
“Bu, aku datang,” ucap honey sekali lagi.
Honey melangkah maju mendekati sang ibu.
“Bu aku Honey, aku datang menjenguk ibu,” ucap Honey lagi.
Menyebut nama Honey. Wanita itu langsung menoleh kepalanya ke arah Honey.
“Honey? Kamu honey?” sebut wanita itu.
Honey mengangguk. Ia memeluk wanita itu.
“Honey datang menjenguk ibu.” ucap nya.
Sang ibu mendorong Honey menjauh dari pelukannya. “Benarkah? Benarkah kamu Honey?”
“Tentu saja aku Honey. Lihat aku membuat kue ini untuk ibu. Coba rasa, rasanya sama seperti buatan ibu kan?” Honey mengeluarkan sepotong kue dari dalam kotak yang baru saja di bawa nya kemudian menyuap sang ibu.
“Enak kan? Honey membuat seperti yang di ajarkan ibu,” ucap honey.
“Honey anak ku, kamu benar benar Honey nak. Akhir nya ibu bertemu kamu,” ucap karmila sambil menangis.
“Loh bu, dua minggu lalu kan honey ke sini. Maaf, karena honey hanya bisa datang setiap dua minggu sekali. Honey sibuk kerja. Lagian letak rumah sakit ini di pinggiran kota. Membutuhkan waktu tiga jam berkendara untuk tiba di sini,” jelas Honey.
“Nak, ibu selalu merindukan mu. Ibu kangen kamu,” ucap Karmila seperti rengekan seorang anak kecil.
“Iya bu, honey juga kangen ibu.” Honey kembali memeluk sang ibu.
“Gimana kalau sekarang ibu makan lagi kue buatan honey?” Honey membuka lebar kotak kue di hadapannya itu. “Ini ada kue sarang semut kesukaan ibu. Dan ini donat paling enak di toko kue langganan Honey.”
“Anak ibu pintar. Anak ibu sangat hebat,” ucap karmila senang.
“Nak, kapan ibu bisa pulang?” tiba tiba saja sang ibu berbicara normal seperti orang biasa.
“Ibu ingin pulang?” tanya honey.
“Iya ibu bosan di sini, kerjaan ibu setiap hari hanya menatap keluar jendela. Ibu sangat ingin membantu kamu membuat kue. Kita akan mengelola toko kue kita kembali seperti dulu.”
Honey tersenyum menatap sang ibu. “Honey janji akan membawa ibu keluar dari sini secepatnya. Honey akan bertanya kepada dokter jika ibu sudah di perbolehkan keluar dari sini.”
“Janji, kamu harus janji akan membawa ibu keluar secepatnya.” rengek sang ibu.
__ADS_1
“Iya, Honey janji. Secapatnya akan membawa ibu pulang,” ucap Honey.
“Ibu ingin jalan jalan keluar?” tanya honey.
Karmila mengangguk.
Bentar honey ijin dulu, ibu tunggu di sini.
Honey keluar dari kamar itu menuju ruangan dokter jaga. Setelah memberi penjelasan, dokter akhirnya mengijinkan honey membawa sang ibu keluar hanya sekedar menghirup udara segar.
Honey segera kembali ke kamar ibu nya sambil mendorong sebuah kursi roda.
“Ayo bu,” ajak honey. Ia meminta ibunya duduk di kursi roda.
“Kita jalan jalan di taman, udara di luar seger banget. Ibu pasti suka.”
Karmila menuruti perkataan putrinya.
Honey mulai mendorong ibunya keluar kamar menuju halaman samping rumah sakit.
“Seger kan bu? Angin beraroma lautan dan pemandangan pantai. Coba ibu lihat di sana, ada sebuah kapal kecil,” ucap Honey sambil menujuk ke arah lautan luas.
“Nak, apa kamu masih melanjutkan kuliah mu?” tanya Karmila.
“Jika ibu tidak sakit seperti ini, kamu pasti bisa melanjutkan sekolah mu setinggi mungkin,” ucap Karmila. Wajahnya menampakkan kesedihan dan penyesalan.
“Ibu nggak usah memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang ibu harus sehat dulu. Jika Honey sudah memiliki penghasilan lebih, Honey akan mengambil sekolah S2 seperti yang ibu harapkan.” ucap Honey.
“Dimana kamu bekerja sekarang?” tanya ibunya.
“Di sebuah perusahan besar bu,” jawabnya.
“Perusahan apa?” tanya ibunya lagi.
“Perusahan…” sambil berpikir sebuah nama perusahan yang bagus. “Travor Primary Corp,” ucap Honey.
“Perusahan besar bu, di bidang teknologi. Pemilik perusahan kami adalah orang terkaya di negri ini. Kantor tempat ku bekerja menjulang hingga lantai 28 bu,” ucap Honey berbohong.
“Syukurlah, kamu bisa berhasil. Ibu selalu berdoa semoga Honey putri ibu bisa menggapai cita citanya. Dan terlebih kamu bisa bahagia dimana pun kamu berada,” ujar Karmila.
Setelah sejam berbincang bincang dengan sang ibu di taman, seorang penjaga menghampiri Honey. “Mbak pasien bisa di bawa masuk, waktu nya makan siang.” ucap penjaga itu.
__ADS_1
“Baik pak,”
“Bu kita masuk ya, Honey akan suap ibu makan.”
Honey dan ibu nya kembali ke kamar. Di atas meja sudah tersedia makan untuk pasien.
“Makanan ibu sudah ada, sekarang Honey suap ibu ya?” ucap Honey sambil menyiapkan makanan yang ada di atas meja.
“Ibu masih ingin makan kue buatan kamu nak. Bisa kan?”
“Bisa saja, ibu mau makan yang mana?” ucap Honey lembut sambil membuka kotak kue yang di bawanya.
“Yang warna coklat itu apa?”
“Oh ini adalah kue buatan Honey yang paling enak.”
“Nama nya?” tanya Karmila.
“Salted Caramel Pie,” jawab Honey.
Karmila terdiam, matanya terbelalak rona ketakutan dan kemarahan tiba tiba muncul. Karmila mulai berteriak histeris.
“Pergi, pergi. buang kue kue itu. Buang semua nya. Aku tidak suka, buang kue itu,” teriak Karmila.
Tak puas dengan teriakan. Karmila berdiri menghampiri meja. Ia melempar semua kue yang di bawa Honey ke arah pintu. Bahkan makan di atas meja ikut berhamburan ke atas lantai.
Karmila mengamuk sejadi jadi nya. Honey tak bisa mengendalikan emosi sang ibu. Dia bahkan kena lemparan piring dari sang ibu.
“Bu, tenang bu. Baik lah, Honey akan buang semua kue kue itu. Tapi ibu tenang dulu.”
Sebuah pukulan beruntun tiba tiba mendarat di wajah Honey.
“Pergi kamu, pergi dari sini. Dan bawa semua kue buatan kamu itu. Pergiiiiiii,” teriak Karmila histeris.
Dua orang penjaga serta seorang dokter langsung masuk ke kamar itu. Dua orang penjaga langsung menawan Karmila di atas tempat tidur, mengikat lengan dan kakinya. Sementara dokter langsung memberikan suntikan penenang.
Honey tersungkur duduk di samping ranjang, air mata menetes dari kedua pipinya. Namun tak ada suara tangisan. Ia menagis dalam diam. Seluruh badanya terasa nyeri. Wajahnya terasa kaku. Dan hatinya begitu perih menyayat masuk ke dalam batinnya.
.
.
__ADS_1
.
To be continued ⬇️