Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
040-Panik


__ADS_3

Malam itu setelah pulang dari bekerja honey langsung mencuci baju dan celana yang di kenakannya hari itu. Ia menggunakan sabun sachet yang dibelinya saat perjalanan pulang dari tempatnya bekerja. Kemudian dengan sisa air seadanya, Honey kemudian membilas tubuhnya asal. Ia tak menggunakan sabun dan shampo berlebih agar tak membutuhkan banyak air untuk membilas tubuhnya itu.


Honey mandi sambil memasang telinga ke luar kamar, ia takut jika saja ponsel nya berdering saat itu. Karna saat itu Ia sedang menunggu telpon dari pak Keanu.


Sudah beberapa malam terakhir, Honey bekerja sambilan di kantor Travorplay. Tugasnya tidak berat, hanya menyusun kembali data di ruangan data dan menyusun map serta merapihkan berkas ke tempat yang sudah di sediakan. Gambar dan laporan pekerjaan di pisah dan di susun sesuai warna dan tanggal. Pekerjaannya sesimpel itu, namun Honey mendapat gaji lembur sesuai dengan undang undang ketenaga kerjaan. Ia di bayar per jam hingga kelipatannya. Semakin larut ia bekerja semakin mahal gaji yang di terimanya.


Saat keluar dari kamar mandi, ponsel Honey tiba tiba berdering. Belum sempat ia membersihkan butir butir air yang masih melekat di tubuhnya, ia sudah berlari menuju ponsel hitam usang yang sedang mengisi Batrai di atas meja.


Dokter Yunita.


“Ya halo dok?” sapa Honey.


“Honey, saya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Pelita harapan. Ibu mu pingsan, di sertai kejang kejang. Kamu bisa langusng ke sana sekarang. Satu jam dari sekarang kami tiba di sana. Dokter Rasya sudah menunggu di IGD,” ucap dokter Yunita.


Tanpa banyak bertanya Honey langsung menarik baju dari dalam lemari kecil di sudut ruangan kamarnya. Dalam sekejap baju itu berhasil lolos masuk di tubuh Honey. Namun baju di badannya menjadi sedikit basah, karena rambut nya masih belum di keringkan dengan handuk.


Honey langsung menuju rumah sakit Pelita harapan.


Waktu hampir menunjukkan pukul sembilan malam, bus yang di tumpangi Honey terus berjalan menebus keramaian kota. Kemudian suara ponsel dalam tas nya berdering kembali.


“Halo,” suara Keanu si penelpon.


“Pak maaf, malam ini saya belum bisa masuk kerja. Saya minta maaf pak,” suara Honey terdengar panik.


“Kamu dimana?” tanya Keanu. Suara bising kendaraan terdengar dari ponselnya.


“Sekarang Honey dalam perjalanan menuju rumah sakit, ibu di rujuk ke rumah sakit,” ucap Honey seraya menahan rasa takut dan khawatir akan keadaan ibunya.


“Kamu tunggu di sana, saya akan langsung ke sana,” ucap Keanu.


“Ta tapi pak..,”


“Tut tut tut,” panggilan telpn sudah berakhir.


Mobil bus terus meluncur menuju rumah sakit, kemudian stop di halte bus terdekat dari rumah sakit itu.


Honey langsung berlari kecil masuk ke pintu masuk khusus pejalan kaki, kemudian tiba di pintu timur rumah sakit. Sebuah tulisan neon besar IGD terpampang di dinding bangunan itu.


Honey berlari memasuki ruangan yang super luas itu, beberapa dokter terlihat lalu lalang dengan cepat seperti sedang terburu buru mengerjakan sesuatu. Beberapa orang lainnya berdiri mondar mandir mencari kerabat atau keluarga mereka yang sedang di rawat di ruangan itu.


Seperti Honey, saat itu ia sedang mencari dokter Rasya. Setelah mencari ke beberapa ruangan dan bangsal, akhirnya ia mendapati dokter Rasya sedang berbincang dengan seorang dokter lainnya.


“Dok,” panggil Honey dengan suara agak tersengal.


“Honey??” ucap dokter Rasya begitu melihat Honey.


“Permisi dok saya tinggal sebentar.” Pamit Rasya pada dokter senior itu.


“Begitu di telpon dokter Yunita, saya langsung ke sini,” ucap Honey.


Rasya melirik jam besar pada dinding ruangan itu.

__ADS_1


“Lima belas menit lagi mereka tiba. Saya sudah menyiapkan bangsal untuk ibu mu?” ucap dokter Rasya.


“Oh ya, dokter Aidil seorang ahli saraf juga sedang menuju ke sini,” ucap dokter Rasya.


“Terimakasih dok,”


“Kamu sudah makan?” tanya Rasya.


“Sudah,” pikiran Honey tidak fokus. Ia tetlihat makin khawatir. Sambil memainkan kuku di jarinya ia terlihat sangat khawatir.


“Ayo, kita beli minum, ada mesin minuman dekat pintu masuk,” ucap dokter Rasya berusaha membuat hati Honey tenang.


“Nggak usah dok, biar Honey menunggu ibu disini,” tolaknya.


Selang sepuluh menit suara ambulance dengan cepat memasuki rumah sakit. Ambulance itu berhenti tepat di depan ruang IGD. Dokter Rasya langsung bergegas keluar menyambut pasien dalam ambulance itu di ikuti beberapa orang dokter dan perawat yang sedang mendorong ranjang.


“Itu pasti ibu, bagaimana ini. Ibu baik saja kan?” gumam Honey.


Honey berdiri menatap pasien yang sedang di keluarkan dari dalam ambulance. Kaki nya mulai lunglai, bukan panik lagi yang di rasakannya melainkan takut. Ia sudah hampir tak sanggup berdiri di ruangan itu.


“Ibu,” tangis honey pecah namun ia tak berani mendekat.


Petugas medis itu mulai mendorong ibunya masuk ke dalam ruangan. Sebuah selang oksigen dan berbagai alat medis telah terpasang di tubuh ibunya.


Di sebuah ruangan ibunya sedang di tindak lanjuti, monitor dan berbagai macam mesin telah terpasang di tubuh pasien. Dokter dokter itu bergerak cepat memberikan pertolongan, termasuk dokter Rasya, di balik seragam putihnya ia sedang menyuntik sesuatu ke dalam selang infus ibunya.


Honey tak bisa mendekat melihat ibunya terkulai tak berdaya, dari kejauhan ia hanya bisa menangis tersedu menyaksikan keadaan ibunya. Saat kaki nya tak kuat menopang tubuhnya tiba tiba sebuah tangan memegang jemarinya dari arah belakang.


Tangis honey semakin menjadi, berada dalam pelukan Keanu membuatnya semakin ingin menangis. Yang di butuhkan nya saat itu hanyalah sebuah pundak, pundak yang kokoh yang bisa di jadikannya tempat untuk menopang tubuhnya yang rapuh.


“Semua akan baik baik saja,” bisik Keanu sambil mengecup pucuk kepala Honey.


Honey membenamkan wajahnya di dada bidang keanu, nyaman dan sangat aman berada di sana, gejolak dalam batinnya berangsur berkurang. Selang lima menit Honey melepaskan diri dari pelukan pria itu.


“Kenapa bapak ada disini?” tanya nya.


Keanu merogoh sapu tangan dari dalam saku celananya. Ia menyeka sisa sisa air mata dari wajah Honey.


“Bukankah di telpon sudah aku katakan? Kamu tunggu aku, Aku akan langsung ke sini. Dan aku sedang menepati janjiku itu,” ucap keanu dengan senyuman yang terhalang oleh masker yang menutupi sebagian wajahnya.


“Kita lihat kondisi ibu kamu?” tanya Keanu lagi.


Honey menggeleng. “Aku nggak berani,” ucapnya sambil memainkan kuku di kedua tangannya.


“Ya sudah, kita tunggu di sini,” ucap Keanu.


Ruangan ibunya di rawat sudah tidak tegang sebelumnya. Seorang perawat menarik tirai putih pembatas. Seorang dokter pria berambut putih baru saja tiba di situ. Setelah memeriksa keadaan Karmila ibunya, dokter itu langsung mencari Honey.


Rasya berjalan beriringan dengan dokter pria itu menghampiri Honey.


“Keluarga pasien?” tanya dokter itu.

__ADS_1


“Saya dok?” Sahut Honey.


Di saat itu dokter Yunita juga tiba di situ.


“Tumor di kepala ibu kamu terus menggerogoti kesehatan ibu kamu. Kesehatan mental yang tidak stabil serta fisik nya yang lemah membuat kami dan juga anda harus mengambil tindakan cepat,” ujar dokter itu.


Setiap orang terdiam, mereka menunggu ucapan dari dokter Aidil dokter specialis saraf yang sudah hampir dua minggu terakhir mempelajari kasus tumor di batang otak Karmila.


“Pilihan satu satunya adalah operasi.”


Dokter aidil terdiam sejenak. “Operasi pun butuh perencanaan yang matang. Sekarang kita stabilkan dulu kondisi fisiknya. Rencana operasi kapan dan dimana akan kita bahas besok atau lusa setelah kondisinya pulih,” jelas dokter Aidil.


Dokter aidil berdiri menatap dokter Yunita, Rasya dan Keanu. “Kalian juga keluarga pasien?” tanya nya.


“Saya dokter Yunita yang merawat ibunya selama lima tahun terakhir,” jelas dokter Yunita.


“Kamu Yunita dari RS Maranatha kan?” tanya dokter Aidil baru sadar jika dokter Yunita adalah seorang bekas muridnya saat belajar di universitas kedokteran. Dokter Yunita lumayan terkenal dan paling handal dalam bidang nya.


Dia kemudian menatap Rasya. “Siap kan ruangan ICU. Sejam dari sekarang pasien sudah bisa di bawa ke sana. Di IGD ia tak bisa istirahat,” lanjut dokter aidil.


“Baik dok” ucap dokter Rasya.


Sepeninggal dokter Aidil, dokter Yunita langsung menghampiri Honey.


“Kamu yang sabar ya sayang, kita akan melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit ibu kamu. Jika kamu butuh sesuatu apa pun itu, langsung katakan kepada saya atau Rasya, jangan sungkan. Di rumah sakit Maranatha sekarang sedang berusaha melakukan penggalangan dana untuk kesembuhan penyakit ibu kamu. Jadi kamu nggak usah khawatir, kamu nggak sendirian,” ucap dokter Yunita.


“Terimaksih dok,” sahut Honey.


“Saya harus kembali ke rumah sakit sekarang. Barusan ada pasien baru masuk, kasus komplikasi. Setiap beberapa jam harus di injek. Saya harus awasi langsung jadi saya tidak bisa berlama lama di sini,” pamit dokter Yunita.


“Baik dok, Terimakasih.” Ucap Honey lagi.


“Rasya, tante titip honey sama kamu, selama ibu nya di sini dia adalah tanggung jawab kamu,” pesan dokter Yunita pada Rasya.


“Tidak perlu, ada saya di sini yang akan menjaganya,” sahut Keanu tiba tiba dengan suara datar.


Dokter Yunita langsung menatap pria yang sedari tadi terabaikan oleh matanya.


“Kamu siapa?” tanya dokter Yunita.


“Tidak penting siapa saya, yang pasti nya saya ada di sini untuk Honey. Soal pengobatan ibu nya biar saya yang tangani,” ucap Keanu angkuh.


“Dok, maaf dia teman saya di kantor. Orang nya agak,” Honey menggiring dokter Yunita hingga ke pintu IGD. Ia mengalihkan perhatian dokter Yunita agar tidak bertanya lebih jauh soal Keanu.


.


.


.


To be continued ⬇️

__ADS_1


__ADS_2