Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
045-Berharap


__ADS_3

Mendengar pengakuan Keanu, Honey tercengang, heran seakan tak percaya. Apakah ucapan nya itu adalah benar? Saat wajah pria itu berada persis di depan wajahnya, Honey mencoba menatap nya mencari ketulusan dari ucapan pria itu.


Dia terlihat serius, wajah nya seperti sedang mengemis cinta ku. Terasa seperti sedang bermimpi, aku harus bangun dari mimpi ku.


Seketika jemari Keanu mengelus wajah Honey. Honey tertegun masih menatap wajah Keanu.


“Aku ingin calon mertuaku sembuh, jika aku bisa membawanya ke luar angkasa sekalipun asal kan dia bisa sembuh, aku pasti akan membawanya. Percayalah padaku, itu bukan suatu niat jahat.” ucap Keanu lembut.


“Uhuk uhuk.”


Mertua?


Deg


Deg


Deg


Jantung Honey berdegup kencang. Wajahnya memerah, ia kepanasan hingga hampir tak bisa bernafas. Saat itu juga Honey langsung berlari meninggalkan Keanu menuruni anak tangga. Satu persatu anak tangga ia telusuri hingga berada di anak tangga paling akhir.


Honey terus berlari keluar menuju jalanan di mana mobil ramai lalu lalang. Kemudian pergi berlalu dengan sebuah bus arah rumah sakit Pelita harapan.


Sepanjang perjalanan honey masih terus memikirkan semua ucapan Keanu. Ia terus berusaha mengusir bayangan pria itu serta semua kata kata yang di ucapkan nya.


Hingga ia tiba di rumah sakit, dimana ibunya di rawat.


Honey duduk termenung di sebuah bangku taman dekat bangunan ICU.


Ayah, kakak, apa yang harus Honey lakukan sekarang? Honey butuh seseorang yang bisa Honey ajak tukar pikiran.


Dari jauh terlihat Raniya, Marwah, Rita, Aluna dan Rian sedang berjalan menghampiri Honey. Honey menyambut mereka dengan senyuman gembira, di saat seperti ini, tanpa sadar ada kelima rekannya itu yang datang menyemangatinya.


“Honey,” sapa mereka gembira.


“Kak Honey,” ucap Aluna seraya menyerahkan satu kantong plastik berisi makanan yang baru saja mereka beli di mini market dekat Rumah sakit.


“Apa ini?” tanya Honey.


“Cemilan untuk kamu, biar kamu betah menjaga ibu kamu,” ujar Marwah.


“Makasih kak, makasih manteman,” ucap Honey, mata nya berpendar menatap satu persatu teman temannya itu.


“Gimana kabar ibu kamu?” tanya Raniya.


“Ibu masih di ruang ICU. Tidak ada perubahan dengan penyakitnya. Malah semakin memburuk,” ucap Honey menampakkan kesedihan pada wajahnya.


“Jadi apa rencana kamu sekarang?” tanya Marwah.


“Sekarang Honey masih belum ada rencana kak. Honey hanya mengikuti arahan para dokter. Jika emang harus di bawa ke luar negri, Honey harus terima,” ujar Honey.

__ADS_1


“Luar negri?” tanya Rita sedikit kaget.


“Gimana dengan biaya nya?” tanya Raniya.


“Entah lah, masih belum jelas. Jika sudah jelas honey akan cerita ke kalian. Honey masih bingung harus mengucapkan ini hutang atau donasi…” jelas Honey.


“Jadi sudah ada donasi untuk pengobatan ibu kamu?” tanya Marwah.


“Honey belum jelas kak, seandainya honey harus mengganti biaya yang di berikan untuk pengobatan ibu. Mungkin Honey harus bekerja seumur hidup hanya untuk membayar hutang itu,” ujar Honey lagi.


Raniya mengangguk, “semoga pendonasi itu berbaik hati dan semoga Allah meringankan beban kamu Hon,” ucap Raniya.


“Aamiin, makasih kak,” jawab Honey.


Rita kemudian memberikan kantong berisi salad yang di ambilnya dari kantin perusahan.


“Apa ini kak?” tanya Honey.


“Salad buah yang kakak ambil tadi di kantin. Rasanya lumayan enak, jadi kakak bungkus buat kamu,” ujar Rita.


Melihat fresh salad di dalam kotak bekal cantik itu, Honey langsung membuka kemasan kotak itu kemudian mulai mengunyah satu persatu potongan buah tersebut.


“Kalian mau?” tawar Honey.


“Kakak makan aja kami kenyang,” ucap Aluna.


Setelah bercengkrama lumayan lama, Honey baru sadar ada Rian yang sedang duduk di paling ujung di beton dekat taman bunga assoka.


“Nggak tau, sejak beberapa hari lalu kerjaannya menatap HP mulu. Saat lagi nggak ada kerjaan, seperti itulah gaya nya,” ucap Raniya.


“Dia ngapain?” tanya Honey.


“Kayaknya chating ama pacarnya,” ucap Marwah.


“Pacar? Cewe apa cowo?” tanya Honey lagi.


“Nggak tau kak, akhir akhir ini sikap kak Rian berubah,” ucap Aluna.


“Lagi puber kali Hon, nggak usah di pikirkan,” ujar Raniya.


“Hon, kami bisa masuk lihat ibu?” tanya Marwah.


“Nggak bisa masuk kak selain keluarga. Honey aja masuknya hanya di batasi 5 menit. Itu pun pagi sekali dan sore sekali. Di dalam lagi banyak pasien. Takut mengganggu pasien lainnya,” jelas Honey.


“Oh ya sudah, kita di sini temani kamu aja deh,” ucap Marwah.


Honey di temani kelima temannya itu hingga malam hari. Mereka baru meninggalkan rumah sakit sekitar pukul sepuluh malam.


Sepeninggal teman temannya, Honey membuka satu persatu amplop yang di tinggal kan mereka. Lima amplop berada di tangannya dengan nominal masing masing 1 juta rupiah.

__ADS_1


Rasa haru yang tiada terkira. Di saat tersulit dalam hidup Honey, ia memilik teman teman sebaik mereka. Mereka selalu ada di saat Honey butuh, tanpa mengenal imbalan dan balas budi.


Menjelang tengah malam, Honey langsung menggelar tikar tipis di atas lantai di ruang yang di siap kan untuk penjaga pasien ICU. Beberapa orang ibu sudah tertidur, ruangan menjadi sangat tenang. Suara ngorok beberapa pria di ujung ruangan terdengar hingga ke tempat para wanita tidur.


Honey bolak balik mencari posis yang enak agar bisa dibawa tidur. Lantai itu terlalu dingin untuknya yang hanya mengenakan kaos dan celana jins biru.


Honey bangun ke posisi duduk menatap jas hitam yang di letakkan di samping tikar. Ia langsung mengenakan jaket tersebut. Untuk mengurangi dinginnya lantai, Honey harus mengenakan jas tersebut. Jas berbahan tebal namun lembut, di sertai aroma lembut maskulin. Membuat Honey kembali teringat akan sosok Keanu.


Pria yang siang tadi mengutarakan cinta padanya. Pria tampan dan kaya raya seperti dalam cerita dongeng menghampiri kehidupan Honey. Tapi sayang Cinderella hanya ada dalam buku cerita anak. Jangan pernah bermimpi menjadi Cinderella, karena saat kamu bangun kamu harus menghadapi betapa pahit dan keras nya kehidupan yang harus di jalani.


Honey terus menerus memikirkan Keanu, sudah sejam sejak matanya terpejam. Namun pikiran nya menerawang membayangkan Keanu, si tampan yang di idolakan seluruh wanita. Si kaya-raya yang di incar setiap perempuan cantik di negri ini.


Hingga akhirnya Honey tertidur setelah jam menunjuk kan pukul 03 dini hari.


Pukul sembilan pagi itu…


Dokter Rasya sudah duduk persis di samping Honey. Ia sedang bermain main dengan pipi Honey.


“Woy, bangun woy,” ucap nya sambil menujuk nunjuk pipi Honey dengan jari telunjuknya.


“Ya ampun, kamu ngapain aja semalam, Honey kanapa tidur kayak kebo gitu?” ujar dokter Rasya terus mengganggu Honey.


Setelah beberapa saat terganggu, Honey akhirnya bangun. Ia duduk masih dengan mata terpejam.


“Jam berapa sekarang dok?” tanya Honey.


“Jam sembilan,” sahut dokter Rasya.


“Honey masih ngantuk mau tidur lagi,” ucap Honey.


“Kamu pasti abis begadang semalam kan?” tanya Rasya.


“He em, Honey ngantuk dok, maaf,” sebelum kembali berbaring Honey mencari sekeliling ruangan sosok Randi atau pun Keanu.


Dia nggak datang. Apa dia marah karena aku kasarin kemarin. Atau dia sekarang jera terhadapku. Cih, baru menyatakan perasaan, sekarang sudah ngecewain malah ga muncul.


“Ya sudah kamu tidur gih, itu bekal makan mu di kotak di atas kepala,” ucap Rasya seraya berdiri.


Honey membuka mata nya, “dari siapa dok?” tanya Honey.


“Saya beli di kantin rumah sakit. Bye honey,” ujar dokter Rasya kemudian pergi dari situ.


Apa sekarang aku sedang berharap di kirimkan bekal sarapan dari nya? Aku terlalu berharap lebih, kemudian saat kecewa melanda, maka aku sendiri yang akan menderita. Lupakan lupakan Keanu dan segala ucapannya.


Honey kembali berbaring kemudian menutup matanya. Ia kembali tertidur lelap.


.


.

__ADS_1


.


To be continued ⬇️


__ADS_2