Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
028-Dokter Yunita


__ADS_3

Seperti biasa, sekali dalam setiap dua minggu Honey akan pergi menemui ibunda nya di rumah sakit. Minggu pagi saat sedang libur Honey berkendara selama tiga jam menuju arah utara pinggiran kota.


Setiba di rumah sakit ia langsung menuju ruangan dokter Yunita yang sehari sebelumnya meminta Honey agar menemui sang dokter terlebih dahulu.


“Tok tok tok,” Honey mengetok pintu.


“Masuk,” sahut dokter Yunita dari dalam ruangan.


“Pagi dok,” sapa Honey.


“Ah Honey, ayo masuk sayang.” Dokter Yunita beranjak dari meja kerja nya menuju sofa empuk agar bisa lebih leluasa berbincang dengan Honey.


Honey pun duduk persis di samping dokter Yunita.


“Dok, Honey bawakan cheese cake buatan Honey,” ucap nya seraya menyodorkan satu kotak ke arah dokter Yunita.


“Duh makasih sayang, cheese cake Honey is the best, nggak bisa di ragukan soal rasa,” ucap dokter.


“Oh ya, gimana kabar kamu,” lanjut dokter Yunita.


“Baik dok, sehat,” jawab Honey.


“Hmm, Alhamdulillah kalau begitu,” ujar dokter.


Wajah dokter Yunita mulai menampakkan keraguan, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Ada apa dokter meminta Honey ketemu dokter duluan?” tanya Honey.


“Hmmm, itu dia.” ucap dokter Yunita terhenti. Ia berbalik badan menuju dispenser mengambil segelas air putih untuk Honey.


“Ini mengenai ibu kamu,” lanjut dokter dengan suara lembut.

__ADS_1


“Kenapa dengan ibu dok?”


“Dua minggu terakhir, tidak sudah sebulan terakhir ibu mu sering mengeluh sakit kepala. Awalnya hanya sakit kepala biasa, setelah di beri pereda nyeri sakit kepala ibu mu langsung membaik. Namun dua minggu terakhir, sakit kepala ibu mu tak bisa di anggap remeh lagi, sakitnya semakin menjadi dan tak cukup hanya di beri pereda nyeri biasa. Tiga hari lalu ibu pingsan karena sakit kepala nya itu. Hm karena fasilitas rumah sakit kami tidak memadai jadi saya berencana akan membawa ibu mu ke rumah sakit di kota untuk melakukan pemeriksaan lanjutan,” ujar dokter Yunita yang sekaligus adalah kepala rumah sakit khusus kejiwaan itu.


“Kapan dokter akan membawa ibu?” tanya Honey.


“Secepatnya, saya perhatikan kondisi ibu mu semakin lemah. Jika tidak di tindak lanjuti dengan cepat, takutnya akan semakin parah,” tukas dokter Yunita.


“Hari ini?” tanya Honey.


“Hari ini nggak sempat. Besok pagi saja, sempat kan waktu kamu besok,” ucap dokter.


Suasana tenang sejenak. Honey tengah memikirkan pengobatan sang ibu yang tentunya akan merogoh dana yang lumayan besar.


“Dok, bagaimana dengan biayanya?”


“Soal itu kita pikirkan nanti, sementara kita pakai uang yang kamu berikan sebelumnya aja. Soal ambulance menuju ke sana biar saya yang tanggung,” ucap dokter Yunita.


“Sudah berapa kali saya katakan, kamu jangan terlalu memikirkan soal biaya. Sebisa mungkin saya akan atasi soal biaya fasilitas rumah sakit ini. Kamu lupa? Saya kepala rumah sakit ini,” bisik dokter Yunita.


Dokter Yunita baik sekali. Jika di hitung hitung, gajiku tidak pernah cukup untuk membiayai pengobatan ibu. Dia selalu menanggulangi setiap kali uang honey nggak cukup. Bahkan gajiku yang sekarang tak cukup untuk membayar biaya pengobatan ibu. Biaya kamar, biaya perawatan, biaya obat dan keperluan ibu yang lain.


“Sekali lagi Terimakasih dok,” ucap honey tulus.


“Iya,” sahut dokter Yunita sambil mengusap kepala Honey. “Kamu ingin menemui ibu mu sekarang?” tanya dokter Yunita.


“Iya dok.”


“Ayo kita sama sama ke sana,” Dokter Yunita berjalan beriringan di samping Honey keluar sari ruangannya.


Di depan pintu kamar pasien, dokter Yunita berhenti sejenak.

__ADS_1


“Kondisi ibu mu sangat lemah, wajar jika dia tidur seperti itu. Dan jika dia bangun, jangan berbicara sesuatu yang mengingatkannya soal almarhum ayah atau pun menyinggung soal Caramel. Mood nya harus terus terjaga,” ujar dokter Yunita.


“Baik dok, Honey mengerti.”


Aku bahkan tidak bisa menyebut nama ku sendiri di hadapan ibu. batin Honey.


“Ya sudah ayok masuk,” ajak dokter Yunita.


Memasuki kamar, Karmila tampak terkulai lemah. Suara gagang pintu membuatnya terjaga. Ia membuka matanya menatap Honey, kemudian berpaling menatap dinding kamar. Honey tak berani mengucapkan sepatah katapun, ia takut malah akan melukai ibu nya.


“Bu, putri mu Honey datang mengunjungi mu,” ujar dokter Yunita.


Mendengar nama Honey, ibu nya langsung mencari keberadaan Honey. Honey mendekati sang ibu dan memberikannya pelukan hangat.


“Honey, akhir nya kamu datang nak. Ibu merindukan mu. Ibu selalu memikirkan mu nak. Ayo bawa ibu pergi dari sini, agar ibu bisa menjaga mu.” ucap Karmila.


“Iya bu, kita akan pergi dari sini secepatnya, tapi ibu harus sehat dulu. Ibu harus makan teratur dan rutin meminum obat,” Ujar Honey.


“Ibu akan membuatkan omelet telur kesukaan mu nak, kamu suka makan omelet bersama roti lapis. Ibu akan menyetrika baju mu sebelum ke skolah, dan menemani kamu belajar,” ujar ibu nya.


Ya itu memang makanan kesukaan kakak. Dan hal itu yang biasa ibu lakukan bersama kak Honey.


Makanan kesukaanku? Aku bahkan tidak berani memikirkan sesuatu yang aku suka. Aku harus menyukai apa yang kak Honey suka.


.


.


.


To be continued ⬇️

__ADS_1


__ADS_2