lakukan pak bos bukan urusan kita,” ucap Honey sambil berbalik badan melanjutkan pekerjaannya.
“Hon, kamu sadar nggak? Mata bos ke arah kamu terus!” ucap Rian.
“Jangan halu kak, ayo kerja,” telak Honey.
Dari arah tempat pencucian piring Aluna menghampiri Honey dan Rian. “Kak, hati hati. Jangan jangan bos punya niat terselubung!” ucap Aluna.
Mereka bertiga akhirnya berjongkok di bawah meja agar tidak terlihat oleh Keanu.
“Maksud kamu apa?” tanya Rian.
“Jangan jangan Bos di sini, ingin mencuri resep rahasia kak Honey deh,” ucap Aluna lagi. Aluna si gadis kecil yang selalu punya segudang pikiran pikiran aneh dan negatif dalam benaknya.
Rita menghampiri mereka bertiga di bawah meja. “Ada apa?” tanya nya.
“Mungkin bos ingin melihat resep rahasia, makanya dia ke sini.” ujar Aluna penuh percaya diri.
“Ah, bos kan orang kaya. Kalau cuman resep aja mah dia bisa dapat dari mana aja,” protes Rita.
“Tapi kan resep kue kak Honey kesukaannya. Dia mau tuh resep kue kakak,” ujar Aluna tak mau kalah.
“Apa iya sih?” Honey mulai terprovokasi oleh ucapan Luna.
__ADS_1
“Ya bisa jadi juga, Trus ngapain dia di situ duduk menatap kamu terus?” ucap Rian.
“Kalian jangan bikin aku takut ah. Kalau dia mau resep ya ambil aja. Yang penting itu kan tangan. Beda tangan beda rasa,” celetuk honey.
“Ehem,” suara Keanu tiba tiba dari atas mereka.
“Maaf, ka kami sedang diskusi membuat kue. Bapak masih butuh kopi?” tanya Rian gugup. Mereka seprti di sergap sedang berbuat salah.
“Saya akan kembali ke ruangan saya, sudah jam sepuluh.” ucap Keanu dengan wajah datar, sambil menatap Honey.
“Silahkan pak,” jawab Honey.
Keanu langsung beranjak meninggalkan ruangan itu.
Mereka tertegun menatap punggung Keanu. Pria yang baru saja pergi itu benar adalah CEO mereka?
Dan baru saja dia sedang pamitan?!
“Bos udah pergi, dia nggak marah kita bergosip ya?” tanya Aluna.
“Sudah, ayo lanjut kerja,” ucap Marwah.
“Haha, kak Rian. Itu iler nya netes. ampe segitunya ngeliatnya kak,” ucap Aluna sambil tertawa besar.
“Kalau ganteng trus kenapa? Kamu mau di pacarin?” tanya Raniya.
“Mau mau banget kak, haha.”
“Mimpi,” Marwah langsung menyerahkan spatula ke tangan Rian. “Ini adonan kamu harus di panggang.”
“Yee, kak Marwah. Berkhayal gratis kak, nggak ada yang larang,” ucap Rian kemudian kembali ke pekerjaannya.
Satu hari berlalu. Kehadiran CEO diruangan mereka mungkin hanya kebetulan saja. Karena tim mereka baru di kantor itu, jadi mungkin saja CEO sedang memantau pekerjaan dan cara mereka bekerja.
.
.
.
Hari ini pukul delapan pagi, tim baker yang terdiri dari Marwah, Raniya, Rita, Rian, Honey dan Aluna kembali bekerja. Seperti biasa pukul delapan mereka sudah harus tiba di gendung menjulang tinggi itu. Hanya menaiki satu lantai dari lift, mereka akan tiba di lantai dua. Lantai dimana kantin dan ruang makan seluruh karyawan berada.
Raniya membuka kunci ruangan itu. Mereka bersamaan masuk ke dalam dapur. Setelah melewati satu ruangan display, mereka masuk satu pintu lagi ke tempat pengolahan.
__ADS_1
Raniya berdiri terdiam, di ikuti kelima rekan lainnya.
tentu saja mata mereka tertuju ke arah meja dan kursi di sudut ruangan itu. Kursi baru dengan meja bundar. Sebuah mesin kopi di samping ruangan dan sebuah ac baru yang menempel di dinding.
“Apa apaan ini? Kapan ini semua ada di sini?” tanya Raniya.
“Itu kan kursi buat bos. Dia yang minta kemaren di buatkan tempat yang nyaman untuk dia nongkrong,” ucap Aluna.
“I iya, tapi kirain hanya main main. Dan itu?” ucap Raniya sambil menunjuk mesin kopi mahal di atas meja lainnya di dekat situ.
“Itu agar bos makin betah,” ucap Aluna lagi.
“Orang kaya, apa pun bisa dia lakukan,” ucap Marwah skeptik.
“Orang kaya sih iya, tapi nggak banget kan nongkrong di dapur?! Nggak ada pemandangan yang lebih bagus apa?” ucap Honey.
“Haha, aku sih seneng aja, bisa kerja sekalian cuci mata,” ucap Rian.
“Kamu enak, tapi kita nggak bisa santai kerja jika ada bos dudul,” bentak Rita.
“Hmm, paling dia disini sampai jam 10 doang. Tenang aja kak Bos orang nya baik,” ucap rian sambil tersenyum senang.
“Sok tau lu ah.” sembur Rita.
Mereka pun langsung menuju ruangan loker meletakkan tas mereka kemudian memakai seragam kerja, apron dan topi. Begitu keluar dari ruangan loker Keanu baru saja masuk ke situ.
“Selamat pagi.” ucap Keanu dengan wajah berbinar dan senyum tipis di bibir nya. Tentu saja sambil menatap Honey.
“Pagi pak,” jawab mereka serempak.
“Lanjutkan saja pekerjaan kalian, saya di sini hanya menikmati kopi dan beberapa potong kue saja,” ucap Keanu santai.
Setelah Keanu duduk, Randi langsung menghampiri Keanu dengan laptop dan jas di tangannya.
“Ini pak,” ucap Randi.
.
.
.
To be Continued ⬇️
__ADS_1