Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
030-Penyakit Ibu


__ADS_3

Di luar ruang MRI, Honey tengah duduk termenung. Sesekali matanya menatap ke arah sepatu yang setiap hari setia menemaninya.


Ayah…


Kakak…


Setelah kalian tiada, hidupku jadi semakin berat. Sedikit memori kebahagiaan bersama kalian yang membuatku kuat. Sekarang semua memori indah itu mulai pudar. Kini aku merasa hampir tak mampu, seperti sedang bertahan sendirian menjalani hidup ini.


Setelah menunggu sekitar 1 jam, suara pintu dari ruangan MRI terdengar terbuka. Honey langsung menoleh kepalanya, ia berdiri menyambut dokter Yunita bersama seorang rekan dokter keluar dari ruangan itu.


“Dok,” ucapnya.


“Honey, kita ke ruangan dokter Rasya terlebih dahulu, kita ngobrol disana yuk,” ajak dokter Yunita.


Tanpa basa basi Honey langsung mengikuti langkah kaki dokter Rasya dan dokter Yunita. Dokter Rasya adalah kepala ruangan MRI dan CT Scan, jadi dia sudah termasuk ahli dalam hal tersebut.


Di ujung lorong rumah sakit lantai 3, dokter Rasya dan dokter Yunita memasuki sebuah pintu bertuliskan Ruangan Dokter.


“Masuk Hon,” ucap dokter Yunita lagi.


Honey hanya bisa mengikuti apa yang di aba abakan dokter dokter itu kepadanya.


“Duduk tan, Honey duduk,” pinta dokter Rasya.


“Tante mau minum apa?” tanya dokter pria itu.


“Apa aja, yang hangat hangat boleh,” ucap dokter Yunita.


“Kamu Hon?” tanya dokter Rasya akrab. Padahal Honey belum pernah berkenalan dengan pria itu.


“Sama dengan dokter Yunita aja,” sahut Honey.


Rasya berjalan menuju dispenser. Satu sachet minuman hangat di tuangnya ke dalam gelas.


Seketika aroma jahe menyeruak di ruangan itu.


“Harum gak tan?” tanya Rasya akrab. Ia menyerah kan satu gelas ke hadapan dokter Yunita.


“Aroma jahe kan?” tebak dokter Yunita.


“Iya, produk terbaru jahe mocca, herbal tan jadi aman,” ucap nya.


Rasya kembali ke dispenser menyeduh satu sachet lagi untuk Honey.


“Nih milik kamu, teh jahe,” ucap Rasya. Ia kemudian duduk tak jauh dari kursi Honey.


“Gimana ibu saya dok?” Pertanyaan yang sedari tadi terus di simpan dalam kepalanya. Tak sabar dan rasa penasaran terus membuatnya tak fokus dengan perbincangan kedua dokter itu.


“Hmm, biar tante yang jelaskan Sya,” Yunita memberi kode pada Rasya.


“Honey, oh ya. Saya perkenalkan terlebih dahulu. Ini adalah dokter Rasya. Kebetulan dokter Rasya ini adalah keponakan saya. Dia juga adalah kepala ruangan MRI/CT Scan di rumah sakit ini. Jadi soal apa pun yang berhubungan dengan MRI dia adalah ahlinya,” jelas dokter Yunita.


“Halo dok,” sapa Honey.

__ADS_1


Ternyata keponakan dokter Yunita, pantesan mereka berbincang sangat akrab.


“Honey, dokter Rasya berusia 30 tahun. Ia masih single jadi kamu nggak perlu canggung. Anggap aja dokter Rasya seperti teman kamu,” ulang dokter Yunita.


“Iya,” Honey menatap dokter Rasya yang tengah tersenyum simpul akibat kelakuan tantenya.


“Dan soal ibu kamu, hasil Scan nya barusan.” Dokter Yunita terdiam memikirkan kalimat yang tepat untuk Honey.


“Kenapa dengan ibu dok?” tanya Honey penasaran.


“Ada gumpalan di bagian serebrum otak bagian kiri ibumu, gumpalan kecil itu hampir mendekati batang otak,” jelas dokter Yunita.


Kemudian Rasya menyodorkan tablet nya kepada Honey. Ia menunjuk kan letak tumor yang di ambil dari hasil MRI berupa video empat dimensi. Jadi terlihat jelas tanpa perlu penjelasan lebih dari kedua dokter itu lagi.


“Tumor nya ini,” ucap dokter Rasya sambil menujuk latar tablet.


“Tumor?” Ucapan tumor membuat Honey terhentak. Beda dengan penjelasan dokter Yunita, kata gumpalan hanya lah istilah halus yang di gunakan dokter Yunita.


“Tumor? Berarti harus di operasi kan dok?” tanya Honey kepada Rasya.


“Kita akan tinjau kembali, seberapa ganas dan seberapa cepat pertumbuhan tumor tersebut. Seberapa besar peluang untuk melakukan operasi,” jelas Rasya.


Dokter Yunita membuang nafas nya greget, betapa keponakannya itu terlalu to the point. Ia berharap, Rasya tak sejelas itu terhadap Honey. Dokter Yunita bersandar di kursinya sambil memikirkan sebuah cara. Namun suara isak sudah terdengar, Honey mulai menangis.


“Tumor, bukan kah itu penyakit yang parah dok. Bagaimana ibu saya bisa menderita penyakit itu? Dan letaknya di otak, peluang operasi? Apa tidak bisa di operasi dok?” tanya Honey cemas. Air matanya keluar begitu saja,ia berharap penjelasan lebih jelas dari dokter Rasya.


“Kamu tenang dulu,” ucap dokter Rasya.


“Bukan kah biaya operasi itu besar, di mana Honey bisa mendapatkan biaya operasi ibu. Bagaimana pun ibu harus sembuh,” gumam Honey di tengah isak tangis nya.


“Dok kapan akan di lakukan operasi?” tanya Honey lagi. Ia terlihat begitu khawatir dan cemas akan keadaan ibunya.


“Honey, dengerin dokter dulu,” Dokter Yunita menyentuh punggung Honey agar menatap ke arah nya. “Kesimpulan sementara masih seperti itu, dua minggu dari sekarang kita akan ke sini lagi, memantau tumor nya apakah membesar atau tidak. Apakah bisa di operasi secepatnya atau tidak. Sementara ini dokter Rasya akan diskusi dengan para ahli saraf mengenai letak tumor dan keadaan ibu mu. Sekarang yang kamu lakukan adalah tetap kuat dan berdoa semoga ibumu bisa sembuh. Ok?” ucap dokter Yunita sambil mengusap air mata dari wajah Honey.


Honey menangis menatap wajah dokter Yunita. Dan selalu saja dokter itu berhasil menenangkannya. “Ia dok,” jawab Honey lemah.


Dokter Yunita kemudian memeluk Honey. “Ada saya yang selalu disisi kamu, dan juga sekarang ada dokter Rasya. Saya akan memaksanya agar mengatasi masalah ibu kamu dengan baik,” ucap nya lagi.


“Sudah sekarang kamu tenang dulu. Kita akan membawa ibu kamu kembali ke utara. Dua minggu lagi kita akan ke sini. Setelah itu baru kita tau hasilnya seperti apa dan akan mengambil tindakan apa,” ujar dokter Yunita lagi.


Honey mengangguk. Bahkan Honey mulai membenahi air mata yang masih menempel di pipinya. Ia kemudian berbalik menatap dokter Rasya.


“Dokter, tolong ibu saya, hanya dokter yang saat ini bisa membantu ibu… ” ucapan nya setengah memohon. Wajahnya sangat polos, matanya memancarkan binar ketulusan. Dibalik wajah sedihnya, Honey sedang berusaha tegar.


Gadis yang sangat baik. Dia juga sangat cantik dibalik wajah polos nya. Tanpa satupun riasan menempel disana, dia sudah terlihat sangat cantik. Sangat sempurna. batin Rasya.


Dokter Rasya terus menatap ke dalam mata honey. Seolah ia sedang terhipnotis, tatapan nya tak bisa lepas dari wajah itu. Bibir honey terlihat sexy, kulit nya putih bersih, mata nya bening dengan binar yang begitu indah.


“Rasya, kamu dengar kan? Malah melamun,” ucap dokter Yunita tiba tiba.


“I iya, akan saya bantu.” Jantung nya terasa berdetak cepat.


Deg

__ADS_1


Deg


Deg


“Honey, saya akan melakukan yang terbaik,” lanjut Rasya.


“Honey kamu dengarkan? Dokter Rasya akan memantau penyakit ibu. Jadi kamu bisa tenang sekarang,” ucap dokter Yunita.


“Terimakasih dok,” lagi lagi honey memeluk dokter Yunita. Mereka terlihat sudah seperti ibu dan anak.


“Dan jangan lupa, kamu harus membawakan dokter Rasya kue buatan kamu biar dia semangat. Ok?” ucap dokter Yunita.


“Baik dok,” ucap honey senang. Ia mulai bisa tersenyum. Untung saja ada dokter Rasya, ia bisa sedikit lega sekarang.


“Sekarang kita harus membawa ibu kembali ke rumah sakit. Sudah hampir jam dua. Kalau di tunda lagi kita bisa kemalaman di jalan,” ucap dokter Yunita.


“Jadi honey kembali ke rumah sakit temani ibu dok?” tanya Honey.


“Nggak usah, kamu ke sana tiga jam, dan kamu harus kembali lagi ke sini butuh waktu tiga jam.”


“Baiklah dok,” ucap honey dengan senyuman.


“Sudah saya instruksi kan ke bagian ambulans untuk membawa bu Karmila kembali ke rumah sakit tante. Tante bisa menunggu di bawah,” ucap Rasya.


“Ya sudah sya kami pamit dulu,” ucap dokter Yunita.


“Terimakasih dok,” ucap Honey sambil memberi hormat dengan menundukkan badannya.


“Ah, iya saya akan mengantar ke bawah,” Rasya membalas senyuman Honey.


Di parkiran basement rumah sakit, bu Karmila sudah siap di dalam mobil ambulance. Sedangkan dokter Yunita sudah siap di balik kemudi sedan hitam miliknya.


“Honey, jangan lupa bawakan Rasya kue buatan mu. Biar dia semangat bekerja,” ucap dokter Yunita.


“Baik dok,” jawab Honey.


“Bay,” ucap dokter Yunita pamit.


“Hati hari di jalan dok,” seru Honey saat mobil dokter Yunita sudah meluncur di belakang mobil ambulance.


“Dokter Rasya Terimakasih,” ucap Honey.


“Kamu akan pulang naik apa?” tanya nya.


“Bus. Di depan rumah sakit juga banyak angkutan umum. Kalau begitu Honey permisi dok,” ucap nya sambil kembali menunduk kan badannya.


“Hati ha ti di jalan,” ucapan dokter Rasya sepertinya tidak di dengar Honey. Ia sudah berlari keluar menuju pintu keluar basement.


“Dan aghhh. Aku lupa meminta nomor ponselnya…” gumam Rasya sembari memukul jidatnya pelan.


.


.

__ADS_1


.


To be continued ⬇️


__ADS_2