
Mendekati pukul sembilan malam, Rian terlihat semakin gelisah. Ia sudah terlambat setengah jam dari janji temunya bersama teman seangkatan SMA nya. Beberapa kali ia melihat ponselnya, duduk nya tak tenang dan gelisah.
Rian ingin pamit dari situ, tapi Honey? Nggak mungkin ia meninggalkan Honey dengan sang bos sendirian.
Saat suasana ruangan kaku dan senyap, Honey akhirnya angkat bicara.
“Kak Yan, kok kayak gelisah gitu?” tanya Honey, saat itu Rian berulang ulang membolak balik kan ponselnya di atas meja.
Rian menatap ke arah Keanu. Apa kah CEO nya itu akan marah? Ah sebaiknya ngomong jujur, pertemuan tahunan angkatannya hanya di adakan sekali dalam setahun. Dan semoga Honey nggak minta ikut pergi dari sini.
“Hon, kakak ada pertemuan dengan teman teman sekelas kakak. Acara tahunan, kakak sudah janji akan hadir di sana setengah sembilan dan sekarang.” Lagi lagi Rian menatap jam digital yang tertera pada ponselnya.
Rian kemudian berbisik di telinga Honey. “Kamu tunggu disini temani bos, dia sudah pesan makanan nggak enak jika di tinggal. Please,” ucap Rian memohon.
“Pak, Saya ada pertemuan penting. Maaf saya tinggal dulu, Honey akan temani bapak makan,” ucap Rian.
“Ya Silahkan,” sahut Keanu.
Asalkan Honey tetap tinggal, tentu Rian bisa pergi dari situ. Yang di butuhkan Keanu bukan Rian tapi Honey.
“Terimakasih pak, saya akan kembali secepatnya,” dengan riang gembira Ia langsung menarik tas selempangnya yang tergantung pada sandaran kursi kemudian berlalu dari ruangan itu.
Sepeninggal Rian, ruangan kembali menjadi kaku. Untuk mengusir ketegangan, Keanu mengambil alih pembicaraan.
“Jika kamu butuh pekerjaan, saya bisa membantu kamu,” ucap Keanu.
“Maksud bapak?” tanya Honey, ia menunduk tak berani menatap wajah bos besarnya itu.
“Saya akan carikan sebuah pekerjaan yang cocok untuk mu,” jelas Keanu.
“Benarkah?” matanya menatap Keanu. “Terimakasih pak,” ucap Honey dengan ramah. Senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya.
“Ya, saya masih mencari sesuatu yang cocok. Bukan kah kamu butuh kerja part time di malam hari?” tanya Keanu.
“Iya pak, saya butuh. Apa saja yang penting tidak mengganggu jam kerja siang saya,” ujar Honey.
Keanu mengangguk.
“Oh ya kamu kan S1 IT? Jurusan apa?” Keanu berusaha mencairkan suasan di situ.
“Ilmu komputer pak,” jawab Honey ragu.
Honey terdiam. S1 IT, tapi ia tak tahu apa pun soal komputer.
Bagaimana ini? Jika bos tau aku bukan Honey!
__ADS_1
“Kalau begitu, kamu bisa bekerja di anak cabang perusahan Travorplay, mereka pasti sedang butuh bagian grafis. Jam kerja mereka disana tak menentu, kamu bisa datang bekerja saat malam hari.” ujar Keanu.
Honey terdiam. Apa yang harus ia katakan? ia sama sekali bukan lulusan IT. Ia tak tahu menahu apa pun soal IT. Dengan diam seperti saat ini, artinya ia telah setuju.
“Saat senggang saya akan bawa kamu ke sana,” lanjut Keanu.
Honey menunduk seolah sedang berterimakasih, namun pikirannya sedang berpikir keras. Jika ia kerja di sana, maka tamat lah semua usahanya. Status nama Honey dan gelar yang di sandangnya saat ini akan terbongkar semua. Ujung ujung Ia bakal kehilangan pekerjaan.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan wanita masuk ke ruangan itu. Ia membawa semua pesanan yang di pesan Keanu. Dan semua makanan itu kini telah terhidang rapih di atas meja.
Tak banyak kata yang di ucapkan Honey, ia hanya menatap makanan berupa mie yang di hias cantik. Serta potongan daging yang tersaji di atas hot plate. Uap panas dari makanan di hadapannya menyeruak, lesat dan hmmm… Honey semakin kelaparan.
Keanu mendorong steak pasta ke hadapan Honey.
“Kamu makan dulu, pekerjaan paruh waktu mu akan kita bicarakan lagi.” ujar Keanu.
“Baik pak,”
Setelah menggenggam sendok dan garpu, Honey masih menatap mie di hadapannya. Mi mulai di tusuk dengan kemudian di masukkan ke dalam mulut.
Hambar, bener bener ga ada rasa. Tampilannya lumayan, tapi rasanya ngga ada sama sekali. batin Honey.
Honey agak kecewa, aroma makanan yang tercium lesat itu ternyata tidak lebih enak dari mi instan goreng seharga tiga ribu yang biasa di makannya.
“Ayo di makan,” ucap Keanu.
“Terimakasih pak.”
Setelah suapan pertama.
Ya ampunnn, rasa nya lesat banget. Di campur seperti ini, baru berasa bumbunya. Dan hmmm.. manis, gurih dan kenyal, rasanya sangat sempurna.
“Enak kan?” tanya Keanu begitu melihat reaksi Honey.
“Enak pak,” jawab nya.
Honey melanjutkan makannya dengan lahap sambil menatap Keanu.
Bos nya itu ternyata orang baik. Tidak seperti ucapan para karyawan lain, mereka sering bergunjing kalau CEO mereka itu seorang yang sombong, keras dan galak. Bahkan dia di juluki The Terminator saat saat sedang dead line. Nyata nya, dia baik, lembut dan… wajahnya sangat tampan. Rian sangat beruntung bisa memilikinya!
“Makan lah, malah melongo,” ucap Keanu yang sudah terlebih dahulu menghabiskan porsi di piringnya.
Honey melanjutkan makannya. Dalam beberapa suapan, isi makanan di atas piringnya ludes.
Keanu langsung menatap jam di tangannya, “Sudah jam sepuluh, saya akan mengantar kamu.”
__ADS_1
“Jangan pak, Honey bisa pulang sendiri. Terlalu merepotkan bapak. Bisa di traktir makan, Honey sudah Terimakasih, kalau di antar pulang Honey malah jadi nggak enak,” tolak Honey.
“Nggak apa, kita searah.” Sambil membuka buka ponselnya, keanu kemudian bangkit dari duduk nya.
“Ayo,” ajak nya.
Keanu berjalan keluar, di iringi Honey berjalan di samping Keanu. Seorang pria berjas hitam langsung mengamhampiri mereka.
“Terimakasih kunjungannya pak,” ucap pria itu sambil membungkuk.
Honey berjalan mengikut di belakang keanu. Matanya terus tertuju pada pria berjas yang tengah berdiri dan membukakan mereka pintu, pria itu masih menunduk hingga mereka berada di teras rumah makan.
“Duk.” Tanpa sadar Honey telah menabrak punggung belakang Keanu.
“Oopss. Ma maaf pak,” ia menoleh menatap keanu yang kini tengah berdiri menatapnya.
Keanu tersenyum, ia ingin mengusap dahi wanita di hadapannya. Namun niat nya di urungkan, jika terlalu frontal ia takut Honey malah akan menjauhinya.
“Pak, bapak belum bayar,” ucap Honey lagi.
Lagi lagi keanu tersenyum. “Sudah di transfer. Kamu pikir mereka akan membiarkan kita keluar jika tak membayar makanan senilai jutaan itu?” ujar Keanu.
“Ooooooo,” ucapnya panjang hingga bibirnya mengerucut.
Pantesan enak, harganya jutaan. Neyesal nggak di bungkus. Padahal porsi makan milik Rian hanya tergelatak begitu saja di atas meja.
“Ayok,” ajak Keanu.
“Pak, Honey bisa pulang sendiri. Honey bener nggak enak masih harus merepotkan bapak,” tolak Honey.
“Jika jadi apa apa dengan karyawan saya setelah menemani saya makan malam, bukan kah saya sebagai atasan akan di salahkan?” Keanu sudah menarik lengan Honey menuju mobilnya.
Keanu membuka pintu samping kiri mobil kemudian mempersilahkan Honey masuk ke dalamnya.
Senyuman manis tersungging dari bibirnya. Betapa tidak, gadis yang sedang di incarnya kini berada dalam mobil nya.
Dalam perjalan pulang, mereka menjadi semakin akrab. Honey menceritakan beberapa pengalamannya saat di dapur. Keanu begitu antusias mendengar cerita Honey. Honey di buat senyaman mungkin saat bertukar pikiran dan berbagi cerita dengan atasan perfeksionisnya itu.
.
.
.
To be continued ⬇️
__ADS_1