
Honey kembali memasuki ruangan IGD. Ia meninggalkan bos nya itu di luar, ia memasuki ruangan dimana ibunya di rawat.
Saat itu dua orang perawat sedang membantu bu Karmila mengenakan piyama rumah sakit dan akan segera di bawa ke ruangan ICU.
“Ibu akan di bawa ke ruangan ICU. Apa keluarga sudah melakukan pendaftaran? Jika belum, bisa segera mendaftar kan nama pasien di ruangan adminstrasi,” jelas seorang perawat itu.
“Baik sus,” Honey keluar dari ruangan IGD menuju sebuah ruangan adminstrasi.
Melihat Honey menuju sebuah ruangan lain, Keanu langsung mengikuti nya dari belakang.
Setelah memberikan nama dan keterangan di ruangan adminstrasi, Honey di minta mendeposit kan sejumlah uang dan kartu jaminan kesehatan jika sang ibu memiliki.
“Berapa harus saya deposit?” tanya Honey.
“Terserah mbak, 5 juta, 10 juta atau lebih boleh,” ucap karyawan rumah sakit itu.
“100, 200, 300…” Honey menghitung uang dalam tas nya.
Uang itu adalah uang yang di dapatnya dari hasil ia bekerja lembur selama beberapa hari.
“Tiga juta delapan ratus ribu boleh?” tanya nya sambil mengumpulkan uang yang sudah di hitung nya menjadi satu.
“Boleh,” ucap karayawan wanita itu ramah.
Tiba tiba Keanu sudah berdiri di belakang Honey. Ia menyerahkan sebuah platinum unlimited card pada karyawan wanita itu.
“Gunakan punya saya,” ucap nya samar dari balik masker.
“Pak?” Mata Honey membesar menatap Keanu, seakan sedang protes dengan apa yang di lakukannya saat itu.
Honey mengambil cepat kartu yang di letakkan Keanu di depan karyawan itu kemudian menarik Keanu menjauh dari loket itu.
“Apa yang bapak lakukan? Ini kartu bapak,” ucap Honey.
“Loh kenapa?” tanya Keanu.
“Saya nggak ingin punya hutang dengan siapapun, lagian bapak bukan siapa siapa saya, kenapa semudah itu mengeluarkan uang untuk saya?” tukas Honey.
“Saya melakukan ini karena kamu adalah karyawan saya, saya ingin membantu meringankan beban karyawan saya. Dan ini nggak gratis, saya akan langsung potong ke gaji kamu,” ucap Keanu.
Honey menatap Keanu penuh selidik. “Benarkah?” tanya nya kemudian di balas anggukan oleh Keanu.
Keanu kembali berjalan mendekati loket rumah sakit itu. “Ini saya deposit 50 juta,” ucap Keanu sambil menyerahkan kembali platinum cardnya kepada karyawan itu.
“50 juta? Itu gaji saya hingga sepuluh bulan ke depan!” gumam Honey.
__ADS_1
Ia tak bisa lagi menolak, malah lebih merasa beruntung karena ia memliki seorang bos sebaik Keanu.
“Sekarang kamu nggak usah memikirkan biaya pengobatan ibu kamu. Kamu cukup fokus pada kesembuhan ibu kamu, jika kamu butuh sesuatu kamu bisa bilang ke saya,” ujar Keanu.
“Makasih pak, Honey jadi nggak enak. Bapak baik banget. Semoga pahala yang bapak terima berlipat ganda, Aamiin,” ucap Honey.
Ia berjalan kembali menuju ke loket pembayaran.
Saya nggak butuh pahala, saya butuh kamu. Gimana caranya nembak kamu? Aku ngasi uang aja di tolak, gimana kalau aku ngasi cinta. Di tolak juga nggak? batin Keanu.
Keanu terus menunggu di belakang Honey. Setelah selesai di bagian administrasi mereka langsung menuju ruangan ICU.
Di pepetin terus oleh bos nya itu tentu membuat Honey sedikit risih, gimana pun juga ia nggak bisa meninggalkan bos nya itu sendirian di luar. Ia ingin melakukan sesuatu jadi tidak leluasa jika bos nya itu terus ada di sisinya.
Setelah berada di ruang tunggu ICU, seorang perawat menghampiri Honey.
“Keluarga nya bu Karmila?” tanya perawat itu.
“Saya,” ucap Honey.
“Di panggil oleh kepala ruangan di dalam,” ucap perawat itu.
“Baik lah saya akan segera masuk,” ucap Honey.
“Kamu masih akan ke kantor?” Keanu menatap jam pada pergelangan tangannya. “Selesai dari sini, kamu bisa langsung pulang istirahat. Aku kasi kamu cuti beberapa hari untuk menemani ibu mu,” ujar Keanu.
“Benarkah?” ucap Honey senang. “Makasih pak!”
Keanu mengangguk “masuk lah, dokter di dalam sedang mencari kamu,” ucap Keanu.
“iya.”
Honey berjalan menuju pintu masuk ICU. Sebelum masuk ia melambai ke arah Keanu sambil tersenyum manis, kemudian masuk ke dalam tuangan itu.
Di dalam ICU, Honey berbincang banyak hal dengan dokter kepala ruangan dan Rasya. Mereka membahas soal penyakit ibunya, mereka juga membicarakan soal biaya pengobatan, serta kemungkinan sembuh ibunya jika melakukan operasi. Tak ada yang di tutup tutupi dari Honey, mengingat kondisi kesehatan ibunya yang sedang kritis. Honey harus siap menerima segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi dengan ibunya.
Setelah berbincang cukup lama, ia menghampir sang ibu yang tengah terbaring di atas ranjang. Di sekeliling ranjang di penuhi berbagai alat medis serta suara denting dari layar monitor terus berbunyi.
“Bu, ibu harus kuat. Jangan lemah, jangan tinggalkan Honey, ibu harus lawan penyakit ibu agar sembuh,” ucap nya sembari memeluk tubuh ibunya.
Air mata berderai dari kedua matanya.
“Sebenarnya, aku sangat ingin selalu memeluk ibu seperti ini. Sebagai Caramel, bukan sebagai Honey. Aku ingin ibu mencintaiku sama besarnya seperti ibu mencintai kak Honey. Bu ini aku bu, ini aku anak ibu, aku Caramel. Aku anak ibu juga,” ucap nya sambil terus menangis di atas tubuh lemah sang ibu.
Dari belakang Rasya terus memperhatikan Honey, ia ikut berlinangan air mata mendengar ucapan Honey. Sedikit banyak ia sudah tau bahwa Honey adalah Caramel. Tante Yunita sudah menceritakan seluk beluk kehidupan honey. Ia adalah anak terbuang yang selalu mendamba kasih sayang seorang ibu, meski ia harus menjadi diri orang lain ia sangat mengasihi ibunya.
__ADS_1
“Dok, pengunjung nggak boleh terlalu lama di dalam ruangan ini, atau akan mengganggu pasien pasien yang lain,” tegur kepala ruangan pelan.
“Dokter Arman, beri dia waktu sedikit lagi,” ucap Rasya. Rasya hanya ingin agar rasa kangen Honey terhadap ibunya sedikit berkurang.
Hingga setengah jam kemudian. “Honey, sudah cukup. Kita harus keluar sekarang, pasien pasien di sini butuh istirahat lebih. Pengunjung atau penjaga hanya bisa menunggu di luar,” ucap Rasya lembut.
Honey mengangkat kepalanya, “baik dok, honey akan keluar sekarang,”
Honey kembali menempel kan bibirnya di telinga sang ibu, “Honey menunggu di luar ya bu, ibu nggak usah takut, honey akan selalu menjaga ibu,” bisiknya.
Honey dan Rasya keluar bersamaan dari pintu ruangan ICU. Di sebuah kursi ruang tunggu, Keanu masih setia menunggu Honey, kali ini ia tak sendiri. Randi sedang tertidur bersandar pada sandaran kursi persis di samping Keanu.
“Bapak belum pulang?” tanya Honey kaget.
“Belum, saya hanya ingin memastikan kamu sudah makan malam dengan benar baru saya akan pergi,” jawab Keanu.
Honey menatap beberapa bungkus makanan yang di maksud Keanu.
“Honey, kalau butuh sesuatu cari saya di ruangan saya. Jika kamu ingin istirahat malam ini kamu bisa pakai ruangan saya,” ucap Rasya.
Keanu menatapnya sinis ke arah Rasya. Kenapa harus menawarkan ruangannya? Ia tidak akan membiarkan Honey berduaan semalaman bersama pria lajang! “Dasar mesum!” gumam Keanu pelan.
“Nggak apa dok, malam ini Honey bisa gabung tidur bersama penjaga lainnya di situ,” Honey menunjuk beberapa orang yang sedang menggerai tikar di luar ruangan.
“Hhhh,” tawa Keanu sinis. Tawa nya lebih seperti ejekan atas penolakan yang diterima Rasya.
“Ya sudah, saya akan bawakan kamu bantal dan alas untuk kamu tidur malam ini,” ucap Rasya.
“Terimakasih dok,” jawab Honey.
Rasya langsung berlalu dari hadapan Honey.
“Kalau kamu mau, saya akan meminta Randi membelikan kamu bantal dan kasur yang empuk. Tidur di lantai pasti akan membuat kamu masuk angin,” ucap Keanu.
“Jangan pak, jika bapak terus perlakukan Honey dengan baik, hutang Honey akan semakin menumpuk. Dengan apa Honey bisa membayar hutang sebanyak itu?” tolak Honey.
Keanu tau persis sifat Honey. Ia pasti tidak ingin menerima kebaikan orang begitu saja. Jika ia menerima, maka ia akan berusaha membayar apa yang sudah di berikan orang itu.
.
.
.
To be continue ⬇️
__ADS_1